Aisyah guru ngaji yang diintip Bab 9

Setelah anak-anak kecil pulang dan lampu teras dimatikan satu per satu, Aisyah kembali masuk ke rumah. Pintu ditutup pelan, terkunci rapat. Rumah sunyi kembali; hanya suara detik jam dinding dan dengkur halus Pak Haris dari kamar sebelah yang terdengar samar.

Ia berdiri di tengah ruang tamu yang masih tercium bau wewangian anak-anak pengajian, mukena putih masih melilit tubuhnya. Tapi mukena itu kini terasa terlalu panas, terlalu ketat. Ia melepas hijabnya perlahan, membiarkan rambut panjangnya terurai bebas. Napasnya masih belum tenang sejak bisikan Rian tadi di pintu.

“Malam ini… mandinya jam berapa lagi, Bu Guru?”

Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya seperti mantra terlarang. Suara Rian yang serak, mata keempatnya yang tak lagi menyembunyikan hasrat, tatapan mereka sepanjang pengajian yang seperti menyentuh kulitnya meski ada lapisan kain tebal di antaranya.

Aisyah duduk di kursi kayu kecil di sudut ruangan, tangannya memegang dada yang naik turun cepat. Di antara pahanya, ia merasakan kebasahan yang sama seperti malam sebelumnya—mungkin lebih deras lagi. Hanya karena satu bisikan. Hanya karena satu pertanyaan nakal yang disembunyikan di balik nada polos.

“Iya Rabbi… aku sedang diajarin anak-anak tentang menjaga pandangan,” gumamnya lirih pada dirinya sendiri, suaranya bergetar. “Tapi aku sendiri yang membiarkan mereka memandangku… bahkan menginginkannya.”

Air mata menggenang lagi, tapi kali ini ia tak langsung menyekanya. Ia biarkan mengalir pelan di pipi, karena di balik rasa bersalah itu ada perasaan lain yang semakin kuat: perasaan ditunggu-tunggu, diinginkan dengan begitu ganas oleh lelaki-lelaki muda yang seharusnya ia didik menjadi lebih baik.

Ia membayangkan apa yang sedang terjadi sekarang di luar sana. Mungkin keempatnya sedang berkumpul lagi, berbisik-bisik tentang dirinya. Membahas tubuhnya. Merencanakan malam ini. Dan pikiran itu—bukan membuatnya takut—malah membuat perutnya bergetar hebat, seperti ada kupu-kupu liar yang beterbangan di dalamnya.

Tangan kanannya tanpa sadar merayap ke bawah mukena, menyentuh paha dalamnya yang sudah basah. Ia menarik tangan itu kembali cepat, seolah terbakar.

“Belum… tidak di sini,” bisiknya pada diri sendiri.

Ia bangkit, berjalan pelan menuju kamar mandi belakang. Jam dinding menunjukkan pukul 10:45 malam—lebih larut dari kemarin. Ia tahu Pak Haris sudah tertidur lelap, tak akan terbangun sampai Subuh.

Di depan pintu kamar mandi, ia berhenti sejenak. Jantungnya berdegup keras hingga terasa di telinga. Ia tahu apa yang akan ia lakukan malam ini bukan lagi sekadar “pura-pura tak melihat”.

Malam ini, ia akan membiarkan mereka melihat lebih banyak.  
Mungkin… bahkan memberi isyarat kecil bahwa ia tahu mereka ada di sana.

“Istri sholehah tidak boleh begini,” suara hati nuraninya berbisik lagi, tapi kini terdengar sangat lemah, hampir hilang.

“Malam ini aku bukan hanya istri sholehah,” balas suara lain di hatinya, suara yang kini sudah menguasai sepenuhnya. “Malam ini aku adalah Aisyah… wanita yang ingin merasa hidup lagi.”

