Postingan

Menampilkan postingan dengan label ustadzah

Aisyah guru ngaji yang diintip Bab 10

Aisyah keluar dari kamar mandi dengan langkah pelan, handuk tipis hanya melilit pinggangnya hingga pertengahan paha, membiarkan payudaranya yang masih basah terbuka bebas di udara malam yang dingin. Rambutnya menetes-netes, meninggalkan jejak air kecil di lantai tanah. Ia tak langsung masuk ke rumah. Ia berhenti di beranda belakang, tepat di bawah sinar bulan yang lebih terang, seolah masih ingin merasakan angin malam menyapu kulitnya yang baru saja “dipuja” oleh tatapan panas dari balik pagar. Napasnya masih belum teratur. Dadanya naik-turun cepat, putingnya masih tegang keras, dan di antara pahanya terasa lengket—campuran air mandi dan cairan hasratnya sendiri yang tak henti mengalir sejak tadi. Ia tahu persis apa yang baru saja terjadi pada keempat remaja itu. Ia mendengar desahan-desahan mereka, erangan kecil yang tak lagi disembunyikan, bahkan suara kain bergesek cepat dan langkah kaki yang goyah saat mereka mencapai puncak satu per satu. Dan fakta bahwa ia—dengan sengaja—menjadi ...

Aisyah guru ngaji yang diintip Bab 9

Setelah anak-anak kecil pulang dan lampu teras dimatikan satu per satu, Aisyah kembali masuk ke rumah. Pintu ditutup pelan, terkunci rapat. Rumah sunyi kembali; hanya suara detik jam dinding dan dengkur halus Pak Haris dari kamar sebelah yang terdengar samar. Ia berdiri di tengah ruang tamu yang masih tercium bau wewangian anak-anak pengajian, mukena putih masih melilit tubuhnya. Tapi mukena itu kini terasa terlalu panas, terlalu ketat. Ia melepas hijabnya perlahan, membiarkan rambut panjangnya terurai bebas. Napasnya masih belum tenang sejak bisikan Rian tadi di pintu. “Malam ini… mandinya jam berapa lagi, Bu Guru?” Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya seperti mantra terlarang. Suara Rian yang serak, mata keempatnya yang tak lagi menyembunyikan hasrat, tatapan mereka sepanjang pengajian yang seperti menyentuh kulitnya meski ada lapisan kain tebal di antaranya. Aisyah duduk di kursi kayu kecil di sudut ruangan, tangannya memegang dada yang naik turun cepat. Di antara pahanya, ia m...

Aisyah guru ngaji yang diintip Bab 8

Malam itu, kelas pengajian rutin di rumah Aisyah berlangsung seperti biasa—setidaknya di permukaan. Anak-anak kecil duduk rapi di depan, sementara para remaja laki-laki—termasuk Rian, Dika, Bayu, dan Faro—duduk di baris belakang seperti lazimnya. Lampu neon kecil menerangi ruang tamu sederhana, Al-Qur’an terbuka di pangkuan masing-masing, dan suara Aisyah yang lembut mengaji ayat-ayat tentang menjaga pandangan dan aurat. “…wa qul lil mu’minaati yaghdludlna min abshaarihinna wa yahfadhna furuujahunna…”   Aisyah membaca dengan suara tenang, seperti selalu. Tapi malam ini, suaranya terdengar sedikit lebih pelan, sedikit lebih serak di ujung-ujung kalimat. Ia mengenakan mukena putih panjang dan hijab lebar yang menutupi dada dengan rapat—seperti biasa. Tak ada yang aneh dari penampilannya. Tapi bagi empat remaja di belakang, setiap gerakan kecil Aisyah terasa berbeda. Rian duduk dengan tangan mengepal di pangkuan, matanya tak bisa lepas dari wajah Aisyah. Ia ingat betul bagaimana ...

Aisyah guru ngaji yang diintip Bab 7

Keesokan harinya, matahari baru saja naik ketika empat remaja itu sudah berkumpul di warung kopi kecil di pinggir kampung, jauh dari rumah masing-masing. Mereka datang lebih awal, bahkan sebelum warung benar-benar buka, hanya untuk bisa bicara tanpa ada orang lain mendengar. Rian duduk paling depan, tangan memegang gelas kopi hitam yang belum disentuh. Matanya merah, jelas kurang tidur. “Gue sampe pagi ga bisa tidur, bro,” katanya pelan, suaranya serak. “Tiap nutup mata, yang keliatan cuma Bu Aisyah… telanjang… muter badan ke arah kita… gila.” Dika tertawa kecil, tapi tawanya gugup. Ia menggosok-gosok lehernya sendiri. “Gue juga. Sampe tiga kali… eh… ‘ngeluarin’ semalem. Bayangin aja pantatnya yang bulat itu, air ngalir di tengah-tengahnya… astaga. Dia tahu kita ngintip, tapi malah sengaja bikin posisi lebih jelas. Itu artinya apa, bro?” Bayu, yang biasanya paling pendiam, kini justru paling gelisah. Ia memainkan ponsel di tangannya, tapi layar mati. “Gue ga berani rekam kemaren takut ...

