Menggoda remaja culun Bab 2
**Bab 2: Api yang Tak Terbendung**
Hujan masih deras mengguyur kompleks perumahan saat malam berganti pagi. Wika terbangun dengan tubuh yang masih panas, sisa-sisa kenikmatan malam sebelumnya masih menempel di antara pahanya. Dia bangkit dari ranjang, cadarnya tergeletak di samping bantal. Wajahnya yang cantik terlihat lelah tapi berbinar — ada rasa bersalah yang samar, tapi lebih kuat adalah gelora yang sudah lama tidak dia rasakan.
Pak Hadi menelepon pagi itu, mengatakan urusannya di Bandung molor jadi lima hari lagi. “Kamu baik-baik di rumah ya, Sayang. Jaga diri,” katanya dengan suara lelah.
“Iya, Mas. Hati-hati,” jawab Wika lembut, tapi di dalam hatinya ada desiran aneh. Lima hari. Waktu yang cukup panjang.
Dia mandi dengan air hangat, membiarkan air mengalir menyusuri lekuk tubuhnya yang masih kencang. Payudaranya yang montok, pinggulnya yang lebar, dan kulit putih mulusnya yang jarang terlihat orang lain. Saat mengeringkan tubuh, dia berdiri di depan cermin. Tangannya menyentuh bibirnya sendiri, mengingat ciuman kikuk Reza semalam. Anak itu… begitu lapar.
Setelah salat Dhuha, Wika memutuskan. Hari ini dia tidak akan memakai cadar di dalam rumah. Dan dia akan memanggil Reza lagi.
“Mas Reza,” panggilnya pelan dari pagar pembatas saat melihat anak itu sedang membersihkan motor di teras. “Bisa tolong Tante sebentar? AC di kamar rusak, panas sekali.”
Reza langsung mendongak. Wajahnya memerah saat melihat Wika hanya memakai gamis rumah tipis berwarna krem tanpa cadar. Rambut hitamnya tergerai basah, bibirnya merah alami. “I-iya, Bu. Sekarang?”
“Ya, sekarang.”
Reza masuk ke rumah Wika dengan langkah gugup. Bau harum masakan dan parfum Wika langsung menyeruak. Ruangan terasa lebih sempit, lebih intim. Wika mengajaknya ke kamar utama. AC memang mati, suhu ruangan terasa pengap.
“Di sini,” kata Wika, berdiri di samping tempat tidur. Gamisnya menempel di tubuh karena keringat, memperlihatkan bentuk bra hitam di balik kain tipis.
Reza berusaha fokus pada AC, tapi matanya terus melirik. Wika sengaja berdiri sangat dekat, sampai Reza bisa merasakan panas tubuhnya.
“Mas Reza…” bisik Wika tiba-tiba, suaranya manja. “Kamu masih mikirin Tante semalam?”
Reza membeku. Obeng di tangannya hampir jatuh. “Iya… setiap saat, Bu. Saya nggak bisa tidur.”
Wika tersenyum. Dia mendekat, tangannya menyentuh dada Reza yang kurus. “Tante juga. Padahal Tante ini istri orang. Sholehah. Tapi kamu… kamu bikin Tante lupa semuanya.”
Tanpa menunggu jawaban, Wika menarik Reza ke bibirnya. Ciuman kali ini tidak lagi kikuk. Wika mengajari dengan lidahnya yang lembut, menggoda, mengisap bibir bawah Reza. Reza mendesah, tangannya langsung merangkul pinggang Wika, merasakan kelembutan tubuh yang sudah lama dia impikan.
Mereka jatuh ke atas ranjang. Wika di atas, duduk di pangkuan Reza. Gamisnya naik sampai pinggang, memperlihatkan celana dalam hitam berenda yang sudah basah di tengahnya.
“Sentuh Tante,” perintah Wika dengan suara parau.
Tangan Reza gemetar naik ke dada Wika. Dia meremas payudara montok itu dari luar gamis, merasakan puting yang sudah mengeras. Wika mendesah, kepalanya mendongak. “Lebih keras… ya, seperti itu…”
Reza semakin berani. Dia menarik turun tali gamis Wika, memperlihatkan bra hitam yang menahan payudara besarnya. Dengan kikuk dia membuka kaitan bra itu. Dua gundukan putih mulus melompat keluar, puting cokelat muda menegang menggoda.
“Ya Allah… indah sekali,” bisik Reza sebelum mulutnya menyambar puting kiri Wika.
Wika mengerang keras, tangannya menekan kepala Reza lebih dalam. Lidah Reza yang panas mengisap, menggigit pelan, bergantian antara kedua payudara. Sementara itu, tangan Wika merayap ke bawah, meremas kontol Reza yang sudah keras banget di balik celana pendek.
“Kamu besar juga ya, Mas…” bisik Wika nakal.
Dia menarik celana Reza ke bawah. Kontol remaja itu melompat bebas — panjang sekitar 16 cm, tebal, urat-uratnya menonjol, kepala merah mengkilap karena precum yang terus keluar. Wika menatapnya dengan mata lapar.