Ia menarik napas panjang, membuka pintu kamar mandi, dan melangkah masuk. Tak lupa, seperti malam sebelumnya, ia sengaja tak menutup pintu rapat-rapat—meninggalkan celah kecil yang cukup untuk angin malam masuk… dan mungkin juga tatapan panas dari balik pagar bambu yang sudah tua itu.

Malam ini, permainan baru saja akan dimulai.

Aisyah berdiri di depan cermin kecil kamar mandi yang sudah mulai berembun. Lampu temaram dari bohlam tunggal di atas membuat bayangannya lembut, hampir seperti mimpi. Jam sudah menunjukkan pukul 11:15 malam—lebih larut dari kemarin, persis seperti yang ia rencanakan.

Ia menarik napas dalam-dalam, mencium bau sabun colek dan air sumur yang dingin. Tubuhnya sudah bergetar sejak tadi, sejak bisikan Rian di pintu rumah. Kini, getar itu semakin kuat, bercampur antara takut dan rindu yang tak bisa lagi ia bohongi.

Pertama, ia melepas mukena putih yang masih dipakainya sejak pengajian. Kain itu jatuh pelan ke lantai, meninggalkan ia hanya dengan daster tipis berwarna krem yang sudah usang. Daster itu menempel di tubuhnya karena keringat halus yang muncul hanya karena pikiran-pikiran nakal yang tak henti sejak sore.

Ia memandang dirinya sendiri di cermin. Wajahnya memerah, bibirnya sedikit terbuka karena napas yang tak teratur. Ia angkat tangan, perlahan-lahan melepas kancing daster satu per satu—bukan karena terburu-buru, tapi karena ingin merasakan setiap detik persiapan ini. Setiap kancing yang terlepas seperti melepas satu lapis rasa malu yang selama ini ia paksa bertahan.

Daster itu akhirnya melorot ke lantai. Kini ia hanya mengenakan bra putih sederhana dan celana dalam katun yang sudah tipis karena sering dipakai. Ia memandang tubuhnya lagi—payudara yang masih kencang meski sudah berusia dua puluh delapan tahun, pinggang yang ramping, pinggul yang melengkung lembut. Tubuh yang selama ini hanya ia sembunyikan, kini ia pandang dengan mata yang berbeda: mata seorang wanita yang tahu malam ini akan ada yang menghargainya.

Dengan tangan gemetar, ia melepas bra-nya. Payudaranya terbebas, putingnya langsung mengeras karena udara malam yang dingin—atau mungkin karena ia sudah membayangkan tatapan lapar keempat remaja itu. Ia biarkan bra itu tergantung di gantungan handuk, sengaja di posisi yang terlihat dari celah pintu.

Kemudian celana dalam. Ia menunduk, menurunkannya perlahan hingga melorot ke pergelangan kaki. Kini ia benar-benar telanjang. Di antara pahanya sudah basah—bukan karena air, tapi karena antisipasi. Ia tak menyentuhnya dulu. Belum waktunya.

Ia mendekati pintu kamar mandi yang sengaja ia biarkan terbuka selebar dua jengkal tangan. Dari sana, angin malam masuk pelan, membawa aroma tanah basah dan daun-daunan. Ia tahu pagar bambu itu hanya sepuluh meter dari sini. Ia tahu mereka pasti sudah menunggu—mungkin sudah datang sejak setengah jam lalu, bersembunyi di kegelapan.

Aisyah mengambil gayung, mengisi air dari bak sumur kecil di dalam. Air dingin langsung membuat bulu kuduknya merinding, tapi ia tersenyum kecil. Ia sengaja memilih sabun colek yang harum mawar—yang paling wangi yang ia punya—agar busa-busa nanti lebih banyak, lebih lama menempel di tubuhnya, lebih lama memberi pertunjukan.

Sebelum memulai, ia berhenti lagi di depan cermin. Ia angkat rambut panjangnya, mengikatnya longgar di atas kepala—tapi sengaja tidak terlalu rapi, agar beberapa helai tetap jatuh ke bahu dan dada, membingkai payudaranya dengan cara yang lebih menggoda.

