Aisyah guru ngaji yang diintip Bab 8
Malam itu, kelas pengajian rutin di rumah Aisyah berlangsung seperti biasa—setidaknya di permukaan.
Anak-anak kecil duduk rapi di depan, sementara para remaja laki-laki—termasuk Rian, Dika, Bayu, dan Faro—duduk di baris belakang seperti lazimnya. Lampu neon kecil menerangi ruang tamu sederhana, Al-Qur’an terbuka di pangkuan masing-masing, dan suara Aisyah yang lembut mengaji ayat-ayat tentang menjaga pandangan dan aurat.
“…wa qul lil mu’minaati yaghdludlna min abshaarihinna wa yahfadhna furuujahunna…”
Aisyah membaca dengan suara tenang, seperti selalu. Tapi malam ini, suaranya terdengar sedikit lebih pelan, sedikit lebih serak di ujung-ujung kalimat.
Ia mengenakan mukena putih panjang dan hijab lebar yang menutupi dada dengan rapat—seperti biasa. Tak ada yang aneh dari penampilannya. Tapi bagi empat remaja di belakang, setiap gerakan kecil Aisyah terasa berbeda.
Rian duduk dengan tangan mengepal di pangkuan, matanya tak bisa lepas dari wajah Aisyah. Ia ingat betul bagaimana wajah yang sama itu memerah malam tadi, bagaimana bibir yang sekarang sedang melafalkan ayat suci itu menggigit kecil karena menahan sensasi. Setiap kali Aisyah menunduk membaca, ia membayangkan rambut panjang yang terurai basah malam tadi.
Dika berusaha fokus ke mushaf, tapi jarinya gemetar membalik halaman. Ia duduk menyilang kaki, berusaha menyembunyikan tonjolan yang muncul hanya karena mendengar suara Aisyah memanggil nama Allah. “Bu Guru lagi baca ayat aurat… padahal semalem dia sendiri yang…” pikirnya, dan wajahnya memanas.
Bayu, yang biasanya paling rajin mencatat, malam ini hanya memandangi tangan Aisyah yang memegang mushaf. Tangan yang putih mulus, jari-jari lentik yang malam tadi… ia tahu persis ke mana jari-jari itu pergi setelah pulang. Ia menelan ludah keras, berharap tak ada yang mendengar.
Faro—paling muda, paling polos—duduk dengan kepala tertunduk dalam-dalam. Tapi justru karena itu, matanya sesekali melirik ke atas, ke arah kaki Aisyah yang tersembunyi di balik mukena panjang. Ia ingat betul bagaimana kaki itu terbuka sedikit malam tadi, bagaimana air mengalir di paha dalam yang putih. Ia merasa dadanya sesak—campuran rasa bersalah dan hasrat yang membuatnya hampir tak bisa bernapas.
Aisyah sendiri merasakan semua itu.
Ia tahu empat pasang mata di belakang sedang menatapnya bukan seperti biasa. Tatapan mereka terasa panas di punggungnya, di lehernya, bahkan di balik kain mukena yang tebal. Setiap kali ia mengangkat kepala untuk menjelaskan arti ayat, pandangannya sesekali bersapu dengan mata Rian—hanya sesaat—tapi cukup untuk membuat jantungnya berdegup lebih cepat.
“Ironi sekali…” pikir Aisyah dalam hati. “Aku sedang mengajar mereka tentang menjaga pandangan… sementara aku sendiri yang membiarkan mereka melihat segalanya malam tadi.”
Ada getar aneh di perutnya setiap kali ia teringat malam sebelumnya. Di antara pahanya, ia merasa sedikit basah lagi—hanya karena merasakan tatapan mereka sekarang. Ia merapatkan paha di bawah mukena, berusaha menenangkan diri.
Saat sesi tanya jawab, Rian—dengan berani yang baru—mengangkat tangan.
“Bu Guru… kalau seseorang tanpa sengaja melihat aurat orang lain… terus dia merasa… eh… tergoda… apa hukumnya?” tanyanya dengan suara yang pura-pura polos, tapi matanya berkilat nakal.
Aisyah terdiam sesaat. Ruangan hening. Anak-anak kecil menoleh ke belakang, heran.
Wajah Aisyah memerah pelan, tapi ia berusaha tersenyum. “Itu… dosa besar, Nak. Harus segera menundukkan pandangan dan beristighfar. Jangan sampai diulangi,” jawabnya lembut, tapi suaranya sedikit bergetar.
Rian mengangguk pelan, tapi senyum tipis di bibirnya tak bisa disembunyikan. Dika menahan tawa kecil di sebelahnya.
Faro menunduk lebih dalam, tapi tangannya mengepal mushaf hingga kertasnya kusut.
Saat pengajian selesai dan anak-anak mulai pulang, keempat remaja itu bergerak lambat, sengaja jadi yang terakhir keluar.
Saat melewati Aisyah yang berdiri di pintu mengucap salam, Rian berbisik sangat pelan—hampir tak terdengar, tapi cukup untuk sampai ke telinga Aisyah:
“Malam ini… mandinya jam berapa lagi, Bu Guru?”
Aisyah membeku sesaat. Matanya bertemu dengan mata Rian—hanya sepersekian detik—tapi di dalamnya ada ribuan kata yang tak terucap.
Ia tak menjawab. Hanya menunduk, pura-pura sibuk merapikan mukena.
Tapi saat keempat remaja itu akhirnya berlalu ke kegelapan malam, Aisyah berdiri sendirian di teras, tangannya memegang dada yang berdegup kencang.
Ia tahu jawabannya sendiri.
Malam ini, ia akan mandi lebih larut lagi.
Dan kali ini… mungkin ia tak akan lagi pura-pura tak melihat.
Komentar
Posting Komentar