Aisyah guru ngaji yang diintip Bab 4
Aisyah terus menuang air dari gayung terakhir, membiarkan tetesan-tetesan terakhir mengalir lambat di sepanjang lekuk tubuhnya. Ia tahu persis apa yang sedang terjadi di balik pagar bambu itu. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia membiarkan itu terjadi.
Di luar sana, empat remaja nakal itu—Rian, Dika, Bayu, dan si bungsu Faro—sudah tak lagi bisa menyembunyikan kegembiraan mereka.
Rian, yang tertua dan paling berani, menempelkan wajahnya lebih dekat ke celah pagar hingga hidungnya hampir menyentuh bambu. Napasnya tersengal panas, matanya tak berkedip memandang payudara Aisyah yang naik turun mengikuti irama napasnya yang semakin cepat. “Gila… Bu Aisyah… beneran nih?” bisiknya serak, tangan kanannya sudah tanpa malu meremas celana pendeknya yang menonjol.
Dika, yang berdiri di sebelahnya, menggigit telapak tangannya sendiri agar tak mengeluarkan suara keras. “Liat tuh… dia sengaja muter badan ke sini. Pantatnya… astaga…” gumamnya, suaranya bergetar. Ia tak sadar sudah menggosok-gosok pahanya sendiri, mencoba menahan dorongan yang semakin kuat.
Bayu, yang biasanya paling pendiam, kini justru yang paling liar reaksinya. Ia mengeluarkan ponselnya pelan-pelan, tangan gemetar saat membuka kamera. “Rekam ga ya? Rekam ga ya?” bisiknya pada yang lain, tapi Rian langsung menepis tangannya pelan. “Goblok! Nanti ketahuan! Nikmatin aja dulu!” bisik Rian kasar, meski matanya sendiri tak lepas dari gerakan tangan Aisyah yang kini sedang membilas bagian bawah perutnya—gerakan yang terlihat begitu polos, tapi bagi mereka seperti undangan terbuka.
Faro, yang masih kelas tiga SMA dan paling muda di antara mereka, berdiri agak di belakang sambil memeluk tiang pagar. Wajahnya memerah hebat, napasnya seperti orang kehabisan udara. Ini pertama kalinya ia melihat tubuh wanita telanjang secara langsung—apalagi wanita seindah Aisyah yang selama ini hanya ia lihat dari kejauhan saat mengajar ngaji. “Bu Guru… kok bisa gini…” gumamnya pelan, tapi matanya tak mau berkedip. Ada campuran rasa takut, kagum, dan hasrat yang membuat lututnya lemas.
Ketika Aisyah tanpa sengaja (atau mungkin sengaja) membungkuk sedikit lebih dalam untuk membilas kakinya—membuat belahan pantatnya terbuka lebih jelas dan lipatan lembut di antara pahanya sesaat terlihat—keempat remaja itu hampir bersuara serentak.
Rian mengumpat pelan, “Sialan… gue udah ga tahan nih.”
Dika menelan ludah keras, tangannya kini benar-benar masuk ke dalam celana.
Bayu menggigit bibirnya hingga berdarah kecil, matanya berkaca-kaca karena terlalu lama menahan napas.
Sedangkan Faro… anak itu hanya bisa berdiri membeku, tapi celananya sudah basah di bagian depan tanpa ia sadari.
Mereka tak lagi berbisik. Hanya napas kasar, desahan tertahan, dan sesekali suara kain bergesek yang terdengar di kegelapan. Mereka tahu Aisyah tahu mereka ada di sana. Dan fakta bahwa wanita sholehah yang mereka kagumi itu tidak marah, malah seolah mempersilakan mereka melihat… itu membuat hasrat mereka membakar lebih ganas dari api neraka yang pernah iajarkan Aisyah di pengajian.
Sementara di dalam, Aisyah menutup mata sejenak, merasakan setiap tatapan mereka seperti sentuhan fisik yang membakar kulitnya. Ia tahu ia sedang bermain api. Tapi malam ini… api itu terasa begitu hangat, begitu hidup, setelah bertahun-tahun ia merasa seperti mayat berjalan di rumah tangganya sendiri.
Dan para remaja di luar sana, tanpa mereka sadari, baru saja menjadi bagian dari kebangkitan hasrat seorang wanita yang selama ini terkubur dalam-dalam.
Komentar
Posting Komentar