Perjalanan neraka kenikmatan Bab 2
Aku mencoba menahan gejolak di dada sambil memandang lurus ke jalan tol yang gelap. Rafi masih tidur pulas di pangkuanku, napasnya yang pelan menjadi satu-satunya hal yang menjaga aku tetap waras. Di belakang, lewat kaca spion tengah yang sedikit miring, aku bisa melihat bayangan yang membuat darahku mendidih dan anehnya, membuat kontolku tegang tanpa bisa dicegah.
Hani masih duduk di pangkuan Joko. Rok kremnya sudah naik hingga pinggang, kain tipis itu kusut dan basah di bagian bawah. Baju putih ketatnya agak terangkat, memperlihatkan kulit perut rata dan bra hitam yang menahan payudara montoknya. Joko, si kenek bertubuh kekar itu, duduk santai tapi tangannya sudah lebih berani. Meski gerakannya pelan dan hati-hati, aku melihat jari-jarinya menyusup pelan di antara paha Hani dari belakang.
"Di... kamu nggak capek pangku Rafi terus?" tanya Hani tiba-tiba, suaranya sedikit bergetar. Aku sengaja menoleh ke belakang, pura-pura ingin melihat keadaannya. Mataku langsung bertemu dengan mata Hani yang setengah terpejam. Wajahnya merah, bibirnya basah.
"Aku baik-baik saja. Kamu gimana? Nyaman?" tanyaku dengan nada biasa, tapi mataku melirik tajam ke arah Joko. Aku ingin dia berhenti.
Joko tersenyum tipis di balik kegelapan, tangannya berhenti sesaat di paha Hani. "Iya Pak, Bu Hani ini pemberani. Duduk di pangkuan begini biar nggak sempit."
Hani menggeliat pelan, mencoba menurunkan roknya sedikit. "Mas Joko... cukup ya. Aku sudah nyaman kok di sini," bisiknya pelan, ada nada menolak dalam suaranya. Tapi tubuhnya tidak bergerak menjauh. Pinggulnya masih menempel rapat di pangkuan pria itu.
Aku mengangguk dan berusaha mengajak ngobrol. "Han, ingat waktu kita mudik pertama dulu? Rafi masih bayi, kamu nangis karena kangen kampung." Aku sengaja memperpanjang obrolan, berharap gangguan ini membuat Joko mundur.
Tapi Joko lebih licik dari yang kukira. Dia tetap diam-diam. Tangannya bergerak sangat pelan, hampir tak terlihat dari depan. Aku melihat di spion bagaimana jari telunjuknya menyelinap masuk ke balik celana dalam hitam Hani, mengusap klitoris istriku dengan gerakan melingkar yang halus. Hani menggigit bibir bawahnya kuat, tangannya mencengkeram sandaran kursi di depanku.
"Iya Di... aku ingat," jawab Hani terengah. Suaranya agak parau. "Sekarang... ah... Rafi sudah besar."
Tubuh Hani menegang sesaat, pinggulnya bergoyang kecil sekali, hampir tak kentara. Dia mencoba menolak, tangan kirinya sempat menepis tangan Joko pelan. "Jangan... Mas," bisiknya sangat pelan, hanya aku yang tak mendengar jelas dari depan. Tapi Joko tak berhenti. Malah, dia menarik pinggang Hani lebih rapat, membuat kontolnya yang sudah keras menekan kuat di celah pantat istriku lewat celana.
Aku menoleh lagi, kali ini lebih lama. "Kamu kedinginan nggak? AC-nya dingin."
Hani menggeleng cepat, wajahnya semakin merah. "Nggak Di... malah hangat." Saat itu Joko memasukkan satu jari sepenuhnya ke dalam vagina Hani. Aku melihat istriku menahan desahan dengan menekan mulut ke bahu sendiri. Matanya berkaca-kaca, campuran malu dan kenikmatan yang mulai menguasai.
Perjalanan terus berlanjut. Jalan semakin sepi, hanya sesekali ada lampu kendaraan lewat. Supir fokus menyetir, seolah tak peduli apa yang terjadi di belakang. Aku terus mencoba mengganggu dengan obrolan. "Han, besok Natal di rumah orang tua, kita masak apa ya? Kamu masak opor ayam kesukaan Rafi?"
Hani berusaha menjawab normal. "Iya Di... opor... ahh... dan rendang." Suaranya terputus-putus. Di spion, aku melihat Joko sudah menurunkan resleting celananya diam-diam. Kontolnya yang besar dan gelap sudah terbebas, menekan langsung ke bibir vagina Hani dari belakang. Hani mencoba menggeser pinggulnya ke depan, menolak. "Mas Joko... jangan di sini. Rafi ada di depan," bisiknya panik tapi suaranya lemah.
Joko hanya mendekatkan mulutnya ke telinga Hani. "Tenang Bu, pelan-pelan aja. Pak Adi nggak lihat kok." Dia mendorong pinggulnya naik sedikit, dan ujung kontolnya masuk pelan ke dalam Hani.
