Aisyah guru ngaji yang diintip Bab 2
Aisyah berdiri membeku di bawah siraman air yang semakin dingin, gayung masih tergenggam erat di tangan kanannya. Napasnya pendek-pendek, dada naik turun cepat hingga bukit kembarnya ikut bergoyang pelan di balik busa sabun yang mulai hilang diterpa air.
Matanya masih tertuju pada celah pagar bambu itu. Bayangan para remaja itu tak lagi bergerak mundur—justru semakin jelas terlihat ada yang berbisik dan tertawa pelan, penuh nafsu. Ia tahu mereka masih di sana. Masih memandanginya. Masih menikmati setiap inci tubuhnya yang telanjang.
Harusnya ia menjerit. Harusnya ia berlari ke dalam rumah, membangunkan Pak Haris, melaporkan perbuatan hina itu. Ia adalah Aisyah, istri yang sholehah, yang selalu menunduk jika berpapasan dengan lelaki lain, yang tak pernah membiarkan sehelai rambutnya terlihat di depan orang asing. Ia yang hafal puluhan surah, yang mengajar ngaji anak-anak tetangga setiap sore.
Tapi kenapa... kenapa kakinya tak mau bergerak?
Di dalam dadanya, dua suara saling bertarung hebat.
Suara pertama—suara yang selama ini ia junjung tinggi—berbisik keras:
*"Astaghfirullah, Aisyah! Tutupi auratmu! Ini zina mata, zina hati! Ingat neraka, ingat hisab, ingat suamimu yang sedang tidur nyenyak di dalam sana. Kau akan dihinakan di hadapan Allah kalau kau biarkan ini berlanjut!"*
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia menggigit bibir hingga terasa perih, mencoba menahan isak. Rasa bersalah itu seperti belati yang menusuk-nusuk dadanya. Ia membayangkan wajah ibunya yang almarhum, yang selalu berpesan agar menjaga kehormatan. Ia membayangkan anak tetangga yang memanggilnya “Bu Guru” dengan penuh hormat. Semua itu bisa hancur hanya karena satu malam ini.
Tapi suara kedua—suara yang selama bertahun-tahun ia kubur dalam-dalam—kini bangkit dengan ganas, hangat, dan menggoda:
*"Sudah berapa lama kau tak disentuh, Aisyah? Berapa malam kau terjaga sendirian, memeluk bantal, merindukan belaian yang tak pernah datang lagi? Mereka memandangmu seperti kau adalah wanita paling indah di dunia. Mereka menginginkanmu. Mereka... mengharapkanmu. Rasakan itu. Biarkan sebentar saja. Tak ada yang tahu. Hanya malam ini..."*
Sensasi panas yang tadi hanya denyut kecil kini menyebar cepat ke seluruh tubuhnya. Putingnya yang tadinya mengeras karena dingin, kini terasa berdenyut karena sesuatu yang lain. Di antara pahanya, ada kebasahan yang bukan dari air mandi. Jari-jarinya tanpa sadar merayap turun, hampir—hampir—menyentuh tempat yang paling rahasia itu.
“Iya Rabbi... ampuni hamba-Mu,” gumamnya lirih, suaranya gemetar. Tapi gumaman itu terdengar lemah, seperti orang yang sudah setengah menyerah.
Ia menoleh lagi ke arah pagar. Salah satu remaja itu—yang paling berani—kini sedikit maju, wajahnya hampir menempel pada celah bambu. Matanya bertemu dengan mata Aisyah sesaat. Bukan mata penuh rasa takut, tapi mata yang berkilat penuh harap.
Dan di saat itu juga, Aisyah merasakan sesuatu yang paling ia takuti sekaligus ia rindukan: gelombang kenikmatan terlarang yang membuat lututnya lemas.
Apakah ia akan menyerah pada suara dosa itu?
Ataukah ia masih punya kekuatan untuk berbalik, menutup tubuhnya, dan kembali menjadi Aisyah yang sholehah seperti dulu?
Air terus mengalir. Malam semakin larut.
Dan di dalam hatinya, perang batin itu baru saja dimulai—dengan taruhan yang terlalu besar untuk bisa ia abaikan lagi.
Komentar
Posting Komentar