Perjalanan Neraka Kenikmatan Bab 3

Aku memutuskan untuk pura-pura tidur. Kepalaku bersandar ke sandaran kursi, mata setengah terpejam, napas sengaja diatur pelan dan teratur seolah aku sudah lelah tak tertahankan. Rafi masih meringkuk nyenyak di pangkuanku, tubuh kecilnya hangat dan polos, menjadi satu-satunya jangkar yang mencegahku meledak. Di dalam hati, amarah, cemburu, dan gairah aneh bercampur aduk seperti racun manis yang tak bisa kubuang. Lewat celah mata yang hampir tertutup, aku masih bisa mengawasi semuanya melalui kaca spion tengah yang sedikit miring.

Perjalanan sudah memasuki larut malam. Jalanan semakin sepi, hanya sesekali lampu kendaraan dari arah berlawanan menyapu cahaya kuning redup ke dalam mobil. Supir menguap pelan, fokus menyetir dengan kecepatan stabil. Di belakang, suasana sudah berubah total. Hani duduk pasrah di pangkuan Joko, rok kremnya kusut parah dan tersingkap hingga pinggang, memperlihatkan paha mulusnya yang basah oleh cairan mereka berdua. Baju putih ketatnya sudah lembab keringat, menempel seperti kulit kedua di dada montoknya.

Joko, si kenek yang semakin berani itu, melihat ke arah depan dulu. Matanya bertemu dengan mataku yang pura-pura tertutup. Dia tersenyum licik, yakin aku sudah tertidur. Tangannya yang besar dan kasar bergerak pelan dari pinggang Hani naik ke punggung. Jari-jarinya menemukan kaitan bra hitam di balik baju putih istriku.

"Mas... jangan," bisik Hani lemah, nada menolak masih ada di sana. Tangannya sempat memegang pergelangan Joko, mencoba menghentikan. "Kalau Mas Adi bangun..."

"Tidur kok, Bu. Lihat, Pak Adi sudah ngorok," balas Joko pelan, suaranya penuh nafsu tertahan. Dia mencium tengkuk Hani dari belakang, lidahnya menjilat pelan kulit yang berkeringat. Hani menggeliat, pinggulnya tanpa sadar menggesek kontol Joko yang masih setengah tegang di dalamnya.

Aku melihat semuanya dengan jelas. Joko lebih berani sekarang. Dengan satu gerakan cepat tapi hati-hati, dia membuka kaitan bra Hani dari belakang. Kain hitam itu longgar. Tangan kirinya menyusup masuk ke balik baju putih, meremas payudara kiri Hani langsung tanpa penghalang. Hani mendesah tertahan, tubuhnya menegang.

"Mas Joko... bra-nya... jangan dilepas," protes Hani lagi, suaranya gemetar. Tapi Joko tak peduli. Dia menarik bra itu keluar dari balik baju dengan gerakan halus, kain hitamnya meluncur keluar dari lengan baju Hani. Payudara istriku yang montok dan kenyal langsung bebas, menekan kain putih tipis dengan puting cokelat yang sudah mengeras sempurna. Joko mengangkat bra itu, memandanginya sejenak dengan senyum puas, lalu melemparnya ke belakang ke tumpukan kardus paket yang menumpuk tinggi.

Pluk. Bra itu jatuh begitu saja di antara kardus-kardus, hilang di kegelapan barang bawaan. Hani menoleh ke belakang dengan wajah panik, "Mas! Itu bra aku... ambil lagi nanti."

Joko hanya tertawa pelan. "Nanti aja Bu, biar bebas. Payudara Bu Hani ini terlalu indah buat ditutup." Tangannya kini meremas kedua payudara Hani dari belakang, jari-jarinya menjepit puting dan memilin pelan. Hani menggigit bibir bawahnya kuat, mencoba menahan desahan yang hampir lolos. Tubuhnya mulai pasrah lagi. Pinggulnya bergerak pelan naik turun, mengaduk kontol Joko yang sudah kembali mengeras sepenuhnya di dalam vaginanya.

Aku pura-pura menggerakkan kepala seolah gelisah dalam tidur, tapi mataku tetap mengintip. Hani melirik ke depan, memastikan aku "tidur". Saat yakin, dia menyerah total. Kepalanya bersandar ke bahu Joko, bibirnya terbuka sedikit. "Pelan-pelan ya Mas... jangan keras-keras," bisiknya, suara pasrah penuh gairah.

