Aisyah guru ngaji yang diintip Bab 10
Aisyah keluar dari kamar mandi dengan langkah pelan, handuk tipis hanya melilit pinggangnya hingga pertengahan paha, membiarkan payudaranya yang masih basah terbuka bebas di udara malam yang dingin. Rambutnya menetes-netes, meninggalkan jejak air kecil di lantai tanah. Ia tak langsung masuk ke rumah. Ia berhenti di beranda belakang, tepat di bawah sinar bulan yang lebih terang, seolah masih ingin merasakan angin malam menyapu kulitnya yang baru saja “dipuja” oleh tatapan panas dari balik pagar.
Napasnya masih belum teratur. Dadanya naik-turun cepat, putingnya masih tegang keras, dan di antara pahanya terasa lengket—campuran air mandi dan cairan hasratnya sendiri yang tak henti mengalir sejak tadi. Ia tahu persis apa yang baru saja terjadi pada keempat remaja itu. Ia mendengar desahan-desahan mereka, erangan kecil yang tak lagi disembunyikan, bahkan suara kain bergesek cepat dan langkah kaki yang goyah saat mereka mencapai puncak satu per satu.
Dan fakta bahwa ia—dengan sengaja—menjadi penyebab semua itu… membuat tubuhnya bergetar lagi, meski sudah tak ada lagi yang memandang.
Ia bersandar ke dinding bata rumah, menutup mata, membiarkan ingatan malam tadi memutar ulang di kepalanya seperti film yang paling panas.
Cara ia menggosok payudaranya dengan sabun, sengaja lama.
Cara ia membungkuk dalam-dalam hingga pantatnya terbuka lebar.
Cara ia membuka kakinya dan menatap langsung ke arah mereka, tersenyum kecil.
Dan suara-suara itu… nama sendiri yang dipanggil serak oleh Rian, desahan Bayu yang tak tertahan, erangan Faro yang polos tapi penuh ledakan pertama.
“Iya Allah…” gumamnya lirih, tapi kali ini bukan istighfar. Suaranya lebih mirip desah puas.
Tangan kanannya tanpa sadar naik, menyentuh payudara kirinya sendiri, meremas pelan seperti tadi saat mandi. Putingnya langsung bereaksi, berdenyut keras di telapak tangannya. Tangan kirinya turun ke bawah handuk, menyelinap ke selangkangan yang masih basah kuyup. Jarinya langsung menemukan klitoris yang bengkak, menggosoknya pelan sekali—hanya sekali—dan tubuhnya sudah bergetar hebat.
Ia menggigit bibir bawah hingga nyeri, menahan jeritan kecil yang hampir keluar.
“Aku baru saja membuat empat lelaki muda… ‘keluar’ hanya dengan tubuhku,” pikirnya, dan kata-kata itu terdengar begitu kotor, begitu terlarang, tapi justru membuat perutnya berdenyut lebih ganas. “Mereka membayangkan aku. Mereka menggosok diri sambil memanggil namaku. Dan aku… aku sengaja memberi mereka itu semua.”
Rasa bersalah masih ada—tentu saja ada. Ia masih ingat ayat-ayat yang baru saja ia ajarkan malam ini di pengajian. Tapi rasa bersalah itu kini terasa kecil, tertindih oleh gelombang lain yang jauh lebih besar: rasa kuat, rasa diinginkan, rasa hidup kembali setelah bertahun-tahun mati rasa di pelukan suami yang tak lagi menyentuhnya.
Air mata mengalir pelan di pipinya lagi, tapi kali ini ia tersenyum di tengah air mata itu.
“Istri sholehah tidak boleh bangga dengan ini,” bisik hati nuraninya, tapi suara itu kini hampir tak terdengar.
“Aku bukan hanya istri sholehah malam ini,” balasnya dalam hati, dengan nada yang kini tegas dan penuh keyakinan. “Aku adalah wanita yang masih bisa membuat lelaki gila hanya dengan telanjang di depan mereka. Dan aku… aku menyukainya.”
