Aisyah guru ngaji yang diintip Bab 7

Keesokan harinya, matahari baru saja naik ketika empat remaja itu sudah berkumpul di warung kopi kecil di pinggir kampung, jauh dari rumah masing-masing. Mereka datang lebih awal, bahkan sebelum warung benar-benar buka, hanya untuk bisa bicara tanpa ada orang lain mendengar.

Rian duduk paling depan, tangan memegang gelas kopi hitam yang belum disentuh. Matanya merah, jelas kurang tidur. “Gue sampe pagi ga bisa tidur, bro,” katanya pelan, suaranya serak. “Tiap nutup mata, yang keliatan cuma Bu Aisyah… telanjang… muter badan ke arah kita… gila.”

Dika tertawa kecil, tapi tawanya gugup. Ia menggosok-gosok lehernya sendiri. “Gue juga. Sampe tiga kali… eh… ‘ngeluarin’ semalem. Bayangin aja pantatnya yang bulat itu, air ngalir di tengah-tengahnya… astaga. Dia tahu kita ngintip, tapi malah sengaja bikin posisi lebih jelas. Itu artinya apa, bro?”

Bayu, yang biasanya paling pendiam, kini justru paling gelisah. Ia memainkan ponsel di tangannya, tapi layar mati. “Gue ga berani rekam kemaren takut ketahuan. Tapi sekarang nyesel banget. Bayangin kalau kita punya videonya… bisa tiap malam ditonton ulang.” Wajahnya memerah, tapi matanya berkilat penuh harap. “Menurut lo, malam ini dia mandi larut lagi ga?”

Faro, si bungsu, duduk agak menjauh, wajahnya masih pucat. Ia belum bicara apa-apa sejak datang. Matanya menunduk ke meja, tapi tangannya gemetar memegang gelas teh manis. Akhirnya ia buka suara, lirih sekali: “Bu Guru… kok bisa gitu ya? Dia yang ngajar kita ngaji, yang selalu bilang aurat harus ditutup rapat-rapat… tapi semalem…” Suaranya terputus, ia menelan ludah keras. “Gue takut dosa, tapi… gue pengen lagi.”

Rian menepuk bahu Faro pelan. “Kita semua takut dosa, Ro. Tapi lo rasain sendiri kan? Dia ga marah. Malah kayak… ngasih izin. Gue yakin dia juga lagi kesepian banget sama suaminya. Pak Haris kan udah tua, mungkin udah ga bisa apa-apa lagi.”

Dika mengangguk cepat. “Bener. Gue denger dari babe gue, Pak Haris emang udah lama ga ‘aktif’. Bu Aisyah masih muda, cantik, badannya… ya ampun. Wajar kalau dia juga punya nafsu.”

Mereka diam sejenak, masing-masing tenggelam dalam ingatan malam tadi. Angin pagi berhembus pelan, tapi udara di antara mereka terasa panas.

Rian akhirnya bicara lagi, suaranya lebih tegas. “Malam ini kita balik lagi. Jam yang sama. Kalau dia mandi larut lagi… artinya dia nunggu kita. Kalau dia ga marah, malah sengaja pamer lagi… kita naik level.”

“Naik level gimana?” tanya Bayu langsung, mata membesar.

Rian tersenyum tipis, matanya penuh rencana nakal. “Kita dekatin lebih jauh. Mungkin bisik-bisik namanya dari luar pagar. Liat reaksinya. Kalau dia ga lari, ga teriak… kita coba lebih berani lagi. Langkah demi langkah.”

Dika menggigit bibir, sudah membayangkan. “Gue siap bro. Apa pun. Asal bisa lihat dia lagi… bahkan lebih dekat.”

Faro masih diam, tapi kali ini ia tak menunduk lagi. Matanya menatap ke arah rumah Aisyah yang jauh di kejauhan, dari balik pohon-pohon. Ada rasa takut di hatinya, tapi ada juga hasrat yang lebih besar—hasrat yang baru ia kenal malam tadi, dan kini sudah menguasainya sepenuhnya.

Sepanjang hari itu, keempat remaja itu sibuk dengan rutinitas masing-masing—sekolah, membantu orang tua, main bola—tapi pikiran mereka hanya satu: malam nanti.

Mereka tak tahu bahwa di dalam rumah bata sederhana itu, Aisyah juga sedang memikirkan hal yang sama. Dengan jantung berdegup lebih kencang dari biasanya setiap kali ia teringat malam tadi… dan malam yang akan datang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 7

Perjalanan Neraka Kenikmatan Bab 7

Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 10