Aisyah guru ngaji yang diintip Bab 5
Aisyah menutup keran sumur perlahan, tapi air di tubuhnya masih menetes-netes, seolah tak mau berhenti membelai kulitnya yang kini terasa begitu hidup. Ia berdiri tegak di tengah kamar mandi yang gelap, hanya diterangi sinar bulan tipis yang menyusup dari celah atap. Napasnya terdengar jelas di telinganya sendiri—cepat, pendek, seperti orang yang baru saja berlari jauh. Ia tahu persis apa yang baru saja terjadi. Ia tahu bahwa di balik pagar itu, empat pasang mata masih menatapnya dengan rakus. Ia tahu bahwa desahan-desahan kecil yang terdengar samar tadi bukan dari angin malam, melainkan dari para pemuda yang kini mungkin sudah mencapai puncak hasrat mereka hanya karena melihat tubuhnya. Dan yang paling menakutkan sekaligus memabukkan baginya adalah… ia menyukainya. Gelombang panas yang tadi hanya berdenyut di antara pahanya kini menyebar ke seluruh tubuhnya seperti api liar. Dadanya terasa sesak, bukan karena rasa bersalah semata, tapi karena ada sesuatu yang meledak di dalam dirinya—...