Ia menarik napas panjang, membiarkan angin malam mengeringkan air di tubuhnya. Handuknya ia biarkan melorot sedikit lebih rendah, hingga hampir terlepas—seolah masih ingin merasakan sensasi dipamerkan, meski tak ada lagi yang melihat.
Besok malam, ia tahu ia akan melakukannya lagi.
Mungkin lebih berani.
Mungkin membiarkan mereka lebih dekat.
Mungkin… bahkan mengundang mereka dengan cara yang lebih jelas.
Aisyah akhirnya melangkah masuk ke rumah, handuk masih longgar di pinggang, tubuhnya telanjang separuh. Ia tak langsung ke kamar tidur. Ia duduk dulu di kursi ruang tamu yang gelap, tangannya kembali menyentuh dirinya sendiri—kali ini tanpa ragu—sambil membayangkan apa yang akan terjadi besok malam.
Malam ini, ia tak lagi hanya bereaksi.
Ia sudah mulai merencanakan.
Pagi itu, seperti biasa, Pak Haris bangun lebih dulu untuk shalat Subuh. Ia keluar dari kamar dengan langkah pelan, mengucek mata yang masih mengantuk. Rumah masih gelap, hanya samar-samar cahaya fajar dari jendela timur. Saat melewati ruang tamu, ia berhenti sejenak.
Ada sesuatu yang aneh.
Di kursi kayu kecil di sudut ruangan, tergantung handuk tipis yang masih basah—handuk yang biasanya selalu digantung di kamar mandi belakang. Lantainya pun masih ada bekas tetesan air kecil-kecil membentuk jejak dari pintu belakang sampai ke sana. Bau sabun mawar yang kuat masih menyeruak di udara, padahal Aisyah biasanya mandi pagi atau sore, bukan larut malam seperti ini.
Pak Haris mengerutkan kening. Sudah dua malam berturut-turut ia merasa Aisyah tidur lebih larut dari biasanya. Kemarin pagi ia juga menemukan handuk basah di tempat yang sama. Dan yang lebih mengganggu pikirannya: semalam, saat ia terbangun sebentar karena haus sekitar pukul sebelas lebih, ia mendengar suara air dari kamar mandi belakang—suara gayung yang dituang pelan-pelan, seperti orang yang mandi dengan sengaja tak ingin membangunkan orang lain.
Ia berjalan pelan ke pintu belakang, membukanya sedikit. Pagar bambu di belakang rumah tampak biasa saja, tapi ada beberapa helai daun yang seperti baru diinjak, dan tanah di dekat celah pagar agak basah—seolah ada yang berdiri lama di sana malam tadi.
Jantung Pak Haris berdegup lebih cepat. Ia bukan orang yang mudah curiga, tapi usianya yang sudah lima puluh tahun lebih membuatnya paham betul hal-hal duniawi. Ia tahu Aisyah masih muda, cantik, dan tubuhnya masih ranum—sementara dirinya sendiri sudah bertahun-tahun tak lagi mampu memenuhi kewajiban sebagai suami di ranjang. Rasa bersalah itu selalu ada di hatinya, tapi selama ini Aisyah tak pernah mengeluh, selalu patuh dan sholehah.
Tapi sekarang… ini berbeda.
Ia kembali masuk, duduk di kursi yang sama tempat handuk basah itu tergantung. Matanya menatap kosong ke depan. Pikiran buruk mulai berputar.
“Apakah ada lelaki lain?”
“Siapa yang sering lewat belakang rumah malam-malam?”
“Remaja-remaja kampung itu… bukan kah mereka sering main sampai larut?”
Ia ingat betul beberapa malam lalu mendengar suara bisik-bisik kecil dari arah belakang saat ia terbangun sebentar. Ia pikir hanya angin atau kucing liar. Tapi sekarang semuanya mulai terhubung.
Saat Aisyah akhirnya keluar dari kamar pukul enam pagi, dengan wajah segar, hijab rapi, dan senyum lembut seperti biasa, Pak Haris memandangnya lama.
