Cadar Basah di Kebun Nafsu Bab 6
**Bab 6: Bisikan di Balik Bambu yang Retak** Beberapa hari setelah request-request liar itu mulai memenuhi komentar video, aku, Rizal, merasa seperti sedang hidup di dua dunia yang saling bertabrakan. Kampung yang dulu tenang ini kini penuh bayang-bayang nafsu, dan Nia, istri sholehahku yang berusia 28 tahun, masih berusaha teguh di tengahnya. Cadarnya yang stylish—kali ini warna lavender lembut dengan bordir halus perak—selalu terpasang rapi saat keluar rumah, gamis panjangnya menutupi segala pesona tubuh yang hanya aku yang seharusnya tahu. Tapi di balik bilik bambu kamar mandi belakang, sesuatu mulai bergeser. Diam-diam, tanpa katanya padaku, Nia mulai menjalankan request para penonton itu. Aku menyadarinya dari pola mandi yang berubah. Pagi itu, setelah sholat Subuh, Nia bilang dia akan mandi siang karena gerah. Aku pura-pura pergi ke sawah sebentar, tapi sebenarnya kembali diam-diam ke posisi mengintip di balik tumpukan kayu bakar. Suara gayung sudah terdengar, bercampur gemericik...