Aisyah guru ngaji yang diintip Bab 3

Aisyah menarik napas panjang, pelan, seolah sedang berusaha menenangkan dirinya sendiri. Matanya yang tadi sempat bertemu dengan mata remaja di balik pagar kini ia alihkan ke langit malam yang gelap, pura-pura tidak melihat apa-apa. 

“Iya Allah… hanya sebentar,” bisik suara kecil di hatinya, suara yang kini semakin kuat mengalahkan jeritan hati nurani yang lain.

Ia kembali mengangkat gayung, menuang air perlahan ke atas kepalanya. Rambut panjangnya yang basah menempel di punggung dan bahunya, menjuntai hingga menutupi sebagian payudaranya yang penuh. Air mengalir deras, membasahi kulitnya yang mengkilat di bawah sinar bulan samar. Ia tahu—ia sangat tahu—bahwa gerakan itu membuat tubuhnya semakin terpampang jelas bagi para pengintip di luar sana.

Tangan kirinya mulai bergerak lagi, menggosok sabun di leher, turun ke dada dengan gerakan yang sengaja dibuat lebih lambat dari biasanya. Jari-jarinya menyentuh putingnya yang sudah tegang, seolah tanpa sengaja, tapi ia membiarkannya berlama-lama di sana. Hanya sesaat, katanya pada diri sendiri. Hanya untuk merasakan lagi bagaimana tubuhnya bereaksi ketika ada yang memandangnya dengan lapar.

Di balik pagar, napas para remaja itu semakin kasar. Ia bisa mendengar bisik-bisik mereka yang tertahan, tawa kecil penuh kegembiraan karena menyadari bahwa mangsanya tidak bergerak menjauh, malah seolah… memamerkan diri.

Aisyah memutar tubuhnya perlahan, menghadap langsung ke arah celah pagar itu—tapi matanya tetap menunduk, pura-pura sibuk membilas sabun di perutnya yang rata. Kini pantatnya yang bulat dan kencang terpapar sepenuhnya, air mengalir di lekuk belahannya, turun ke paha yang mulus. Ia menunduk lebih dalam, seolah sedang menggosok kakinya, tapi posisi itu membuat kedua pahanya terbuka sedikit lebih lebar dari yang seharusnya.

Sensasi panas di antara selangkangannya kini tak lagi bisa ia abaikan. Ada kebasahan yang semakin deras, bukan dari air mandi, melainkan dari dalam dirinya sendiri yang sudah lama terkubur. Setiap hembusan angin malam yang menyentuh kulitnya terasa seperti belaian jari-jari kasar. Setiap bayangan gerakan di luar pagar terasa seperti tatapan yang membakar.

“Istri sholehah tidak boleh begini…” suara hati nuraninya masih berbisik lemah, tapi kini terdengar jauh, seperti suara dari balik dinding tebal.

“Tidak ada yang tahu. Suamimu tidur. Allah Maha Pengampun…” balas suara nafsu itu, semakin manis, semakin meyakinkan.

Ia menggigit bibir bawahnya keras-keras, menahan desah kecil yang hampir keluar ketika jarinya—tanpa ia sadari sepenuhnya—menyelinap sebentar ke lipatan hangat di antara pahanya. Hanya sesaat. Hanya untuk menghilangkan gatal yang tak tertahankan itu.

Di luar sana, salah satu remaja tak lagi bisa menahan diri. Ia mendesah pelan, suara yang cukup keras hingga terdengar samar oleh Aisyah. Dan anehnya… suara itu justru membuat tubuh Aisyah bergetar lebih hebat. Seperti ada listrik yang mengalir dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun.

Aisyah tetap pura-pura tidak mendengar. Ia terus mandi, terus membiarkan air membasahi tubuhnya yang kini terasa seperti milik orang lain—tubuh yang tak lagi ia kendalikan sepenuhnya.

Malam itu, di kamar mandi terpisah yang sepi, Aisyah yang sholehah perlahan mulai melepas topengnya… meski hanya untuk beberapa menit saja. Atau mungkin… lebih lama dari yang ia rencanakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 7

Perjalanan Neraka Kenikmatan Bab 7

Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 10