Menggoda remaja culun Bab 1
**Bab 1: Pandangan di Balik Cadar**
Wika menutup pintu rumah barunya dengan pelan, tangannya yang halus masih memegang gagang pintu kayu jati yang baru dipelitur. Bau cat tembok yang masih segar bercampur aroma masakan rendang yang sedang dia rebus di dapur. Usianya baru 29 tahun, tapi sikapnya sudah seperti perempuan yang menjalani hidup dengan penuh kesolehan. Cadar hitamnya selalu terpasang rapat setiap kali keluar rumah, hanya menyisakan mata indahnya yang teduh. Suaminya, Pak Hadi, seorang pengusaha kecil yang sering bepergian ke luar kota, selalu bangga dengan istrinya yang sholehah ini.
Rumah baru mereka di kompleks perumahan pinggiran Jakarta ini lebih luas, lebih tenang. Tapi ketenangan itu mulai terusik semenjak dua minggu lalu.
Setiap sore, ketika Wika menyiram tanaman di halaman depan atau menggantung jemuran di samping pagar, dia merasakan tatapan itu. Tatapan dari rumah sebelah. Rumah kecil yang ditempati seorang remaja laki-laki bernama Reza.
Reza, 18 tahun, baru lulus SMA dan sedang menunggu kuliah. Tubuhnya kurus, berkacamata tebal, rambutnya acak-acakan seperti baru bangun tidur. Dia terlihat culun, pendiam, jarang keluar rumah kecuali untuk membeli makanan atau bermain game di warnet dekat kompleks. Tetangga lain bilang dia anak yatim piatu yang tinggal sendirian setelah orang tuanya meninggal tahun lalu.
Awalnya, Wika menganggapnya biasa saja.
"Mungkin dia cuma penasaran sama tetangga baru," gumamnya dalam hati sambil menyiram bunga mawar dengan selang. Cadarnya yang hitam legam menutupi wajahnya sepenuhnya, tapi matanya tetap tajam. Dia melihat Reza berdiri di balik jendela kamarnya yang setengah terbuka, memperhatikannya tanpa berkedip.
Hari pertama, kedua, ketiga — Wika hanya tersenyum kecil di balik cadar. Dia seorang istri sholehah. Dia tahu batasnya. Tapi entah kenapa, setiap kali dia merasakan tatapan Reza yang penuh rasa ingin tahu itu, ada getaran kecil di dadanya yang aneh.
Suatu sore yang panas, Pak Hadi sedang ke Bandung untuk urusan bisnis tiga hari. Wika sendirian di rumah. Dia memutuskan untuk membersihkan halaman sambil memakai gamis longgar berwarna abu-abu muda yang masih sopan, cadar tetap terpasang. Saat membungkuk mengambil sapu, bagian belakang gamisnya sedikit tertarik, memperlihatkan lekuk pinggulnya yang masih kencang meski sudah menikah lima tahun.
Reza ada di sana. Kali ini dia tidak hanya melihat dari jendela. Dia berdiri di teras rumahnya, pura-pura menyiram tanaman tapi matanya jelas-jelas tertuju ke arah Wika.
Wika bangkit, membalikkan badan. Mata mereka bertemu sesaat. Reza buru-buru menunduk, wajahnya memerah sampai ke telinga. Wika menggigit bibir di balik cadar. Ada rasa geli yang aneh.
"Assalamualaikum, Mas Reza," sapa Wika dengan suara lembut tapi tegas, seperti biasa.
"Wa... waalaikumsalam, Bu Wika," jawab Reza tergagap. Suaranya pecah, khas remaja yang jarang bicara dengan perempuan.
Sejak saat itu, tatapan Reza semakin sering. Bukan lagi sekadar penasaran. Ada lapar di sana. Lapar yang belum pernah dirasakan Wika dari laki-laki lain selain suaminya.
Malam harinya, Wika berbaring di kamar, memeluk bantal. Pak Hadi menelepon, mengatakan baru sampai hotel dan lelah. Setelah salat Isya, Wika biasanya membaca Al-Quran atau mengaji. Tapi malam ini pikirannya melayang. Dia teringat Reza yang culun itu. Anak itu pasti masih perawan, pikirnya. Belum pernah menyentuh perempuan.
