Cadar Basah di Kebun Nafsu Bab 2

**Bab 2: Celah yang Semakin Lebar**

Malam itu angin kampung berhembus lebih dingin dari biasanya, membawa aroma daun pisang basah dan tanah liat yang lembab. Aku, Rizal, berbaring di samping Nia di ranjang kayu yang sudah reyot, tapi pikiranku tak bisa tenang. Tubuh istrinya yang masih hangat setelah percintaan liar tadi malam menempel padaku, napasnya pelan dan teratur di balik cadar krem yang tak pernah lepas bahkan saat tidur. Rambut hitamnya tergerai sedikit di bahu, harum sabun colek kampung yang murah itu saja sudah cukup membuat kontolku berdenyut lagi.

“Mas... tidur yuk. Besok subuh kita sholat berjamaah,” bisik Nia lembut, tangannya mengelus dada ku dengan penuh kasih. Suaranya selalu seperti itu—manis, penuh ketaatan, mengingatkanku pada wanita sholehah yang kupilih dari ribuan gadis. Tapi di kampung ini, ketaatannya justru menjadi api yang membakar nafsu para lelaki.

Aku mencium keningnya di atas kain cadar. “Iya, Sayang. Kamu istri terbaik.” Dalam hati, aku tahu besok pagi akan sama seperti hari-hari sebelumnya. Intipan. Bisik-bisik. Dan hasrat gelapku yang semakin tak terkendali.

Pagi harinya, setelah sholat Subuh, Nia pergi ke dapur belakang untuk memasak. Gamis panjang berwarna pastel abu muda dengan cadar senada membalut tubuhnya yang ramping. Dari jendela, aku melihat Pak Karim sudah “kebetulan” berdiri di kebunnya, mata tua itu tak lepas dari pinggul Nia yang bergoyang pelan saat dia mengaduk sayur. Mas Joko muncul tak lama kemudian, pura-pura memetik pisang tapi pandangannya jelas tertuju ke arah dada Nia yang naik-turun di balik kain longgar.

“Wah, Mbak Nia, masak apa pagi ini? Wanginya sampai ke sini,” seru Mas Joko dengan senyum licik.

Nia hanya mengangguk sopan, suaranya tertahan di balik cadar. “Biasa saja, Mas. Sayur asem. Maaf, saya sibuk.” Dia cepat-cepat masuk lagi, tapi aku melihat bahunya agak tegang. Risih, jelas. Tapi dia tak pernah mengeluh berlebihan. “Ini kampung suami saya, Mas. Harus sabar,” katanya suatu kali.

Siang itu panas sekali. Nia memutuskan mandi siang di kamar mandi belakang. Aku sengaja tak ikut mengawasi dari dekat, tapi aku meninggalkan celah bambu lebih lebar dari kemarin—hanya sedikit, cukup untuk bayangan yang lebih jelas. Aku duduk di ruang tengah, pura-pura membaca kitab, tapi telingaku tajam mendengar suara gayung.

Air sumur dingin mengguyur tubuhnya. Suara basah itu terdengar erotis di telingaku. Lalu... suara daun bergesekan. Kali ini bukan dua orang. Ada tiga bayangan. Pak Karim, Mas Joko, dan Pak RT yang gemuk dengan kumis tebal. Mereka berdiri berdekatan di balik pohon pisang, celana mereka sudah diturunkan sedikit. Kontol Pak Karim yang sudah tua tapi masih tegang memompa pelan. Mas Joko lebih muda, kontolnya panjang dan urat-urat menonjol, tangannya bergerak cepat.

Aku merasa darahku mendidih. Cemburu menyengat, tapi kontolku mengeras sampai sakit. Aku berjalan pelan ke belakang rumah, mengintip dari sudut yang aman. Nia membelakangi mereka, tak sadar celah semakin terbuka. Dia sedang membungkuk mengambil ember, bokong bulat putihnya terpampang sempurna. Belahan pantatnya yang mulus, sedikit basah oleh air, dan celah vaginanya yang pink rapi terlihat sekilas. Payudaranya bergantung berat, puting merah muda mengeras karena dingin.

“Gila... liat tuh memeknya... pink banget,” bisik Mas Joko pelan. Pak RT mengangguk, tangannya memompa lebih cepat. “Istri sholehah tapi badannya enak banget. Cadarnya stylish gitu, bikin pengen tarik aja.”

Nia menyabuni tubuhnya dengan teliti. Tangan halusnya mengusap leher, turun ke payudara montoknya, meremas sedikit saat membersihkan di bawahnya. Sabun berbusa menetes ke perut rata, lalu ke paha mulusnya. Saat dia membersihkan selangkangan, jarinya menyentuh klitorisnya sekilas—mungkin tak sengaja—tubuhnya agak menggigil. Dia cepat-cepat mengguyur air, berdoa pelan, “Ya Allah, lindungi hamba-Mu dari pandangan haram...”

Suara doanya yang merdu justru membuat para pengintip semakin bergairah. Pak Karim mendesah pelan, mani putihnya menyembur ke tanah kebun. Mas Joko menyusul tak lama kemudian, tubuhnya bergetar. Pak RT masih memompa, matanya lapar.

Aku tak tahan. Tangan kananku sudah merogoh sarung, memainkan kontolku yang berdenyut keras sambil menonton. Melihat istriku yang suci, yang hanya aku yang boleh menyentuh, diintip dan dijadikan bahan fantasi lelaki lain... rasanya seperti candu. Aku memompa pelan, napasku tersengal.

