Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 7
**Bab 7: Mata-Mata Baru dan Gula di Tengah Sarang Semut**
Aku, Andi, terbangun Minggu pagi dengan pikiran yang sudah berputar liar. Malam sebelumnya, pengakuan Rina tentang godaan Pak Ujang dan cerita anak-anak kampung membuat kami bercinta seperti binatang hingga subuh. Tubuh istriku yang montok dan responsnya yang semakin terbuka terhadap perhatian lelaki lain telah mengubahku. Aku tak bisa libur kerja terus-terusan, tapi rasa penasaran dan hasrat gelap ini tak bisa kutahan. Aku harus melihat semuanya, bahkan saat aku di kantor.
“Rin, hari ini aku beli CCTV ya,” kataku saat sarapan. Rina yang masih memakai kaos oversize longgar tanpa celana dalam, mengangkat alisnya yang indah. “CCTV? Buat apa, Mas? Rumah kita kecil kok.” Aku mendekat, memeluknya dari belakang sambil tanganku merayap ke bawah kaos, meremas bokongnya yang kenyal. “Takut ada maling, Sayang. Kampung ini kumuh, banyak preman. Lebih aman kalau kita bisa pantau dari HP. Aku pasang di luar, ruang tengah, dan dapur.”
Rina sempat bingung, matanya mencari-cari kebohongan di wajahku, tapi akhirnya mengangguk. “Ya sudah, kalau Mas bilang begitu.” Dia tak tahu bahwa aku membayangkan dirinya menjadi bintang utama rekaman itu. Sepanjang pagi, aku pergi ke toko elektronik terdekat, membeli empat kamera murah tapi berkualitas HD dengan fitur real-time streaming ke aplikasi di ponsel. Pulang ke rumah, aku langsung pasang dengan tangan gemetar karena excited.
Kamera luar tepat di teras depan, menghadap gang dan pagar rendah. Kamera ruang tengah di sudut langit-langit, menangkap sofa dan area depan. Dua di dapur: satu menghadap meja dan jendela samping, satu lagi di sudut yang bisa merekam hampir seluruh ruangan. Semuanya tersambung WiFi rumah yang lemah tapi cukup. Aku tes dari kamar, ponselku menampilkan gambar jernih. Rina berdiri di belakangku, masih bingung. “Kok banyak banget, Mas? Kayak lagi syuting film.” Aku tertawa, menariknya ke pangkuan. “Biar aman. Malam ini kita tes bareng ya.”
Malam Minggu itu kami tak banyak keluar. Aku sengaja menggoda Rina di dapur, membungkukannya di meja sambil kamera merekam. “Bayangin besok orang lain yang lihat,” bisikku saat menggenjotnya pelan. Rina mendesah, tubuhnya semakin responsif. Dia tak tahu betapa aku sudah merencanakan semuanya.
Senin pagi datang. Aku berangkat kerja dengan hati berdebar. Di kantor, aku duduk di meja dengan earphone, ponsel tersembunyi di laci tapi aplikasi CCTV terbuka. Sekitar jam sembilan, suara klakson tukang sayur terdengar jelas dari audio kamera luar. Rina keluar dengan daster tipis biru muda yang sangat pendek, rambut diikat ponytail. Payudaranya yang 36D bergoyang bebas tanpa bra, putingnya samar menonjol.
Beberapa ibu-ibu kampung lain sudah berkumpul di depan, membeli sayur sambil mengobrol. Rina ikut antri, tersenyum ramah. Pak Ujang melayani semua dengan sopan, tapi matanya sering melirik Rina. Setelah ibu-ibu lain pergi membawa plastik mereka, gang menjadi sepi. Hanya Rina yang masih memilih sayur.
“Wah, Mbak Rina sendirian sekarang,” kata Pak Ujang dengan suara rendah, tersenyum lebar. Dia mendekat, tubuh kekarnya hampir menempel. “Kemarin Bapak dengar lagi loh desahan Mbak. Suaranya makin enak. Suami Mbak pasti hebat, tapi kalau kurang, Bapak siap bantu. Lihat nih terong hari ini… lebih besar dari kemarin.” Dia mengambil terong besar berurat, pura-pura menunjukkan kualitas tapi sengaja mendekatkannya ke tubuh Rina. Rina tertawa malu, tapi tak mundur. “Bapak… genit sekali. Kemarin sudah berani banget.”
