Aisyah guru ngaji yang diintip Bab 5

Aisyah menutup keran sumur perlahan, tapi air di tubuhnya masih menetes-netes, seolah tak mau berhenti membelai kulitnya yang kini terasa begitu hidup. Ia berdiri tegak di tengah kamar mandi yang gelap, hanya diterangi sinar bulan tipis yang menyusup dari celah atap. Napasnya terdengar jelas di telinganya sendiri—cepat, pendek, seperti orang yang baru saja berlari jauh.

Ia tahu persis apa yang baru saja terjadi. Ia tahu bahwa di balik pagar itu, empat pasang mata masih menatapnya dengan rakus. Ia tahu bahwa desahan-desahan kecil yang terdengar samar tadi bukan dari angin malam, melainkan dari para pemuda yang kini mungkin sudah mencapai puncak hasrat mereka hanya karena melihat tubuhnya.

Dan yang paling menakutkan sekaligus memabukkan baginya adalah… ia menyukainya.

Gelombang panas yang tadi hanya berdenyut di antara pahanya kini menyebar ke seluruh tubuhnya seperti api liar. Dadanya terasa sesak, bukan karena rasa bersalah semata, tapi karena ada sesuatu yang meledak di dalam dirinya—sesuatu yang sudah bertahun-tahun ia tekan mati-matian.

“Iya Allah… aku baru saja membiarkan lelaki lain melihat auratku,” gumamnya dalam hati, suaranya bergetar hebat. Air mata mengalir pelan di pipinya, bercampur dengan sisa air mandi. Rasa bersalah itu masih ada, menggerogoti seperti biasa. Ia membayangkan wajah Pak Haris yang polos saat tidur, membayangkan anak-anak pengajian yang memanggilnya “Bu Guru” dengan penuh hormat, membayangkan dirinya berdiri di hadapan Allah nanti dengan dosa sebesar ini.

Tapi di balik air mata itu, ada perasaan lain yang jauh lebih kuat: perasaan diinginkan.

Sudah berapa lama ia tak lagi merasakan ini? Berapa tahun ia hanya menjadi istri yang melayani tanpa pernah dilayani? Berapa malam ia memeluk bantal sendiri, berharap ada tangan yang memeluknya dari belakang, ada bibir yang mencium tengkuknya, ada suara serak yang memanggil namanya dengan penuh hasrat?

Malam ini, meski hanya melalui tatapan terlarang, ia merasakannya lagi. Tatapan para remaja itu seperti menyentuhnya langsung—kasar, lapar, tanpa basa-basi. Dan tubuhnya, yang selama ini ia anggap hanya beban kewajiban, kini terasa begitu berharga. Begitu indah. Begitu… hidup.

Jantungnya berdegup kencang hingga terasa di telinga. Ia menunduk, melihat putingnya yang masih tegang, melihat paha dalamnya yang basah bukan hanya oleh air. Jari-jarinya bergetar ingin menyentuh lagi, ingin merasakan lebih dalam kenikmatan yang baru saja ia rasakan sekilas tadi. Tapi ia menahan diri. Belum. Tidak malam ini.

“Apa yang sedang terjadi padaku?” batinnya bertanya dengan nada takut sekaligus kagum. “Aku Aisyah… aku yang selalu menunduk kalau ada lelaki lewat. Aku yang tak pernah membiarkan suaraku terdengar oleh laki-laki lain. Tapi malam ini… aku membiarkan mereka melihatku telanjang. Dan aku… aku menikmatinya.”

Ia menggigit bibir bawahnya hingga terasa nyeri, mencoba menahan desah kecil yang hampir keluar lagi. Ada rasa malu yang membakar wajahnya, tapi di balik malu itu ada kebanggaan aneh—kebanggaan karena ia masih bisa membangkitkan hasrat lelaki, karena tubuhnya yang berusia dua puluh delapan tahun ini masih mampu membuat pemuda-pemuda muda kehilangan akal.

“Istri sholehah tidak boleh merasa bangga dengan ini,” suara hati nuraninya berbisik lemah, hampir putus asa.

“Tapi aku juga manusia,” balas suara lain di hatinya, suara yang kini terdengar lebih tegas, lebih berani. “Aku juga punya hasrat. Aku juga ingin disentuh. Aku juga ingin merasa hidup.”

Aisyah menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia meraih handuk tipis yang tergantung di dinding, tapi gerakannya lambat sekali—seolah masih ingin memberi waktu beberapa detik lagi bagi para pengintip untuk melihatnya. Ketika akhirnya ia membungkus tubuhnya dengan handuk itu, ada perasaan kehilangan yang aneh. Seperti kehilangan sesuatu yang baru saja ia temukan.

Ia tahu ini baru permulaan. Ia tahu malam ini telah mengubah sesuatu di dalam dirinya yang tak akan bisa kembali seperti semula.

Saat ia melangkah keluar dari kamar mandi, angin malam menyapa kulitnya yang masih basah. Di balik pagar, ia mendengar suara langkah kaki yang berlari pelan menjauh—para remaja itu akhirnya pergi, mungkin dengan kepuasan yang sama gilanya dengan yang ia rasakan.

Aisyah menatap langit gelap di atasnya, air mata masih mengalir pelan. Tapi di balik air mata itu, ada senyum kecil yang tak bisa ia hapus dari bibirnya.

Malam ini, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Aisyah merasa dirinya bukan hanya seorang istri sholehah.

Ia juga seorang wanita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 7

Perjalanan Neraka Kenikmatan Bab 7

Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 10