"Naudzubillah," gumamnya, mengusir pikiran itu. Tapi rasa iseng itu sudah muncul.
Keesokan paginya, Wika sengaja keluar rumah lebih awal untuk belanja ke warung. Dia memakai cadar, tapi kali ini gamisnya sedikit lebih ketat di bagian dada. Saat melewati rumah Reza, dia sengaja melambatkan langkah. Reza sedang duduk di teras, membaca buku pelajaran. Begitu melihat Wika, bukunya hampir terjatuh.
Wika berhenti sejenak, membalikkan badan sedikit. "Pagi, Mas Reza. Lagi belajar?"
"I-iya, Bu..."
Wika tersenyum di balik cadar. Matanya menyipit nakal. "Rajin ya. Kalau butuh bantuan apa-apa, bilang aja sama Tante."
Dia sengaja menyebut dirinya "Tante" untuk mengingatkan batas usia, tapi nada suaranya justru terdengar manja. Reza hanya mengangguk kaku, tangannya mencengkeram buku sampai buku jarinya memutih.
Sejak hari itu, permainan kecil dimulai.
Wika mulai iseng. Kadang dia sengaja membiarkan cadarnya sedikit longgar di bagian bawah saat menyiram tanaman, memperlihatkan sedikit garis leher putihnya yang halus. Kadang dia membungkuk lebih dalam dari biasanya, membiarkan Reza membayangkan bentuk tubuhnya yang masih montok dan terawat. Reza semakin sering muncul di jendela atau teras. Kadang Wika melihatnya dari balik tirai kamar — anak itu sedang... melakukan sesuatu di balik celana pendeknya sambil melihat ke arah rumahnya.
Awalnya Wika merasa bersalah. Dia istri sholehah. Tapi rasa kuasa itu, rasa dilihat dengan begitu rakus oleh seorang remaja culun yang jelas-jelas tergila-gila, membuat darahnya berdesir aneh.
Suatu sore yang hujan deras, Pak Hadi masih belum pulang. Listrik rumah Wika mati karena korsleting. Dia keluar rumah membawa lilin, memakai hanya gamis rumah tipis tanpa cadar karena mengira tidak ada orang. Reza kebetulan sedang berdiri di terasnya yang teduh, memegang payung.
Mata mereka bertemu.
Kali ini Wika tidak memakai cadar. Wajahnya yang cantik, bibirnya yang penuh, hidung mancung, dan kulit putihnya terpapar jelas di bawah cahaya redup senja yang basah. Reza membeku.
"Bu... Wika..." bisiknya tanpa sadar.
Wika seharusnya langsung masuk rumah. Tapi iseng itu sudah terlalu dalam. Dia berjalan mendekat ke pagar pembatas, hanya dua meter dari Reza.
"Listrik mati, Mas. Kamu ada lilin cadangan nggak?" tanyanya dengan suara lembut, hampir berbisik.
Reza mengangguk cepat. Dia berlari masuk rumah dan keluar lagi membawa dua batang lilin. Saat menyerahkannya, tangan mereka bersentuhan. Jari Reza dingin, gemetar. Wika sengaja menggenggam jari anak itu sebentar.
"Terima kasih," katanya, matanya menatap langsung ke mata Reza yang penuh nafsu.
Malam itu, di kamarnya yang gelap hanya diterangi lilin, Wika duduk di tepi ranjang. Tangannya pelan-pelan merayap ke bawah gamisnya. Dia membayangkan tatapan Reza tadi. Membayangkan bagaimana anak culun itu pasti sedang memegang miliknya yang keras sambil membayangkan tubuhnya.
"Ya Allah... ampuni hamba-Mu," bisik Wika, tapi jari tengahnya sudah menemukan titik basah yang panas di antara pahanya.
Dia menggigit bibir, membayangkan Reza yang pendiam itu sedang menatapnya dengan lapar. Isengnya sudah mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam. Lebih gelap.
Keesokan harinya, Wika membuat keputusan.
Dia sengaja memanggil Reza ke rumahnya dengan alasan meminta tolong memperbaiki keran air yang bocor di dapur belakang. Reza datang dengan kaos oblong lusuh dan celana pendek. Wika masih memakai cadar, tapi di dalam rumah dia hanya memakai gamis rumah yang sangat tipis.