Aisyah guru ngaji yang diintip Bab 6

Aisyah menutup pintu kamar tidur pelan-pelan, takut membangunkan Pak Haris yang sudah mendengkur pelan di sampingnya. Malam sudah semakin larut, rumah sunyi, hanya suara jangkrik dari luar yang samar-samar terdengar. Ia berbaring di ranjang, handuk tipis yang tadi membungkus tubuhnya kini terlepas di lantai, meninggalkan tubuhnya telanjang di bawah selimut tipis. Begitu kepalanya menyentuh bantal, ingatan malam tadi langsung membanjiri pikirannya seperti air bah. Tatapan para remaja itu.   Napas mereka yang kasar.   Desahan kecil yang tertahan.   Cara mereka memandangnya—seperti ia adalah sesuatu yang sangat berharga, sangat diinginkan, sangat… panas. “Iya Allah…” gumamnya pelan, matanya menutup rapat. Tapi bukan untuk beristighfar. Malam ini, istighfar terasa jauh. Tubuhnya kembali bereaksi seperti tadi di kamar mandi. Panas yang tadi sempat padam kini menyala lagi, lebih ganas. Putingnya mengeras di bawah selimut, menggosok kain tipis hingga terasa perih ...

Aisyah guru ngaji yang diintip Bab 4

Aisyah terus menuang air dari gayung terakhir, membiarkan tetesan-tetesan terakhir mengalir lambat di sepanjang lekuk tubuhnya. Ia tahu persis apa yang sedang terjadi di balik pagar bambu itu. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia membiarkan itu terjadi. Di luar sana, empat remaja nakal itu—Rian, Dika, Bayu, dan si bungsu Faro—sudah tak lagi bisa menyembunyikan kegembiraan mereka. Rian, yang tertua dan paling berani, menempelkan wajahnya lebih dekat ke celah pagar hingga hidungnya hampir menyentuh bambu. Napasnya tersengal panas, matanya tak berkedip memandang payudara Aisyah yang naik turun mengikuti irama napasnya yang semakin cepat. “Gila… Bu Aisyah… beneran nih?” bisiknya serak, tangan kanannya sudah tanpa malu meremas celana pendeknya yang menonjol. Dika, yang berdiri di sebelahnya, menggigit telapak tangannya sendiri agar tak mengeluarkan suara keras. “Liat tuh… dia sengaja muter badan ke sini. Pantatnya… astaga…” gumamnya, suaranya bergetar. Ia tak sadar sudah menggosok-g...

Aisyah guru ngaji yang diintip Bab 3

Aisyah menarik napas panjang, pelan, seolah sedang berusaha menenangkan dirinya sendiri. Matanya yang tadi sempat bertemu dengan mata remaja di balik pagar kini ia alihkan ke langit malam yang gelap, pura-pura tidak melihat apa-apa.  “Iya Allah… hanya sebentar,” bisik suara kecil di hatinya, suara yang kini semakin kuat mengalahkan jeritan hati nurani yang lain. Ia kembali mengangkat gayung, menuang air perlahan ke atas kepalanya. Rambut panjangnya yang basah menempel di punggung dan bahunya, menjuntai hingga menutupi sebagian payudaranya yang penuh. Air mengalir deras, membasahi kulitnya yang mengkilat di bawah sinar bulan samar. Ia tahu—ia sangat tahu—bahwa gerakan itu membuat tubuhnya semakin terpampang jelas bagi para pengintip di luar sana. Tangan kirinya mulai bergerak lagi, menggosok sabun di leher, turun ke dada dengan gerakan yang sengaja dibuat lebih lambat dari biasanya. Jari-jarinya menyentuh putingnya yang sudah tegang, seolah tanpa sengaja, tapi ia membiarkannya berla...

Aisyah guru ngaji yang diintip Bab 2

Aisyah berdiri membeku di bawah siraman air yang semakin dingin, gayung masih tergenggam erat di tangan kanannya. Napasnya pendek-pendek, dada naik turun cepat hingga bukit kembarnya ikut bergoyang pelan di balik busa sabun yang mulai hilang diterpa air. Matanya masih tertuju pada celah pagar bambu itu. Bayangan para remaja itu tak lagi bergerak mundur—justru semakin jelas terlihat ada yang berbisik dan tertawa pelan, penuh nafsu. Ia tahu mereka masih di sana. Masih memandanginya. Masih menikmati setiap inci tubuhnya yang telanjang. Harusnya ia menjerit. Harusnya ia berlari ke dalam rumah, membangunkan Pak Haris, melaporkan perbuatan hina itu. Ia adalah Aisyah, istri yang sholehah, yang selalu menunduk jika berpapasan dengan lelaki lain, yang tak pernah membiarkan sehelai rambutnya terlihat di depan orang asing. Ia yang hafal puluhan surah, yang mengajar ngaji anak-anak tetangga setiap sore. Tapi kenapa... kenapa kakinya tak mau bergerak? Di dalam dadanya, dua suara saling bertarung he...

Aisyah guru ngaji yang diintip Bab 1

Di desa kecil yang tenang, hiduplah Aisyah, seorang istri berusia dua puluh delapan tahun yang dikenal sebagai wanita sholehah di lingkungan sekitar. Ia selalu mengenakan hijab rapi, shalat tepat waktu, dan melayani suaminya, Pak Haris, dengan penuh kasih sayang. Namun, di balik kehidupan rumah tangganya yang tampak sempurna, ada rahasia yang menyiksa: sudah bertahun-tahun Pak Haris tak lagi menyentuhnya. Pria paruh baya itu sibuk dengan pekerjaannya sebagai pedagang, dan hasratnya seolah lenyap, meninggalkan Aisyah dalam kesunyian yang dalam. Tubuhnya yang matang, dengan lekuk pinggul yang lembut dan payudara yang penuh, tak pernah lagi merasakan sentuhan hangat seorang lelaki. Rumah mereka sederhana, dengan kamar mandi terpisah di belakang, dikelilingi pagar bambu yang sudah tua dan berlubang-lubang. Malam itu, seperti biasa, Aisyah memutuskan untuk mandi larut malam agar tak mengganggu istirahat suaminya. Air dingin dari sumur mengalir deras dari gayung, membasahi kulitnya yang puti...