Aisyah guru ngaji yang diintip Bab 10
Aisyah keluar dari kamar mandi dengan langkah pelan, handuk tipis hanya melilit pinggangnya hingga pertengahan paha, membiarkan payudaranya yang masih basah terbuka bebas di udara malam yang dingin. Rambutnya menetes-netes, meninggalkan jejak air kecil di lantai tanah. Ia tak langsung masuk ke rumah. Ia berhenti di beranda belakang, tepat di bawah sinar bulan yang lebih terang, seolah masih ingin merasakan angin malam menyapu kulitnya yang baru saja “dipuja” oleh tatapan panas dari balik pagar. Napasnya masih belum teratur. Dadanya naik-turun cepat, putingnya masih tegang keras, dan di antara pahanya terasa lengket—campuran air mandi dan cairan hasratnya sendiri yang tak henti mengalir sejak tadi. Ia tahu persis apa yang baru saja terjadi pada keempat remaja itu. Ia mendengar desahan-desahan mereka, erangan kecil yang tak lagi disembunyikan, bahkan suara kain bergesek cepat dan langkah kaki yang goyah saat mereka mencapai puncak satu per satu. Dan fakta bahwa ia—dengan sengaja—menjadi ...