Perjalanan Neraka Kenikmatan Bab 7
Aku duduk tegang di kursi depan Hiace yang sudah mulai terasa seperti penjara bergerak. Rafi masih meringkuk nyaman di pangkuanku, napasnya pelan dan polos, tak tahu apa pun tentang badai yang mengamuk di dada ayahnya. Perjalanan malam yang panjang ini telah mengubah segalanya. Dari awal, saat tiket bus habis dan kami terpaksa mengambil paket travel murah itu, hingga momen Hani terpaksa duduk di pangkuan Joko karena ruang sempit penuh paket. Semua berawal dari sana. Dan sekarang, di jam-jam menjelang subuh, tangan Joko tak pernah berhenti mengucek memek istriku.
Lewat kaca spion, aku melihat jelas meski cahaya masih redup. Jari tengah Joko bergerak lambat tapi ritmis di bawah rok krem Hani yang sudah kusut parah. Sesekali dua jari masuk dalam, mengaduk cairan yang melimpah—campuran sperma Pak Budi, Joko, dan kenikmatan Hani sendiri. Suara basah kecil “slup… slup…” tertutup deru mesin, tapi telingaku sudah terlatih menangkapnya. Hani menggigit bibir bawahnya kuat, pinggulnya bergoyang pelan mengikuti tanpa sadar, mata setengah terpejam penuh dosa.
“Mas Joko… cukup… sebentar lagi sampai rumah,” bisik Hani lemah, nada menolaknya sudah hampir lenyap, digantikan pasrah yang manja. Tapi tubuhnya berkhianat; paha dalamnya sedikit terbuka lebih lebar, memberi akses lebih dalam bagi jari kenek itu. Payudaranya yang bebas bra naik-turun cepat di balik baju putih ketat yang basah keringat, putingnya menonjol jelas seperti dua titik pengkhianatan. Pak Budi, sang supir, sesekali melirik ke belakang sambil menyetir, tangan kirinya meraih ke belakang untuk meremas paha Hani atau menjepit puting istriku sekilas.
Aku pura-pura fokus ke jalan yang mulai dikenali—sawah-sawah gelap dan deretan pohon kelapa—tapi setiap desahan pelan Hani menusuk dada seperti pisau panas. Cemburu membakar, amarah mendidih, tapi gairah gelap yang sama membuat kontolku tegang menyakitkan sepanjang sisa perjalanan. Konsistensi malam ini tak tergoyahkan: aku terjebak di depan dengan anak kami, sementara Hani di belakang menjadi milik mereka berdua.
Akhirnya, mobil memasuki gang sempit kampung halaman kami saat langit mulai memudar menjadi biru keabu-abuan. Subuh menjelang pagi. Azan samar terdengar dari masjid desa. Pak Budi memarkir Hiace tepat di depan pelataran rumah orang tua Hani. Aku turun lebih dulu, menggendong Rafi yang masih mengantuk berat. Udara pagi dingin menyapu wajahku yang panas oleh amarah dan nafsu campur aduk.
“Hani, ayo turun. Kita sudah sampai,” kataku tegas, menoleh ke belakang.
Hani terlihat enggan. Tubuhnya masih menempel rapat di pangkuan Joko, pinggulnya bergoyang kecil sekali lagi sebelum berhenti dengan berat hati. “Sebentar Di… aku masih ngantuk sekali,” jawabnya pelan, suaranya serak penuh sisa kenikmatan. Rok kremnya naik sedikit, memperlihatkan paha yang basah. Aku mendesak lagi, dan akhirnya dia turun dengan langkah goyah, baju putih ketatnya acak-acakan, noda-noda mencurigakan jelas di kain tipis itu.
Aku berjalan mendahului menuju teras rumah, mengetuk pintu kayu yang sudah usang. Tak ada jawaban segera—mertuaku mungkin masih tidur lelap. Rafi menggeliat di gendonganku, mulai rewel karena dingin. Aku mengetuk lebih keras, lalu melirik ke belakang. Hani tak kunjung menyusul. Dia masih berdiri di dekat mobil, membungkuk seolah mencari barang jatuh di bawah kursi atau di antara paket-paket yang tersisa.
“Han! Ayo masuk, orang tua pasti nunggu!” panggilku.
Tak ada respons langsung. Rasa curiga yang sudah membara sejak rest area dan toilet pria tadi semakin kuat. Aku meletakkan Rafi pelan di teras dengan jaketku sebagai alas, lalu berjalan kembali ke mobil dengan langkah diam-diam, menyelinap di balik pohon kelapa besar di samping pelataran.
Pemandangan itu menghantamku lagi, konsisten dengan segala yang telah terjadi sepanjang malam.