Joko semakin liar tapi tetap diam-diam. Dia menarik baju putih Hani ke atas hingga kedua payudara indah itu benar-benar terpapar di udara dingin AC. Mulutnya mengecup bahu Hani, turun ke leher, sementara tangannya meremas dan menarik puting dengan ritme yang membuat Hani menggeliat. Kontolnya mendorong masuk lebih dalam dari bawah, gerakan pelan tapi kuat, disesuaikan dengan getaran mobil agar tak terlalu kentara.

Suara basah kecil "plok... plok..." kembali terdengar samar. Cairan Hani yang melimpah membasahi paha Joko dan jok kursi. Aku melihat bagaimana vagina istriku yang pink dan rapat itu menggigit kontol gelap Joko setiap kali masuk. Hani sudah tak menolak lagi. Malah, tangannya kini memegang paha Joko, membantu ritme pinggulnya sendiri yang semakin cepat.

Aku merasa dada sesak. Ingin berteriak, ingin menghentikan, tapi Rafi di pangkuanku membuatku terikat. Yang ada hanya bisa pura-pura tidur sambil menyaksikan istriku yang cantik, yang dulu hanya milikku, kini menikmati persetubuhan diam-diam dengan kenek travel ini. Kontolku sendiri sudah basah di ujung, tegang menyakitkan di balik celana.

Hani mencapai klimaks lagi. Tubuhnya mengejang hebat, payudaranya bergoyang indah di remasan tangan Joko. Dia menekan mulut ke lengan Joko untuk menahan jeritan panjang yang tertahan. "Ahhh... Mas... keluar... aku... cum..." bisiknya gemetar. Vaginanya mengejang kuat, menyemprot cairan hangat yang membasahi pangkuan mereka.

Joko tak berhenti. Dia mempercepat dorongan pelan, kontolnya keluar masuk dengan licin. Payudara Hani diremas kasar tapi nikmat, putingnya ditarik hingga memerah. Akhirnya Joko mengejang, menyemburkan sperma panasnya lagi ke dalam rahim Hani. Cairan kental putih menetes keluar dari celah mereka, mengalir di paha istriku yang putih mulus.

Mereka berdua bernapas berat, tubuh saling menempel. Hani masih pasrah, kepalanya bersandar lemas, matanya terpejam penuh kepuasan. Bra-nya sudah hilang di tumpukan kardus, baju putihnya basah dan acak-acakan. Rok kremnya kotor oleh campuran cairan mereka.

Aku masih pura-pura tidur, tapi hati ini bergejolak. Beberapa menit kemudian, aku "bangun" pelan, mengucek mata dan menoleh ke belakang dengan wajah mengantuk. "Han... kamu nggak apa-apa? Kok bajunya... basah gitu?"

Hani tersentak, cepat-cepat menarik baju putihnya ke bawah, menutupi payudaranya yang masih mengeras. Wajahnya merah padam, campuran malu dan sisa kenikmatan. "Iya Di... keringetan aja. AC-nya dingin, tapi badan panas."

Joko tersenyum polos di belakangnya. "Iya Pak, Bu Hani sabar banget. Duduk di pangkuan begini."

Aku mengangguk pura-pura tak curiga, tapi lewat spion aku melihat Joko kembali meremas paha Hani diam-diam. Bra hitam itu entah di mana di antara kardus, hilang sebagai bukti dosa malam ini. Hani melirikku dengan mata berkaca, ada permohonan maaf di sana, tapi pinggulnya masih pelan bergoyang di pangkuan Joko.

Perjalanan masih tersisa beberapa jam lagi. Aku kembali "mengantuk", memejamkan mata, tapi telinga dan mata spion tetap terjaga. Joko semakin berani, tangannya kini bermain di klitoris Hani lagi, mempersiapkan ronde berikutnya. Hani, meski sempat menolak dengan bisikan lemah, akhirnya pasrah lagi, membiarkan tubuhnya dinikmati.

Malam Natal menjelang, tapi di mobil sempit ini, ada dosa yang jauh lebih panas daripada perayaan apa pun. Dan aku, suami yang terjebak di depan, hanya bisa menyaksikan semuanya dalam diam yang menyiksa sekaligus memabukkan.

Komentar