Aku melihat semuanya. Hani menutup mulut dengan tangan, matanya melebar lalu terpejam. Tubuhnya gemetar. Dia pasrah perlahan. Awalnya pinggulnya kaku, mencoba menahan, tapi setiap getaran mobil membuat kontol Joko masuk lebih dalam. Lama-lama, Hani mulai menggerakkan pinggulnya sendiri, pelan dan ritmis, menggesek maju mundur di pangkuan kenek itu.
"Di... kamu... ngantuk nggak?" tanyaku lagi, sengaja menengok ke belakang sambil memutar tubuh sedikit. Aku ingin melihat langsung. Hani cepat-cepat menurunkan roknya sebisa mungkin, tapi terlambat. Aku sempat melihat kontol Joko setengah terkubur di dalam vagina istriku, cairan bening menetes di paha Hani.
"Iya Di, aku baik-baik saja. Kamu fokus jalan aja," jawab Hani dengan suara yang sudah benar-benar terengah. Wajahnya penuh dosa, tapi matanya penuh gairah.
Mereka semakin berhati-hati setelah itu. Setiap kali aku menoleh atau mengajak bicara, Joko berhenti gerakannya sejenak, hanya menyisakan kontolnya di dalam tanpa dorongan. Tapi begitu aku menghadap depan lagi, Joko langsung melanjutkan. Dorongannya semakin dalam, pelan tapi kuat. Aku mendengar suara basah kecil "plok... plok" yang tertutup oleh suara mesin mobil.
Hani sudah pasrah total. Tubuhnya bersandar lemas ke dada Joko. Tangannya kini memegang paha Joko untuk keseimbangan, bukan menolak lagi. Payudaranya diremas pelan dari belakang oleh tangan kiri Joko, baju putihnya sudah basah keringat dan hampir transparan. Putingnya yang keras menonjol jelas. Joko sesekali mencium leher Hani diam-diam, menggigit pelan cuping telinganya.
"Ahh... pelan Mas..." desah Hani sangat pelan. Aku pura-pura tidak dengar, tapi telingaku tajam.
Aku merasa seperti terjebak dalam mimpi buruk yang erotis. Cemburu membakar, tapi kontolku sudah basah di ujung karena melihat istriku yang biasanya malu-malu kini sedang dikencani pria lain tepat di belakangku. Hani mencapai orgasme pertama saat itu. Tubuhnya mengejang hebat, pinggulnya bergetar kuat di pangkuan Joko. Dia menekan wajah ke bahu Joko untuk menahan jeritan.
Joko tak berhenti. Dia terus mengaduk dari bawah, tangannya kini meremas kedua payudara Hani sekaligus. Rok krem Hani sudah benar-benar naik, celana dalamnya tersingkap ke samping. Aku bisa melihat kontol Joko keluar masuk dengan ritme stabil, licin oleh cairan Hani.
"Mas Joko... cukup... aku nggak tahan," bisik Hani lagi, tapi suaranya justru seperti memohon lebih.
Joko tertawa pelan. "Bu Hani enak banget. Istri Pak Adi ternyata liar juga." Dia mempercepat sedikit, tapi tetap diam-diam. Setiap kali aku menengok, mereka berhenti seperti patung, Hani pura-pura mengatur roknya.
Malam semakin larut. Sekitar pukul 10, kami melewati rest area. Aku bilang ingin berhenti buang air kecil, berharap bisa memisahkan mereka. Tapi supir bilang masih jauh, dan Rafi masih tidur. "Nanti aja Pak, biar cepat sampai."
Di belakang, Joko memanfaatkan waktu itu. Dia mengangkat pinggul Hani sedikit lebih tinggi dan mendorong kontolnya sekuat mungkin. Hani menggigit tangannya sendiri. Aku melihat lewat spion bagaimana vagina Hani mengejang menggigit kontol Joko, cairan squirt kecil membasahi jok.
Hani sudah sepenuhnya menyerah. Dia kini aktif, menggerakkan pinggulnya maju mundur dengan lembut setiap kali merasa aman. Payudaranya yang indah bergoyang pelan di balik baju putih. Joko sesekali menjepit putingnya, membuat Hani mendesah tertahan.
Aku terus mengajak ngobrol, "Han, besok kita ke gereja dulu ya?"
"Iya Di... gereja..." jawabnya sambil menahan erangan saat Joko menyemburkan sperma pertamanya ke dalam rahim istriku. Tubuh Hani gemetar hebat, orgasme keduanya datang bersamaan. Cairan putih kental menetes keluar dari celah mereka, membasahi rok krem yang kini kotor.
Mereka berhenti sejenak, bernapas berat. Tapi tak lama kemudian, Joko kembali mengeras di dalam. Hani hanya pasrah, kepalanya bersandar ke belakang, membiarkan kenek itu menikmati tubuhnya lagi.
Aku merasa hancur sekaligus terangsang luar biasa. Perjalanan masih panjang menuju kampung. Malam ini, Hani bukan hanya milikku lagi. Dan yang paling membuatku gila, aku tak bisa berhenti menonton lewat spion itu.
Komentar
Posting Komentar