Perjalanan Neraka Kenikmatan Bab 4
Aku terus pura-pura tidur, kepala bersandar miring ke samping, napas pelan dan teratur seperti orang yang kelelahan setelah berjam-jam perjalanan. Rafi meringkuk nyaman di pangkuanku, tangan kecilnya memegang bajuku. Tapi mataku, meski hanya celah tipis, tak pernah lepas dari kaca spion. Hati ini seperti diremas-remas: cemburu membakar, amarah mendidih, tapi ada gairah gelap yang membuat kontolku tetap tegang, nyeri di balik celana jeans.
Di belakang, suasana semakin panas dan gelap. Bra hitam Hani sudah lenyap di antara tumpukan kardus paket, dilempar Joko seperti sampah tak berguna. Payudara istriku yang montok dan kenyal kini bebas sepenuhnya di balik baju putih ketat yang basah keringat. Kain tipis itu menempel transparan di kulitnya, puting cokelatnya yang mengeras menonjol jelas seperti dua titik godaan. Rok kremnya sudah naik hingga pinggang, celana dalam hitamnya tersingkap ke samping, memperlihatkan vagina yang masih basah dan mengkilap oleh campuran cairan mereka.
Joko semakin berani. Tangannya yang kasar merayap pelan di bawah baju Hani, meremas payudara kiri dan kanan bergantian. Jari-jarinya menjepit puting, memilin pelan lalu menarik sedikit, membuat Hani menggeliat di pangkuannya.
"Mas Joko... bra-nya... tolong ambil lagi nanti," bisik Hani dengan suara lemah, masih ada nada menolak. Tubuhnya mencoba bergeser menjauh sedikit, tapi pinggulnya justru tertekan lebih dalam ke pangkuan kenek itu. Kontol Joko yang besar dan keras sudah kembali tertanam sepenuhnya di dalam vagina Hani, berdenyut pelan mengikuti getaran mobil.
"Sst... diam Bu. Pak Adi tidur nyenyak. Payudara Bu Hani terlalu enak, nggak mau ditutup," balas Joko dengan suara serak nafsu. Mulutnya menempel di leher Hani, mencium dan menggigit pelan kulit putih itu, meninggalkan bekas merah samar. Tangannya semakin liar, meremas payudara istriku kuat-kuat hingga bentuknya berubah di antara jari-jarinya. Hani mendesah tertahan, kepalanya mendongak ke belakang, bibirnya terbuka.
Aku sengaja menggerakkan tubuh sedikit, pura-pura gelisah dalam tidur, lalu "bangun" pelan. Aku menoleh ke belakang dengan mata mengantuk. "Han... kamu baik-baik aja? Kok napasnya cepet gitu?"
Hani tersentak. Cepat-cepat dia menarik baju putihnya ke bawah sebisa mungkin, menutupi payudaranya yang sudah memerah karena remasan. Wajahnya merah padam, keringat menetes di pelipis. "Iya Di... cuma kegerahan. Paket-paket ini panas banget," jawabnya terbata, suaranya masih bergetar sisa kenikmatan. Pinggulnya berhenti bergerak, tapi aku tahu kontol Joko masih di dalamnya, diam tapi berdenyut.
Joko pura-pura polos, tangannya diam di pinggang Hani. "Iya Pak, malam-malam begini capek. Bu Hani sabar sekali."
Aku mengangguk, berusaha mengajak bicara lebih lama. "Kita istirahat di rest area depan ya? Rafi mungkin bangun nanti." Mataku sengaja melirik lebih lama, mencoba menangkap apa yang terjadi. Tapi mereka sudah berhati-hati. Hani menurunkan roknya sedikit, Joko hanya tersenyum sambil memegang pinggang istriku seolah menyangga.
Begitu aku menghadap depan lagi dan pura-pura mengantuk, Joko langsung melanjutkan. Lebih berani. Tangannya menyusup ke depan, jari tengahnya menemukan klitoris Hani yang sudah membengkak. Dia mengusap melingkar dengan cepat tapi pelan, disesuaikan suara mesin. Hani mencoba menolak, tangannya menepis pelan. "Mas... jangan... Adi baru aja nengok..." bisiknya panik. Tapi tubuhnya mengkhianati. Pinggulnya bergoyang pelan mengikuti jari Joko, vagina-nya mengejang di sekitar kontol pria itu.