“Assalamualaikum, Mas. Sudah shalat?” sapa Aisyah lembut, mendekat untuk mencium tangan suaminya seperti kebiasaan setiap pagi.
“Waalaikumsalam,” jawab Pak Haris datar. Ia tak langsung memberikan tangannya. Matanya meneliti wajah Aisyah—pipi yang sedikit lebih merona dari biasanya, mata yang tampak lebih bercahaya, dan… bau sabun mawar yang masih menempel kuat di tubuhnya.
“Mandi jam berapa semalem, Yah?” tanyanya tiba-tiba, suaranya tenang tapi ada nada curiga yang tak bisa disembunyikan.
Aisyah terdiam sesaat—hanya sepersekian detik—tapi cukup untuk membuat hati Pak Haris semakin mencelos.
“Eh… biasa, Mas. Habis pengajian kan agak capek, jadi mandi dulu biar segar,” jawab Aisyah cepat, tersenyum lebar sambil berbalik ke dapur, berusaha terlihat santai.
Pak Haris tak menjawab. Ia hanya memandangi punggung istrinya yang berjalan menuju dapur. Tubuh Aisyah yang masih lentur, langkahnya yang entah kenapa terasa lebih ringan akhir-akhir ini.
Di dalam hatinya, kecurigaan itu mulai tumbuh seperti rumput liar.
Malam ini, ia memutuskan dalam diam: ia tak akan langsung tidur lelap seperti biasa.
Ia akan berpura-pura tidur lebih awal.
Dan jika Aisyah mandi larut lagi… ia akan mengintip dari jendela kamar belakang.
Pak Haris menarik napas panjang, dadanya terasa sesak. Ia tak ingin percaya bahwa istrinya yang sholehah, yang selalu ia banggakan di depan tetangga, bisa melakukan sesuatu di belakangnya.
Tapi tanda-tanda itu semakin jelas.
Dan malam ini, ia akan mencari tahu sendiri kebenarannya—apa pun konsekuensinya.
Malam itu, Pak Haris berpura-pura tidur lebih awal. Setelah shalat Isya, ia langsung masuk kamar, mengatakan badannya capek karena seharian di pasar. Aisyah mengangguk lembut, mencium tangan suaminya seperti biasa, lalu membersihkan ruang tamu sisa pengajian. Pak Haris berbaring di ranjang, punggung menghadap pintu, tapi matanya terbuka lebar di balik kegelapan.
Jam dinding berdetik pelan. Pukul 10:30, rumah sudah sunyi. Ia mendengar langkah Aisyah di luar kamar—ringan, hati-hati—menuju dapur, lalu ke pintu belakang. Pintu kayu itu terbuka pelan, disusul suara kunci kecil yang digantung. Tak lama kemudian, suara air dari kamar mandi belakang mulai terdengar: gayung diisi, air dituang perlahan… sama seperti dua malam sebelumnya.
Pak Haris menunggu sepuluh menit lagi, hingga dengkurannya sendiri yang dipalsukan tak lagi diperlukan karena Aisyah pasti sudah yakin ia tertidur lelap. Ia bangun tanpa suara, mengenakan sarung saja, lalu berjalan pelan melewati ruang tamu yang gelap menuju jendela kecil di sisi rumah yang menghadap langsung ke kamar mandi belakang. Jendela itu jarang dibuka, tapi malam ini ia membukanya sedikit demi sedikit, cukup untuk melihat tanpa terlihat.
Dan apa yang ia lihat membuat darahnya langsung mendidih.