Ia menarik napas terakhir yang panjang.

“Iya Allah… ampuni hamba-Mu,” gumamnya lirih, tapi kali ini gumaman itu terdengar setengah hati.

Kemudian ia melangkah ke tengah kamar mandi, tepat di tempat yang paling terang dari sinar bulan yang menyusup dari ventilasi atas. Ia tahu posisi ini membuat tubuhnya terpampang sempurna dari celah pagar.

Ia angkat gayung pertama, menuang air perlahan dari atas kepala.

Air dingin mengalir deras, membasahi rambut, turun ke leher, ke dada, ke perut, ke selangkangan, hingga ke ujung kaki.

Dan di saat yang sama, ia mendengarnya—suara daun bergesek pelan di luar pagar. Napas tertahan. Langkah kaki yang berusaha tak berisik.

Mereka sudah datang.

Aisyah menutup mata sejenak, membiarkan air membasahi wajahnya.

Malam ini, ia tak lagi akan pura-pura tak tahu.

Malam ini, ia akan memberi mereka—dan dirinya sendiri—apa yang sudah terlalu lama mereka rindukan.

Aisyah berdiri di tengah kamar mandi yang hanya diterangi sinar bulan samar dan bohlam kecil yang berkedip pelan. Air di gayung pertamanya sudah dituang perlahan dari atas kepala. Rambutnya yang diikat longgar langsung basah kuyup, beberapa helai lepas menempel di pipi, leher, dan turun membelai payudaranya yang telanjang.

Ia menutup mata sejenak, membiarkan air dingin mengalir bebas di sekujur tubuhnya. Dari ubun-ubun, air mengalir ke dahi, turun ke hidung, bibir yang sedikit terbuka, dagu, lalu ke leher panjangnya. Tetesan-tetesan itu kemudian membelah di antara kedua payudaranya yang penuh, mengalir di lekuk tengah dada, menyentuh puting cokelatnya yang sudah tegang keras karena dingin dan hasrat yang membara.

Ia mengangkat kedua tangannya perlahan, seolah sedang merapikan rambut basah, tapi gerakan itu sengaja dibuat lambat—membuat dadanya terangkat lebih tinggi, payudaranya terpampang lebih jelas, putingnya menonjol tajam. Dari luar pagar, ia mendengar napas yang semakin kasar, daun bergesek lebih sering. Mereka sudah sangat dekat malam ini.

Gayung kedua ia tuang dari bahu kiri. Air mengalir deras di lengan, turun ke siku, lalu ke perut rata yang naik turun cepat. Ia memutar tubuhnya sedikit demi sedikit, menghadap langsung ke arah celah pagar yang paling besar—tak lagi pura-pura tak tahu. Kini punggungnya yang telanjang terlihat sempurna: lekuk tulang belakang yang halus, pinggang ramping, lalu pantat bulat yang kencang bergetar pelan setiap kali ia bergerak.

Ia mengambil sabun colek mawar, menggosokkannya di telapak tangan hingga berbusa banyak. Tangan kanannya mulai menggosok leher dulu, perlahan, seperti sedang dipijat sendiri. Jari-jarinya turun ke dada, mengelus payudara kirinya dari bawah, mengangkatnya pelan, lalu menggosok putingnya dengan gerakan melingkar kecil. Ia menggigit bibir bawah keras-keras agar desah kecil yang hampir keluar tertahan. Putingnya semakin mengeras, terasa berdenyut setiap kali jempolnya menyentuhnya.

Tangan kirinya ikut bergabung, kini kedua payudaranya digosok bergantian, busa putih menutupi bukit kembarnya, tapi sengaja tak menutupi puting—malah membiarkannya tetap terlihat mengkilat di antara busa. Ia memejamkan mata lagi, membayangkan bukan tangannya sendiri yang menyentuh, tapi tangan-tangan kasar dari luar sana.