Lama-lama Hani pasrah total. Nafasnya menjadi pendek-pendek. Payudaranya yang bebas bergoyang lembut setiap kali mobil melewati lubang jalan. Joko memanfaatkan itu. Dia mendorong pinggulnya naik, mengaduk dari bawah dengan ritme stabil. Suara basah "plok plok" kecil terdengar samar, tertutup oleh deru AC dan jalan. Aku melihat jelas di spion: kontol gelap Joko keluar masuk vagina pink Hani, licin oleh cairan yang melimpah.
Aku "bangun" lagi setelah beberapa menit, menoleh ke belakang sambil menguap. "Han, kamu ngantuk? Mau aku gantiin duduk di belakang?"
Hani menggeleng cepat, matanya setengah terpejam karena Joko sedang memilin putingnya diam-diam di balik baju. "Nggak usah Di... Rafi nyaman sama kamu. Aku... ah... sudah biasa di sini." Suaranya hampir melengking di akhir kalimat saat Joko mendorong dalam-dalam.
Mereka semakin mahir bersembunyi. Setiap kali aku menengok atau bertanya, Joko berhenti gerakan pinggulnya, hanya menyisakan kontolnya tertanam penuh. Tangan Hani pura-pura merapikan rok, tapi jari-jarinya gemetar. Begitu aku balik badan, Joko langsung mempercepat. Kali ini dia lebih agresif. Dia menarik baju putih Hani ke atas lagi hingga kedua payudara telanjang, lalu menjepit kedua puting sekaligus sambil menggoyang pinggulnya kuat-kuat dari bawah.
Hani sudah tak bisa menahan. "Mas... pelan... nanti kedengar..." erangnya pelan. Tapi pinggulnya sendiri yang bergerak liar, naik turun menggiling kontol Joko. Payudaranya bergoyang indah, putingnya memerah dan basah oleh keringat. Joko mencium lehernya, satu tangan meremas dada, tangan lain mengaduk klitoris.
Aku pura-pura tidur lagi, tapi telingaku menangkap desahan Hani yang semakin sering. "Ahh... Mas Joko... dalam... enak..." bisiknya pasrah. Tubuhnya mengejang hebat saat orgasme datang. Vaginanya menyemprot cairan hangat, membasahi pangkuan Joko dan jok kursi. Joko tak berhenti, malah mendorong lebih kuat, kontolnya menghantam rahim Hani berulang kali.
Beberapa saat kemudian, Joko mengejang. "Bu... aku keluar lagi..." desisnya. Sperma panasnya menyembur deras ke dalam istriku, memenuhi rahim yang sudah penuh. Cairan kental putih menetes keluar dari celah vagina Hani, mengalir di paha mulusnya yang terbuka. Hani gemetar hebat, mencapai klimaks kedua, mulutnya terbuka lebar tapi suara ditahan di bahu Joko.
Mobil terus melaju. Aku "bangun" sekali lagi, menoleh dengan wajah biasa. "Han, besok di kampung kita langsung ke gereja ya? Natal kan."
Hani tersenyum lemah, wajahnya berkaca-kaca campuran dosa dan kepuasan. Baju putihnya acak-acakan, payudaranya masih setengah terbuka di balik kain basah. "Iya Di... gereja..." jawabnya, suaranya serak. Roknya basah dan kusut, bau sex samar tercium meski AC dingin.
Joko hanya nyengir di belakang, tangannya masih diam-diam mengusap paha dalam Hani. Bra hilang selamanya di tumpukan paket, bukti malam penuh dosa ini. Hani melirikku dengan mata penuh permohonan maaf, tapi saat aku menghadap depan, aku melihat di spion bagaimana dia kembali menggesek pinggulnya pelan di kontol Joko yang belum lemas.
Perjalanan masih menyisakan tiga jam lagi. Malam semakin gelap, jalan semakin sepi. Aku terus pura-pura tidur, menyaksikan Joko yang semakin berani menjelajahi tubuh istriku. Hani yang awalnya menolak kini sepenuhnya pasrah, membiarkan kenek itu memainkan payudaranya, mengaduk vaginanya, dan menyemburkan spermanya berkali-kali. Aku terjebak di depan, hati hancur tapi kontol tegang, menyimpan semua adegan panas ini di benak.
Entah berapa ronde lagi yang akan terjadi sebelum kami tiba di kampung. Natal kali ini benar-benar tak terlupakan, penuh dosa manis yang tak bisa kuhapus. Dan yang paling menyiksa, aku tak ingin ini berhenti.
Komentar
Posting Komentar