"Di sini, Mas," kata Wika, membungkuk di depan keran. Punggungnya melengkung sempurna. Reza berdiri di belakangnya, hanya satu langkah.
Saat Reza membungkuk untuk melihat keran, wajahnya hampir menyentuh pinggul Wika. Bau sabun mandi Wika yang harum menyeruak ke hidungnya.
"Bu Wika... saya... saya suka lihat Ibu setiap hari," ucap Reza tiba-tiba, suaranya bergetar.
Wika membeku. Jantungnya berdegup kencang. Dia berbalik pelan, cadarnya masih terpasang.
"Apa maksud kamu, Mas Reza?"
Reza menunduk, tapi tangannya terkepal. "Saya... saya nggak bisa berhenti mikirin Ibu. Maaf... tapi Ibu cantik sekali. Bahkan dengan cadar sekalipun."
Wika diam lama. Lalu, dengan suara yang hampir tidak terdengar, dia berkata:
"Kalau begitu... lihat lebih dekat saja."
Dia mengangkat cadarnya pelan-pelan, memperlihatkan wajahnya yang merona. Bibirnya sedikit terbuka. Reza menatapnya seperti melihat surga.
Tangan Wika gemetar saat menyentuh pipi Reza yang masih halus. "Ini salah... tapi Tante juga sering memikirkan kamu."
Reza tidak bisa menahan diri lagi. Dia maju, mencium bibir Wika dengan kikuk, penuh nafsu remaja yang meledak-ledak. Wika sempat terkejut, tapi kemudian membalas ciuman itu. Lidah mereka bertautan, air liur saling bertukar.
Tangan Reza yang kurus merayap ke dada Wika, meremas payudaranya yang montok dari luar gamis. Wika mendesah di dalam ciuman. "Pelan... pelan dulu, Mas..."
Mereka berpindah ke sofa ruang tamu. Wika duduk di pangkuan Reza, gamisnya sudah naik sampai pinggang. Celana dalam hitamnya sudah basah. Reza menyentuh sana dengan jari gemetar, merasakan kehangatan yang belum pernah dirasakannya.
"Ibu... basah sekali," bisik Reza dengan suara parau.
Wika menggigit bibirnya sendiri. "Karena kamu yang bikin Tante begini..."
Dia meraih tangan Reza, memandu jari anak itu masuk ke dalam celana dalamnya. Saat jari Reza menyentuh klitorisnya yang sudah membengkak, Wika mengerang pelan. Tubuhnya bergoyang pelan, menggesekkan kemaluannya yang licin ke jari Reza.
"Masukkan satu jari... ya, seperti itu... ahh..."
Reza menurut. Dia memasukkan jari telunjuknya ke dalam liang vagina Wika yang panas dan sempit. Wika menggeliat, payudaranya naik turun cepat. Cadarnya sudah terlepas sepenuhnya, rambutnya yang hitam panjang tergerai.
Mereka terus bermain seperti itu hampir setengah jam. Wika mengajari Reza cara menyentuhnya, cara mencium lehernya, cara meremas putingnya yang mengeras. Reza seperti murid yang haus ilmu.
Akhirnya, Wika turun dari pangkuan Reza. Dia berlutut di depan anak itu, menarik celana pendek Reza ke bawah. Kontol Reza melompat keluar — panjang, lumayan tebal untuk ukuran remaja, dan sudah berdenyut-denyut mengeluarkan cairan bening.
Wika menatapnya dengan mata berkabut nafsu. "Besok... Tante akan ajari kamu lebih banyak lagi."
Dia mengecup ujung kontol Reza sekilas, lalu menarik celananya kembali naik. Reza protes, tapi Wika hanya tersenyum nakal.
"Ini baru permulaan, Mas Reza. Tante sholehah... tapi kamu sudah bikin Tante jatuh ke dalam dosa yang enak ini."
Reza pulang dengan kontol masih keras dan pikiran kacau. Wika kembali ke kamar, menyelesaikan apa yang tadi belum selesai dengan tangannya sendiri, sambil membayangkan bagaimana kontol Reza akan terasa di dalam tubuhnya.
Malam itu, hujan semakin deras. Dan Wika tahu, besok dia tidak akan bisa berhenti lagi.
Komentar
Posting Komentar