Aisyah guru ngaji yang diintip Bab 6
Aisyah menutup pintu kamar tidur pelan-pelan, takut membangunkan Pak Haris yang sudah mendengkur pelan di sampingnya. Malam sudah semakin larut, rumah sunyi, hanya suara jangkrik dari luar yang samar-samar terdengar. Ia berbaring di ranjang, handuk tipis yang tadi membungkus tubuhnya kini terlepas di lantai, meninggalkan tubuhnya telanjang di bawah selimut tipis.
Begitu kepalanya menyentuh bantal, ingatan malam tadi langsung membanjiri pikirannya seperti air bah.
Tatapan para remaja itu.
Napas mereka yang kasar.
Desahan kecil yang tertahan.
Cara mereka memandangnya—seperti ia adalah sesuatu yang sangat berharga, sangat diinginkan, sangat… panas.
“Iya Allah…” gumamnya pelan, matanya menutup rapat. Tapi bukan untuk beristighfar. Malam ini, istighfar terasa jauh.
Tubuhnya kembali bereaksi seperti tadi di kamar mandi. Panas yang tadi sempat padam kini menyala lagi, lebih ganas. Putingnya mengeras di bawah selimut, menggosok kain tipis hingga terasa perih nikmat. Di antara pahanya, kebasahan yang tadi hanya sekilas kini kembali deras, membuatnya tanpa sadar merapatkan paha satu sama lain.
Ia mencoba menahan. Benar-benar mencoba.
“Aku tidak boleh… ini dosa… ini zina dengan tangan…” bisik hati nuraninya lagi, tapi suaranya kini terdengar seperti orang yang sudah kalah jauh.
Tangan kanannya bergerak perlahan, seolah bukan miliknya sendiri. Ia menyentuh perutnya dulu, merasakan kulit yang masih lembab sisa mandi. Jari-jarinya bergetar saat menyusuri garis tengah tubuhnya, turun semakin ke bawah, melewati bulu halus yang basah.
Begitu ujung jarinya menyentuh bibir lembut di antara pahanya, ia menggigit bantal agar tak bersuara. Sensasi itu begitu kuat—seperti petir yang menyambar langsung ke saraf-sarafnya. Ia membayangkan lagi tatapan Rian yang paling berani, mata Dika yang lapar, desahan Faro yang polos tapi penuh hasrat.
“Kalau mereka tahu… aku sedang memikirkan mereka saat melakukan ini…” pikirnya, dan anehnya, pikiran itu justru membuatnya semakin basah.
Jarinya mulai bergerak pelan, menggosok klitorisnya yang sudah bengkak dengan irama yang semakin pasti. Ia membayangkan tangan-tangan kasar itu menyentuhnya, bukan hanya memandang. Ia membayangkan suara-serak mereka memanggil namanya—“Bu Aisyah… Bu Guru…”—dengan nada yang jauh dari hormat.
Napasnya semakin cepat. Pinggulnya tanpa sadar terangkat sedikit dari ranjang, mengikuti gerakan jarinya yang kini semakin cepat. Ia memasukkan satu jari ke dalam—hanya sedikit—dan merasakan dinding hangat yang sudah lama tak disentuh siapa pun, bahkan oleh suaminya sendiri.
“Maafkan aku… maafkan aku…” gumamnya di antara napas tersengal, tapi kata-kata itu terdengar seperti mantra kosong. Yang ia rasakan hanya kenikmatan yang semakin mendekati puncak.
Ia membayangkan lagi pantatnya yang terpampang tadi, bagaimana air mengalir di belahannya, bagaimana mereka pasti sedang membayangkan hal yang sama seperti yang ia lakukan sekarang. Pikiran itu menjadi pemicu terakhir.
Tubuhnya menegang. Kakinya merapat erat, menjepit tangannya sendiri. Sebuah desahan panjang tertahan keluar dari bibirnya—hampir terlalu keras—saat gelombang kenikmatan yang kuat menyapunya dari ujung kaki hingga ubun-ubun. Ia bergetar hebat, otot-otot di perut dan pahanya berkontraksi berulang-ulang, hingga akhirnya ia ambruk lemas di ranjang, napas tersengal-sengal.
Beberapa menit berlalu dalam diam. Hanya suara napasnya yang perlahan tenang dan detak jantung yang masih kencang.
Air mata mengalir lagi di pipinya. Kali ini bukan karena malu semata, tapi karena campuran rasa bersalah, puas, dan… lapar yang belum hilang sepenuhnya.
Ia menatap langit-langit kamar yang gelap.
“Apa yang sudah kulakukan…” bisiknya pada dirinya sendiri.
Tapi di balik rasa bersalah itu, ada bisikan kecil yang semakin jelas:
“Besok malam… aku akan mandi lebih larut lagi.”
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Aisyah tertidur dengan senyum tipis di bibirnya—senyum seorang wanita yang baru saja menemukan kembali api yang lama padam di dalam dirinya.
Komentar
Posting Komentar