Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 10
**Bab 10: Terong yang Masuk dan Mata-Mata Kecil di Pintu Belakang**
Aku, Andi, duduk tegang di kursi kantor dengan pintu ruangan terkunci. Ponsel di tangan, aplikasi CCTV menampilkan empat sudut gambar sekaligus. Earphone menancap erat. Hari ini aku sengaja absen meeting pagi dengan alasan sakit kepala. Aku tak mau melewatkan sedetik pun. Rina, istriku yang cantik dari Bogor, semakin dalam terjerat dalam permainan gelap kampung kumuh ini, dan aku semakin ketagihan menontonnya dari jauh.
Pagi itu panas sekali. Jam sembilan lewat, Pak Ujang muncul dengan motornya di depan rumah. Rina keluar dengan daster tipis warna krem yang sangat pendek dan longgar di bagian atas. Kainnya sudah basah keringat, menempel sempurna di payudaranya yang montok, putingnya menonjol jelas. Pak Ujang tak buang waktu melayani ibu-ibu lain yang cepat pergi. Begitu gang sepi, dia langsung mengambil keranjang sayur dan melangkah masuk ke teras rumah kami tanpa dipersilakan.
Rina berdiri di pintu, matanya melebar sedikit. “Bapak… kok masuk?” tanyanya dengan suara gemetar, tapi tak ada nada marah atau perintah untuk keluar. Pak Ujang tersenyum lebar, tubuh kekarnya mendekat hingga hampir menempel. “Mbak bilang kemarin Bapak boleh masuk kalau suami sudah berangkat. Hari ini Bapak bawa terong paling besar. Kita masak bareng di dapur ya, Mbak gula.”
Rina tak mengiyakan secara langsung, tapi juga tak menolak atau mundur. Dia hanya mundur pelan ke dalam rumah, diikuti Pak Ujang yang langsung menutup pintu depan setengah. Kamera dapur menangkap semuanya jernih. Pak Ujang meletakkan keranjang di meja, lalu langsung berdiri rapat di belakang Rina yang pura-pura sibuk mencuci sayur di wastafel.
“Tangan Bapak sudah gatal dari kemarin,” bisik Pak Ujang serak. Tangannya kasar langsung merayap ke pinggang Rina, menarik tubuh istriku ke belakang hingga bokong montoknya menempel di selangkangan pria itu. Rina tersentak, napasnya tersengal, tapi hanya berkata pelan, “Bapak… ini… di dapur…” Tak ada penolakan tegas. Pak Ujang menganggap itu sebagai izin.
Dari kamera, aku melihat jelas bagaimana tangan kanan Pak Ujang naik ke depan, meremas payudara kiri Rina dengan kuat dari atas daster. Jarinya memilin puting yang sudah keras, menarik-nariknya hingga Rina mendesah kecil. “Payudara Mbak besar dan kenyal banget. Berat, empuk. Bapak mau hisap nanti.” Tangan kirinya turun ke bawah daster, langsung menyelinap ke celana dalam Rina yang sudah basah. Jari kasarnya mengelus bibir vagina yang licin, memasukkan satu jari pelan sambil menggosok klitoris dengan ibu jari.
Rina menggigit bibir, tubuhnya gemetar, pinggulnya tanpa sadar bergoyang mengikuti gerakan jari Pak Ujang. “Bapak… ah… pelan… jangan keras-keras…” Tapi suaranya justru penuh hasrat. Pak Ujang tertawa serak, menarik daster Rina ke atas hingga pinggang, memperlihatkan bokong putih mulus dan celana dalam yang sudah disingkap ke samping. Dia mengeluarkan terong besar berurat dari keranjang, menggesekkannya di paha dalam Rina sebelum menekankan ujungnya ke bibir vagina yang basah.
“Terong ini mau masuk, Mbak. Bapak tes dulu,” katanya sambil mendorong pelan. Ujung terong yang tebal masuk sedikit ke lubang Rina, membuat istriku mengerang keras, tangannya mencengkeram pinggir wastafel. Pak Ujang memutar terong itu perlahan, mendorong lebih dalam sambil tangannya meremas payudara Rina bergantian. “Basah banget, Mbak. Vagina Mbak ngisap terongnya. Enak ya?”
Rina tak menjawab, hanya mendesah dan mendongakkan kepala. Pak Ujang semakin berani. Dia menurunkan celana dalam Rina hingga lutut, lalu membuka resleting celananya sendiri. Batangnya yang tua tapi tebal dan panjang langsung menyembul, kepalanya sudah basah precum. Dia menggesekkan batang itu di celah bokong Rina, lalu menekan ke vagina dari belakang.