Air gayung ketiga ia tuang dari depan, langsung ke dada. Busa sabun tercuci perlahan, air mengalir deras di antara kedua payudaranya, turun ke perut, lalu ke selangkangan yang sudah basah bukan hanya oleh air. Ia merapatkan paha sesaat, merasakan denyut kuat di klitorisnya yang bengkak.

Kini ia membungkuk sedikit, sengaja lebih dalam dari kemarin—membuat pantatnya terangkat tinggi, belahan bulatnya terbuka lebar ke arah pagar. Air dari gayung keempat ia tuang dari punggung, mengalir langsung ke lekuk pantatnya, turun ke belahan dalam, menyentuh lipatan sensitif yang tersembunyi. Ia tahu persis apa yang mereka lihat sekarang. Dan suara desahan kecil dari luar pagar—tak lagi tertahan sepenuhnya—membuat tubuhnya bergetar hebat.

Tangan kanannya turun perlahan, menggosok paha dalam dengan sabun, semakin naik, semakin dekat ke tempat yang paling basah. Jarinya hampir—hampir—menyentuh klitorisnya, tapi ia menahan diri. Belum. Ia ingin mereka melihat dulu betapa basahnya ia malam ini.

Ia berbalik lagi, kini menghadap langsung ke pagar. Kedua kakinya ia buka sedikit lebih lebar, pura-pura sedang membilas sabun di paha dalam. Air mengalir deras di antara pahanya, membasahi bulu halus hitam yang sudah basah kuyup. Ia angkat satu kaki ke pinggir bak sumur, seolah sedang membersihkan telapak kaki—tapi posisi itu membuat selangkangannya terbuka lebar, lipatan merah mudanya terlihat samar di bawah sinar bulan.

Desahan dari luar pagar kini lebih jelas. Ia mendengar nama sendiri dipanggil pelan, serak: “Bu Aisyah…”

Dan kali ini, ia tak menunduk lagi.

Ia membuka mata perlahan, menatap langsung ke kegelapan di balik pagar—tahu persis di mana mereka berada. Bibirnya membentuk senyum kecil, hampir tak terlihat, tapi cukup untuk membuat napas keempat remaja itu terhenti sejenak.

Ia menuang gayung terakhir, dari atas kepala lagi, membiarkan air membasahi seluruh tubuhnya untuk terakhir kali. Air mengalir di mana-mana, membersihkan busa, meninggalkan kulitnya mengkilat basah, telanjang sempurna.

Proses mandi malam ini bukan lagi sekadar membersihkan tubuh.

Ini adalah pertunjukan.

Dan Aisyah, untuk pertama kalinya, menjadi pemeran utama yang tak lagi malu mengakui bahwa ia menikmati setiap detiknya.

Di balik pagar bambu yang sudah tua dan berlubang-lubang, keempat remaja itu berdiri membeku dalam kegelapan, napas mereka tersengal-sengal seperti baru lari jauh. Malam ini mereka datang lebih awal, bersembunyi sejak pukul sepuluh, dan kini setiap detik terasa seperti hadiah yang tak ternilai.

Rian, yang paling depan, menempelkan wajahnya erat-erat ke celah terbesar. Matanya melebar maksimal, tak berkedip sedetik pun. “Gila… gila banget…” gumamnya serak, hampir tak bersuara. Tangan kanannya sudah di dalam celana sejak Aisyah mulai menuang air pertama, menggosok dirinya sendiri dengan gerakan cepat tapi hati-hati agar tak terlalu berisik. Ketika Aisyah memutar tubuh dan membungkuk dalam-dalam, memperlihatkan belahan pantatnya yang basah mengkilat, Rian mengumpat pelan, “Sialan… gue mau mati rasanya.” Tubuhnya bergetar hebat, dan hanya dalam hitungan detik ia sudah mencapai puncak—basah di tangan dan celana tanpa bisa menahan lagi.