Dia turun, berlutut di antara kaki Reza. Tanpa kata, mulutnya yang hangat membungkus kepala kontol itu.
“Ahh! Bu Wika!” Reza hampir menjerit karena kenikmatan pertama kali itu.
Wika mengisap pelan dulu, lidahnya berputar di sekitar kepala kontol, menjilat lubang kecil di ujungnya yang mengeluarkan cairan asin manis. Lalu dia menelan lebih dalam, sampai setengah batangnya masuk ke mulutnya yang sempit. Kepalanya naik turun dengan irama lambat tapi dalam, air liurnya menetes ke bola-bola Reza.
Reza menggenggam rambut Wika, pinggulnya naik turun tanpa sadar. “Enak sekali… panas… ahh…”
Wika mengeluarkan kontol itu dengan bunyi “plop”, benang liur menghubungkan bibirnya dengan ujung kontol. “Belum boleh keluar dulu. Tante mau merasakan di dalam.”
Dia naik lagi, melepas gamisnya sepenuhnya. Tubuh telanjangnya yang indah terpapar — perut rata, pinggul lebar, dan vagina yang sudah banjir, bibir kemaluannya mengkilap, klitoris kecilnya menonjol.
Wika memegang kontol Reza, menggesek-gesekkannya di celah basahnya sendiri. “Lihat… ini milik suami Tante, tapi hari ini milik kamu.”
Dia menurunkan pinggulnya perlahan. Kepala kontol Reza masuk, meregang liang vagina Wika yang panas dan licin.
“Nngghh… besar…” desah Wika, matanya terpejam.
Dia terus menurunkan diri sampai seluruh batang Reza tenggelam di dalamnya. Mereka berdua mengerang bersamaan. Wika mulai bergerak naik turun, payudaranya bergoyang-goyang indah. Reza memegang pinggulnya, membantu ritme.
“Enak, Mas? vagina Tante enak?” tanya Wika sambil terus menggoyang pinggulnya seperti penari.
“Enak sekali… sempit… panas… saya mau keluar…” jawab Reza dengan suara tersengal.
“Belum boleh!” Wika mempercepat gerakannya. Bunyi “plok plok plok” basah memenuhi kamar. Keringat mereka bercampur. Wika membungkuk, mencium Reza dalam-dalam sambil terus menggoyang.
Dia merasakan orgasme pertama datang. Tubuhnya mengejang, vagina-nya menggigit kontol Reza kuat-kuat. “Aahh! Tante keluar… ya Tuhan!”
Cairan hangatnya menyembur membasahi kontol Reza. Tapi Wika tidak berhenti. Dia terus menunggangi Reza dengan liar, rambutnya beterbangan.
Reza tidak tahan lagi. “Bu… saya… saya mau keluar!”
“Keluar di dalam saja… Tante mau rasain,” bisik Wika nakal.
Dengan erangan panjang, Reza menyemburkan spermanya yang kental dan banyak ke dalam rahim Wika. Jet demi jet panas memenuhi Wika sampai meluap keluar. Wika mengejang lagi, orgasme keduanya datang bersamaan.
Mereka berbaring saling peluk, napas tersengal. Kontol Reza masih di dalam vagina Wika, perlahan melunak.
“Itu baru pertama, Mas Reza,” kata Wika sambil mencium dada anak itu. “Masih ada banyak yang Tante ajarin.”
Sepanjang siang itu, mereka melanjutkan di kamar. Reza yang awalnya culun berubah menjadi binatang nafsu. Dia meniduri Wika di berbagai posisi — doggy style di tepi ranjang, Wika berdiri membungkuk memegang meja rias sambil Reza menusuk dari belakang, lalu missionary di mana Reza bisa melihat wajah cantik Wika yang penuh kenikmatan.
Di posisi doggy, Reza memukul pelan pantat montok Wika sambil menghunjam dalam-dalam. “Bu Wika… Tante… enak sekali memeknya!”
Wika hanya bisa mengerang, “Terus… lebih dalam… hancurkan Tante!”
Mereka mandi bersama sore harinya. Di bawah shower, Wika berlutut lagi, mengisap kontol Reza sampai anak itu menyembur di mulutnya. Wika menelan sebagian, sisanya menetes di dagunya.
Malam menjelang, Wika memakai cadarnya lagi saat Reza pulang ke rumah sebelah. Tapi sebelum Reza pergi, Wika berbisik di telinganya:
“Besok pagi datang lagi. Tante mau kamu jilatin Tante dulu sebelum masukin. Dan… jangan pakai kondom. Tante mau penuh.”
Reza pulang dengan kaki lemas, tapi senyum puas di wajahnya.
Wika duduk di ranjang, merasakan spermanya yang masih bocor keluar. Dia mengambil sedikit dengan jari, menjilatnya. Rasa asin manis itu membuatnya tersenyum.
“Maafkan Tante, Ya Allah… tapi dosa ini terlalu enak untuk dihentikan.”
Di luar, hujan sudah reda. Tapi di dalam hati Wika, badai nafsu baru saja dimulai. Dan Reza, anak culun tetangga itu, sudah menjadi candu yang tak bisa dia lepaskan.
Komentar
Posting Komentar