Menggoda remaja culun Bab 2
**Bab 2: Api yang Tak Terbendung** Hujan masih deras mengguyur kompleks perumahan saat malam berganti pagi. Wika terbangun dengan tubuh yang masih panas, sisa-sisa kenikmatan malam sebelumnya masih menempel di antara pahanya. Dia bangkit dari ranjang, cadarnya tergeletak di samping bantal. Wajahnya yang cantik terlihat lelah tapi berbinar — ada rasa bersalah yang samar, tapi lebih kuat adalah gelora yang sudah lama tidak dia rasakan. Pak Hadi menelepon pagi itu, mengatakan urusannya di Bandung molor jadi lima hari lagi. “Kamu baik-baik di rumah ya, Sayang. Jaga diri,” katanya dengan suara lelah. “Iya, Mas. Hati-hati,” jawab Wika lembut, tapi di dalam hatinya ada desiran aneh. Lima hari. Waktu yang cukup panjang. Dia mandi dengan air hangat, membiarkan air mengalir menyusuri lekuk tubuhnya yang masih kencang. Payudaranya yang montok, pinggulnya yang lebar, dan kulit putih mulusnya yang jarang terlihat orang lain. Saat mengeringkan tubuh, dia berdiri di depan cermin. Tangannya menyentuh ...