Dengan satu dorongan pelan tapi kuat, Pak Ujang memasuki Rina. “Ahh… Mbak sempit banget… enak…” erangnya. Rina mengerang panjang, tubuhnya melengkung, payudaranya bergoyang liar saat Pak Ujang mulai menggenjotnya di depan wastafel dapur. Gerakannya lambat dulu, menikmati setiap inci, lalu semakin cepat. Suara plok-plok daging basah memenuhi audio kamera. Tangan Pak Ujang tak berhenti meremas payudara Rina, menjepit putingnya, sementara pinggulnya menghantam bokong montok istriku tanpa ampun.
“Desahan Mbak lebih enak dari bayangan Bapak,” katanya sambil menggigit leher Rina pelan. Rina tak lagi pura-pura. Dia mendesah liar, “Ah… Bapak… dalam… ahh…” Pinggulnya mendongak menyambut setiap hantaman. Pak Ujang membalik tubuh Rina menghadapnya, mengangkat satu kakinya ke pinggir meja, lalu memasuki lagi dalam posisi berdiri. Payudaranya yang besar bergoyang hebat di depan wajah Pak Ujang yang langsung menjilat dan mengisap putingnya rakus.
Mereka bercinta di dapur hampir lima belas menit. Pak Ujang menggenjot Rina dengan ritme ganas, tangannya menampar bokong pelan, jarinya sesekali menggosok klitoris. Rina klimaks pertama dengan hebat, tubuhnya kejang, cairannya membasahi paha Pak Ujang. Pria itu tak berhenti, terus menusuk hingga Rina mendekati klimaks kedua.
Saat itulah anak-anak kampung datang. Budi dan kelompoknya yang penasaran karena gerobak sayur kosong dan Pak Ujang tak kelihatan di gang. Mereka menyelinap ke gang samping rumah, mengintip dari jendela dapur yang sedikit terbuka.
“Gila… Pak Ujang lagi ngentot Mbak Rina!” bisik Budi excited. Mereka berdesak-desakan di jendela, mata melebar melihat adegan di dalam. Rina sedang dibungkukkan di meja dapur, Pak Ujang menggenjotnya doggy style dari belakang dengan ganas. Bokong Rina bergoyang setiap hantaman, payudaranya bergantung dan bergoyang liar. Suara desahan Rina yang “Ah… Bapak… enak…” jelas terdengar ke luar.
Anak-anak langsung mengeluarkan ponsel murahan, merekam diam-diam sambil tangan mereka sendiri merayap ke celana. “Lihat bokong Mbak… putih banget. Payudaranya goyang-goyang,” bisik Dodi. Mereka semakin berdesakan, napas tersengal, beberapa sudah mengocok pelan sambil menonton Pak Ujang yang semakin liar.
Pak Ujang melihat bayangan mereka di jendela tapi tak berhenti. Malah dia tersenyum dan mempercepat hantaman, menarik rambut Rina pelan hingga kepalanya mendongak. Rina tak sadar ada yang mengintip, atau mungkin sudah tak peduli. Dia klimaks lagi dengan jeritan kecil, vagina-nya meremas batang Pak Ujang. Pria itu menyusul tak lama kemudian, menyemburkan sperma panas di dalam Rina sambil mengerang keras.
Setelahnya, Pak Ujang mencium leher Rina sebentar, menepuk bokongnya, lalu rapi-rapi sambil berbisik, “Besok Bapak masuk lagi ya, Mbak. Terong asli lebih enak.” Rina hanya berdiri goyah, cairan campuran menetes di pahanya, wajahnya merah padam tapi ada kepuasan di matanya.
Anak-anak di luar langsung bubar saat Pak Ujang keluar, tapi bisik-bisik mereka penuh rencana. “Besok kita ikut masuk… Mbak Rina nggak nolak kok.”
Sepanjang siang, kamera menangkap Rina yang membersihkan dapur dengan langkah pelan, sesekali menyentuh vaginanya yang masih basah dan tersenyum malu sendiri. Aku di kantor hanya menonton dengan hasrat yang membara, tapi tak langsung pulang. Malam nanti aku akan mendengar cerita singkatnya, memeluknya sebentar, dan diam-diam memutar ulang rekaman ini berulang kali.
Kampung ini semakin liar. Rina semakin larut. Dan aku semakin tenggelam dalam fantasi gelap yang tak ingin berakhir.
Komentar
Posting Komentar