Aisyah berdiri telanjang bulat di tengah kamar mandi yang terang bulan. Pintu kamar mandi sengaja dibiarkan terbuka lebar—bukan hanya celah seperti kemarin, tapi benar-benar terbuka. Tubuh istrinya yang putih mulus basah mengkilat, rambut panjang terurai, payudaranya naik-turun cepat. Ia sedang menggosok sabun di dada dengan gerakan lambat yang jelas bukan sekadar mandi biasa. Dan yang paling membuat Pak Haris terpaku ketakutan sekaligus marah: di balik pagar bambu, ada empat bayangan remaja kampung yang sudah tak lagi bersembunyi sepenuhnya—Rian, Dika, Bayu, dan Faro—berdiri sangat dekat dengan pagar, beberapa bahkan sudah menyelinap masuk ke halaman belakang rumah.
Pak Haris mendengar bisik-bisik mereka yang tak lagi pelan.
“Bu Aisyah… buka lebih lebar lagi dong…”
“Cantik banget malam ini… sabunnya banyak banget di situ…”
“Aduh gue udah ga tahan…”
Dan Aisyah—istrinya yang sholehah, yang selalu ia banggakan—justru tersenyum kecil mendengar bisikan itu. Ia memutar tubuh, membungkuk dalam-dalam hingga pantatnya terangkat tinggi menghadap langsung ke arah para remaja itu. Tangan Aisyah sendiri turun ke selangkangannya, menggosok perlahan sambil air mengalir.
Pak Haris merasa dunia berputar. Dadanya sesak, tangannya mengepal keras di pinggir jendela hingga buku-buku jarinya memutih. Ia ingin berteriak, ingin lari keluar dan memukuli keempat bajingan itu, ingin menyeret Aisyah masuk dan menuntut penjelasan. Tapi kakinya seperti terpaku di tempat. Ia hanya bisa berdiri di balik jendela, menyaksikan istrinya yang selama ini ia anggap suci sedang memamerkan tubuhnya dengan sengaja kepada empat pemuda nakal—dan tampak menikmati setiap detiknya.
Air mata marah dan malu mengalir di pipi Pak Haris yang sudah tua. Ia bukan lagi marah karena selingkuh biasa—ini lebih dari itu. Ini adalah penghinaan langsung terhadap kehormatannya sebagai suami, sebagai lelaki, sebagai kepala rumah tangga.
Tiba-tiba salah satu remaja—Rian—melangkah lebih berani lagi, hampir mendekati pintu kamar mandi. Aisyah menoleh, melihatnya, dan bukannya lari atau menutup pintu—justru tersenyum lebih lebar, mengangguk kecil seolah memberi izin.
Itu sudah cukup.
Pak Haris tak lagi bisa menahan diri. Ia membuka pintu samping rumah dengan kasar, langkahnya berat tapi cepat menuju belakang.
“HEI! KALIAN SEMUA!” teriaknya tiba-tiba, suaranya menggelegar di malam sunyi.
Keempat remaja itu langsung panik. Mereka berbalik, wajah pucat ketakutan, lalu lari pontang-panting keluar pagar, beberapa bahkan terjatuh karena tergesa. Dalam hitungan detik, halaman belakang sudah kosong.
Aisyah membeku di tempatnya, telanjang, basah, tangan masih di antara pahanya. Ia menoleh ke arah suara suaminya, wajahnya langsung pucat pasi.
Pak Haris berdiri di ambang pintu kamar mandi, napasnya tersengal karena marah dan lari kecil tadi. Matanya merah, menatap Aisyah dari atas hingga bawah—melihat tubuh istrinya yang basah mengkilat, puting yang tegang, selangkangan yang merah karena baru saja disentuh sendiri.
“Aisyah…” suaranya serak, campuran marah, terluka, dan tak percaya. “Apa yang sudah kau lakukan…?”
Aisyah tak mampu menjawab. Ia hanya berdiri membeku, air masih menetes dari tubuhnya, tangan gemetar mencoba meraih handuk yang tergantung jauh di dinding.
Malam itu, konfrontasi yang ditakuti akhirnya terjadi.
Dan apa pun yang akan terjadi selanjutnya—pertengkaran hebat, perceraian, atau hal lain—rumah kecil mereka tak akan pernah lagi sama setelah malam ini.
Komentar
Posting Komentar