Nia selesai mandi. Dia mengeringkan tubuh dengan handuk kecil, lalu memakai gamis dan cadar lagi dengan cepat. Saat keluar, wajahnya di balik kain terlihat agak pucat. “Mas... tadi aku benar-benar merasa ada yang ngintip. Celahnya... lebih lebar. Aku takut, tapi kamar mandi cuma ini.”

Aku memeluknya erat, mencium aroma sabun di tubuhnya. “Sabarlah, Sayang. Aku akan jaga kamu.” Tapi dalam hati, aku tak ingin berhenti. Malah, aku ingin lebih.

Malam harinya, setelah makan malam, kami berdua di kamar. Lampu temaram. Nia melepas cadarnya perlahan di depanku saja, rambut panjangnya tergerai indah. Matanya yang indah menatapku penuh cinta. “Mas, kita sholat sunnah dulu ya? Biar hati tenang.”

Kami sholat berdua. Suaranya merdu membaca ayat-ayat. Tapi setelah salam, nafsuku sudah tak tertahankan. Aku menariknya ke pangkuanku. “Hari ini... aku lihat mereka lagi, Sayang. Tiga orang. Mereka memompa kontol melihat kamu mandi.”

Nia tersentak, pipinya merah. “Mas... itu dosa. Kenapa kamu ceritain? Aku risih sekali...”

Tapi aku melihat di matanya ada kilatan lain. Tubuhnya bereaksi. Aku meraba selangkangannya dari luar gamis—basah. “Kamu basah, Nia. Cerita ini bikin kamu basah?”

Dia menggeleng malu, tapi tak menolak saat aku menarik gamisnya ke atas. Payudaranya yang montok melompat keluar, putingnya sudah keras. Aku mengulum salah satunya, mengisap kuat sambil tanganku meremas yang lain. Nia mendesah, “Ahh... Mas... pelan...”

Aku menceritakan detailnya. Bagaimana bokongnya terpampang saat membungkuk. Bagaimana payudaranya bergoyang. Bagaimana para lelaki itu memompa kontol mereka sambil menyebut “memek pink”-nya. Setiap kata membuat Nia semakin basah. Vaginanya yang sempit menggenggam jariku dengan kuat saat aku memasukkan dua jari sekaligus.

“Mas... aku tetap teguh... aku tak akan biarkan mereka sentuh... hanya Mas... ahh!” erangnya saat aku menjepit klitorisnya.

Aku membaringkannya, membuka paha mulusnya lebar-lebar. Kontolku yang sudah mengkilap precum menusuk masuk dalam satu hentakan. Nia menjerit pelan, kuku jarinya mencengkeram punggungku. Aku menggoyang pinggulku ganas, menghunjam dalam-dalam, membayangkan para pengintip itu mendengar desahannya meski samar.

“Bayangin aja, Sayang... mereka di luar kebun sekarang, denger suara kita... pengen gantian ngewe kamu...” bisikku nakal di telinganya.

Nia menggeleng, tapi pinggulnya mendongak menyambut setiap hantaman. “Tidak... aku milik Mas... hanya Mas... ahh... lebih dalam, Mas!”

Kami berganti posisi. Aku duduk di tepi ranjang, Nia menunggangiku menghadap ke depan—cowgirl. Cadarnya masih setengah terpasang di leher, rambutnya beterbangan saat dia naik-turun. Payudaranya bergoyang liar di depan wajahku. Aku meremas bokongnya, menampar pelan sampai merah. Suara plok-plok basah memenuhi kamar kecil itu.

“Mas... aku mau keluar... ahh!” Tubuh Nia kejang, cairan hangatnya menyembur membasahi kontolku. Aku tak tahan, menyemburkan mani panas ke dalam rahimnya, banjir sampai meleleh keluar.

Kami ambruk berpelukan. Nia mencium bibirku dalam. “Mas... ini semakin gila. Tapi... aku cinta kamu. Aku akan tetap sholehah, tetap bercadar, meski mereka intip setiap hari.”

Keesokan harinya, godaan semakin berani. Saat Nia mandi sore, aku sengaja pergi ke warung sebentar. Saat kembali, aku melihat Pak Karim sudah lebih dekat—hampir menempel di pagar bambu. Mas Joko memegang ponsel, mungkin merekam. Nia mandi dengan cepat, tapi gerakannya yang panik justru membuat tubuhnya semakin terlihat seksi.

Malam itu, aku tak bisa tidur. Aku bangun tengah malam, melihat Nia tidur pulas. Cadarnya sedikit miring. Aku keluar pelan ke belakang, dan ternyata para pengintip masih ada—mereka nongkrong diam-diam di kebun, berharap ada kejutan malam.

Aku kembali ke kamar, membangunkan Nia dengan ciuman di leher. “Sayang... mereka masih di luar. Mau lihat suami kamu ngewe istri sholehahnya?”

Nia ragu, tapi nafsu sudah menguasai. Kami bercinta lagi, kali ini dengan pintu kamar sedikit terbuka, suara desahan kami sengaja lebih keras. Aku doggy style dia di depan jendela kecil yang menghadap kebun. Bayangan di luar bergerak. Mereka mendengar. Mereka melihat siluet.

Nia mencapai klimaks berkali-kali, tubuhnya gemetar hebat. “Mas... aku tak tahan... tapi aku tetap milikmu... selamanya...”

Cerita di kampung ini masih panjang. Intipan semakin berani, godaan nafsu semakin kuat. Tapi Nia tetap teguh dengan cadarnya yang stylish, dengan imannya. Dan aku, suaminya, semakin tenggelam dalam hasrat gelap yang manis ini—melindungi sekaligus menikmati istrinya yang selalu menjadi target pandangan lapar.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 7

Perjalanan Neraka Kenikmatan Bab 7

Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 10