Pak Ujang semakin yakin karena Rina tak marah. Dia menggesekkan terong itu pelan ke paha Rina, naik ke bawah daster hingga hampir menyentuh celana dalam tipisnya. “Ini baru tes, Mbak. Kalau Mbak suka, besok Bapak bawa yang lebih panjang. Bayangin digesek di situ sambil Bapak pegang pinggang Mbak yang montok ini.” Tangannya menyentuh pinggang Rina, mengelus pelan. Rina salah tingkah, pipinya merah, tapi pinggulnya sedikit bergoyang. Dari kamera dapur yang aku pantau di kantor, aku melihat jelas wajahnya yang horny — mata setengah terpejam, bibir menggigit.
Aku di kantor sudah ereksi keras, tanganku gemetar memegang ponsel. Pak Ujang terus bercanda mesum, “Mbak Rina kayak gula di kampung ini. Semua semut pada mau nempel. Kalau malam suami lembur, panggil Bapak ya. Bapak pijit Bogor asli, dari payudara sampai… bawah.”
Tak lama kemudian, anak-anak kampung berdatangan seperti semut memanggil gula. Budi, Dodi, dan lima orang lainnya mengerubungi Rina di teras. Mereka berpura-pura membantu memilih sayur atau bermain bola di dekat situ. “Mbak Rina, pagi! Dasternya tipis banget hari ini, keliatan nih,” kata Budi sambil tertawa, tangannya pura-pura membersihkan daun di bahu Rina tapi sengaja menyapu samping payudaranya.
Rina pura-pura tak tahu, tertawa ringan. “Kalian ini jahil terus. Mbak cuma beli sayur kok.” Tapi tubuhnya tak menolak. Dodi membungkuk di depannya untuk ambil bola, kepalanya hampir menyentuh paha Rina, tangannya menyentuh betis mulus dan naik pelan ke paha dalam. “Mbak, kaki Mbak licin banget. Wangi.” Yang lain ikut. Satu anak memegang pinggang Rina dari samping pura-pura lewat sempit, jarinya menggesek bokong. Budi lebih berani, berdiri di belakang saat Rina membungkuk memilih kangkung — tangannya menyentuh pinggul dan hampir meremas bokong montok itu.
Rina seperti gula di kelilingi semut-semut mesum. Dia tersipu, salah tingkah, tapi tak berteriak atau marah. Malah, dia tetap ramah seperti di Bogor dulu, memberi mereka es teh dan tertawa saat candaan mereka semakin nakal. “Mbak Rina waktu di sofa kemarin hot banget. Besok kami mau nonton live lagi,” bisik salah satu anak. Rina hanya menggeleng sambil merona, tapi aku lihat dari kamera bagaimana pahanya saling gesek, tanda dia horny.
Pak Ujang ikut nimbrung, “Lihat tuh, Mbak. Anak-anak ini sudah pada pengen sentuh Mbak. Bapak juga. Besok Bapak bawa terong spesial buat Mbak coba di rumah.” Tangannya lagi-lagi menggesek terong ke depan daster Rina, kali ini lebih dekat ke celah vaginanya. Rina mendesah pelan yang tertangkap audio kamera.
Aku di kantor hampir tak tahan. Aku ke toilet, mengocok pelan sambil live streaming adegan itu. Rina dikelilingi tangan-tangan jahil yang berpura-pura tak sengaja — sentuhan di payudara, remasan pelan di bokong, gesekan di paha. Dia pura-pura tak sadar, tapi tubuhnya bereaksi: puting mengeras, napas tersengal, dan senyum malu yang semakin genit.
Sepulang kerja sore itu, aku buru-buru pulang. Rina menyambutku dengan wajah masih merona. “Mas… hari ini… mereka semakin berani.” Aku tak bilang aku sudah melihat semuanya lewat CCTV. Malah, aku tarik dia ke kamar, memutar rekaman di ponsel sambil menelanjanginya. “Aku pasang CCTV buat ini, Rin. Aku suka lihat kamu dikelilingi mereka.”
Rina terkejut tapi matanya langsung berkabut nafsu. Kami bercinta liar sambil menonton rekaman pagi tadi — suara godaan Pak Ujang, sentuhan anak-anak, dan desahan pelan Rina sendiri. Aku menggenjotnya doggy style sambil memegang ponsel, memperlihatkan bagaimana tangan Budi hampir meremas bokongnya. “Mereka semua mau kamu, Rin. Dan kamu suka ya?”
Rina mengerang keras, “Iya Mas… horny banget… mereka gerayangi aku… ahh!” Klimaks kami datang bersama, hebat dan panjang.
Malam itu, sambil berpelukan, aku tahu besok akan lebih liar lagi. CCTV telah menjadi mata ketiga kami dalam permainan gelap ini. Rina yang polos dari Bogor kini benar-benar menjadi gula di kampung kumuh, dan aku sebagai suaminya semakin ketagihan menontonnya larut.
Komentar
Posting Komentar