Mereka bertiga sedang saling bercumbu di samping mobil, tepat di bawah cahaya samar lampu teras yang jauh. Hani berdiri di antara Pak Budi dan Joko seperti kekasih yang enggan berpisah setelah malam penuh gairah. Meski sudah memakai pakaian utuh—baju putih ketat dan rok krem—semuanya acak-acakan parah. Joko mencium leher Hani dari belakang dengan rakus, tangannya menyusup dalam rok, jari-jarinya kembali mengucek memek istriku dengan cepat dan basah. Pak Budi mencium mulut Hani dalam-dalam, lidah mereka saling berpilin liar, satu tangannya meremas payudara kiri Hani dari luar baju yang lembab.
Hani mendesah di sela ciuman, pinggulnya bergoyang menggesek tangan Joko. “Mas… Adi sebentar lagi panggil… tapi enak sekali… jangan berhenti dulu,” bisiknya pasrah, suaranya manja dan haus. Tubuhnya ditekan ke sisi mobil, payudaranya bergoyang liar di remasan kedua pria itu. Mereka seperti tak peduli lagi dengan risiko pagi yang mulai terang.
Aku berdiri membeku di balik pohon, menyaksikan hingga puncaknya. Hani mencapai orgasme di sana, tepat di pelataran rumah orang tuanya sendiri. Tubuhnya mengejang kuat, pinggulnya bergetar hebat, cairan bening menyembur kecil membasahi tangan Joko dan tanah kering. “Ahhh… cum lagi… Mas…” erangnya tertahan, kepalanya mendongak, bibir terbuka lebar penuh kenikmatan ekstrem. Wajahnya melayang, lupa segalanya—termasuk suaminya dan anaknya yang menunggu di teras.
Saat itulah aku melangkah keluar dari persembunyian, suaraku dingin. “Hani?!”
Mereka tersentak. Hani panik, wajahnya pucat seketika, cairan masih menetes pelan di pahanya. Tangan Joko dan Pak Budi cepat ditarik. Tapi alih-alih lari atau menutupi, Hani melakukan sesuatu yang tak terduga, sesuatu yang membuat alur malam ini semakin gelap dan tak terkontrol. Dengan mata masih berkaca-kaca sisa orgasme, dia mendekat ke Joko, menciumnya dalam-dalam di depan mataku—lidah mereka bertaut sebentar, penuh nafsu. Lalu berpindah ke Pak Budi, mencium supir itu dengan sama rakusnya, tangannya sempat meremas dada pria itu.
“Terima kasih… Mas Joko… Mas Budi… malam ini… luar biasa,” bisiknya pelan, suaranya manja seperti kekasih yang berpamitan berat hati. Lalu, tanpa menoleh lagi ke arahku, Hani berjalan menuju rumah dengan langkah goyah tapi tegas. Roknya masih sedikit naik, baju putihnya basah dan kusut, bekas ciuman merah di lehernya terlihat jelas di cahaya subuh.
Aku berdiri di sana, lumpuh sejenak. Joko dan Pak Budi hanya nyengir lebar ke arahku sebelum naik ke mobil. “Selamat Natal ya Pak Adi. Bu Hani… istri yang paling enak yang pernah kami temui,” kata Joko sebelum Hiace melaju pergi, meninggalkan debu dan bau sex samar di udara pagi.
Aku berjalan masuk ke pelataran seperti mayat hidup. Di dalam rumah, Hani sudah membantu mertua membuka pintu, senyum lebar di wajahnya seolah tak ada yang terjadi. Rafi terbangun dan langsung memeluk kakinya. “Mama! Kita mudik!”
Sepanjang hari itu, di rumah kampung yang hangat menjelang Natal, aku tak bisa berhenti memikirkan alur yang tak terelakkan ini. Dari debat tiket di terminal, Hani yang duduk di pangkuan Joko karena ruang sempit, pengawasanku lewat spion, adegan di rest area, toilet pria di rumah makan, hingga cumbuan pamitan di depan mobil tadi pagi—semuanya mengalir konsisten seperti sungai dosa yang tak bisa dibendung. Hani yang dulu pemalu kini telah berubah. Sesekali dia melirikku dengan campuran malu, rasa bersalah, dan kilatan kepuasan baru yang tak bisa disembunyikan.
Malam Natal besok akan tiba, tapi di hati ini, perayaan sudah jauh lebih gelap. Aku tahu, ini bukan akhir. Entah di kampung ini atau perjalanan pulang nanti, api yang dinyalakan di mobil travel itu akan terus membakar. Dan aku, suami yang menyaksikan setiap detail dari awal, terjebak di antara amarah suci dan gairah terlarang yang semakin kuat.
Komentar
Posting Komentar