Aisyah guru ngaji yang diintip Bab 1
Di desa kecil yang tenang, hiduplah Aisyah, seorang istri berusia dua puluh delapan tahun yang dikenal sebagai wanita sholehah di lingkungan sekitar. Ia selalu mengenakan hijab rapi, shalat tepat waktu, dan melayani suaminya, Pak Haris, dengan penuh kasih sayang. Namun, di balik kehidupan rumah tangganya yang tampak sempurna, ada rahasia yang menyiksa: sudah bertahun-tahun Pak Haris tak lagi menyentuhnya. Pria paruh baya itu sibuk dengan pekerjaannya sebagai pedagang, dan hasratnya seolah lenyap, meninggalkan Aisyah dalam kesunyian yang dalam. Tubuhnya yang matang, dengan lekuk pinggul yang lembut dan payudara yang penuh, tak pernah lagi merasakan sentuhan hangat seorang lelaki.
Rumah mereka sederhana, dengan kamar mandi terpisah di belakang, dikelilingi pagar bambu yang sudah tua dan berlubang-lubang. Malam itu, seperti biasa, Aisyah memutuskan untuk mandi larut malam agar tak mengganggu istirahat suaminya. Air dingin dari sumur mengalir deras dari gayung, membasahi kulitnya yang putih mulus. Ia melepas mukena dan hijabnya perlahan, membiarkan rambut panjangnya terurai bebas. Sabun colek digosokkan ke tubuhnya, busa putih menutupi bukit kembar dadanya yang ranum, turun ke perut rata, lalu ke selangkangan yang tersembunyi di balik bulu halus hitam.
Tak ia sadari, di balik celah pagar bambu yang gelap, beberapa pasang mata remaja nakal dari kampung sebelah sedang mengintip. Mereka adalah para pemuda berusia delapan belas hingga dua puluh tahun, yang sering berkeliaran malam hari mencari sensasi terlarang. Malam ini, mereka kebetulan lewat dan mendengar suara air, lalu diam-diam mendekat. Napas mereka tersengal saat melihat tubuh telanjang Aisyah yang begitu sempurna—air mengalir di antara belahan pantatnya yang bulat, puting susunya yang cokelat mengeras karena dingin, dan gerakan tangannya yang tanpa sadar menggosok area sensitifnya lebih lama dari biasanya.
Aisyah tiba-tiba merasakan ada yang aneh. Angin malam terasa lebih dingin, tapi ada getar aneh di udara. Ia menoleh ke arah pagar, dan matanya menangkap bayangan samar—beberapa kepala remaja yang sedang membungkuk, mata mereka lapar menatap tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang. Harusnya ia berteriak, marah, menutupi tubuhnya dengan tangan dan memanggil suami. Tapi... kenapa tidak? Alih-alih kemarahan, ada sensasi panas yang tiba-tiba menyelinap di antara pahanya. Tubuhnya yang lama tak tersentuh bereaksi aneh—putingnya semakin mengeras, dan ada denyut lembut di bagian intimnya yang membuatnya tanpa sadar menggigit bibir bawah.
"Iya Allah... kenapa aku begini?" batin Aisyah bergolak. Ia tahu ini salah, dosa besar. Ia istri sholehah, tak boleh menikmati tatapan najis seperti ini. Tapi sensasi itu begitu kuat, seperti api yang lama padam tiba-tiba dinyalakan kembali. Apakah ia harus menghentikannya? Atau... membiarkannya sebentar saja, merasakan lagi bagaimana rasanya diinginkan? Konflik batin itu membuat tangannya bergetar, air terus mengalir, sementara di luar sana, para pengintip semakin berani mendekat...
Komentar
Posting Komentar