Dika, di sebelahnya, menggigit lengan bajunya sendiri hingga terasa nyeri agar tak mengerang keras. Ia tak lagi malu—tangan kirinya meremas tonjolan di celananya dengan ganas. Saat Aisyah menghadap langsung ke pagar, membuka kakinya lebar dan mengangkat satu kaki ke pinggir bak, Dika kehilangan akal sepenuhnya. “Bu Aisyah… lo liat kita kan? Lo sengaja buka buat kita kan?” bisiknya panik tapi penuh hasrat. Napasnya terputus-putus, dan ketika ia mendengar Rian mendesah pelan di sebelahnya, Dika ikut menyusul—tubuhnya menegang, lututnya hampir ambruk, cairan hangat membasahi celananya.

Bayu, yang biasanya paling pendiam, malam ini tak lagi bisa diam. Ia berdiri agak miring, tangan kanannya menggosok dirinya sendiri dengan ritme yang semakin cepat. Matanya tak lepas dari payudara Aisyah yang digosok sabun dengan gerakan melingkar itu. “Cantik banget… ya Tuhan…” gumamnya berulang-ulang, suaranya gemetar. Ketika Aisyah menatap langsung ke arah mereka dan tersenyum kecil—senyum yang jelas ditujukan untuk mereka—Bayu tak tahan lagi. Ia menutup mulut dengan tangan kiri, tubuhnya bergetar hebat, dan ia “meledak” lebih keras dari yang ia kira—desahan tertahan keluar dari tenggorokannya, cukup keras hingga Rian menoleh dan menyikutnya pelan agar diam.

Faro, si bungsu, berdiri paling belakang, tapi malam ini ia tak lagi hanya memandang. Tubuhnya yang masih polos bereaksi paling hebat. Ia bahkan belum pernah benar-benar bermasturbasi sebelum malam kemarin, tapi sekarang tangannya sudah bergerak sendiri di dalam celana pendeknya. Wajahnya merah padam, air mata hampir menetes karena campuran rasa takut, malu, dan kenikmatan yang terlalu kuat. Saat Aisyah memanggil namanya—atau setidaknya ia mendengar “Bu Aisyah…” dari bibir Rian—dan saat ia melihat lipatan intim Aisyah yang terbuka samar di bawah sinar bulan, Faro tak bisa lagi menahan. Tubuhnya mengejang keras, kakinya gemetar, dan ia mencapai klimaks pertamanya yang begitu intens hingga ia harus berpegang pada pagar agar tak jatuh. Cairan hangat membasahi celananya banyak sekali, hingga terasa lengket di paha.

Mereka berempat kini berdiri dengan napas tersengal, tubuh lemas, celana basah. Tak ada yang bicara selama beberapa menit. Hanya suara air yang masih menetes dari tubuh Aisyah di dalam, dan angin malam yang berhembus pelan.

Rian akhirnya berbisik paling pertama, suaranya parau:  
“Dia… dia bener-bener ngasih pertunjukan buat kita. Dia tahu kita di sini. Dia seneng kita liat.”

Dika mengangguk lemah, masih mencoba mengatur napas. “Besok… besok kita harus lebih berani. Gue ga tahan cuma ngintip doang.”

Bayu dan Faro hanya mengangguk pelan, mata mereka masih tertuju pada siluet Aisyah yang kini mulai membungkus tubuh dengan handuk—tapi lambat sekali, seolah masih ingin memberi mereka beberapa detik terakhir.

Mereka tahu malam ini sudah melewati batas.  
Dan mereka tahu, besok malam mereka akan kembali—dengan hati yang sudah tak lagi takut, tapi penuh rencana yang jauh lebih nakal dari sebelumnya.

Sementara itu, di dalam kamar mandi, Aisyah tersenyum sendiri mendengar napas kasar dan desahan-desahan yang tak lagi disembunyikan itu.  
Ia tahu persis apa yang baru saja terjadi pada keempat pemuda di luar sana.  
Dan untuk pertama kalinya, ia tak lagi merasa bersalah karenanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 7

Perjalanan Neraka Kenikmatan Bab 7

Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 10