Cadar Basah di Kebun Nafsu Bab 3

**Bab 3: Bisikan Daun Pisang yang Basah**

Aku, Rizal, berdiri di ambang pintu belakang rumah kayu tua itu, angin malam kampung menyapu wajahku yang panas. Sudah hampir seminggu kami di sini, dan setiap hari rasanya seperti ujian yang semakin berat bagi iman dan nafsu. Nia, istriku yang sholehah, masih setia dengan cadarnya yang stylish—kali ini warna sage green lembut dengan bordir bunga kecil di pinggirnya, dipadukan gamis panjang berbahan katun yang mengalir indah di tubuhnya. Di balik kain tipis itu, aku tahu ada seorang wanita berusia 28 tahun dengan kulit putih susu yang halus, rambut hitam lurus sepinggang, dan lekuk tubuh yang sempurna: payudara montok ukuran 36C yang selalu tegak, pinggang ramping seperti gitar, dan bokong bulat kencang yang bergoyang pelan saat berjalan.

Pagi itu, setelah sholat Subuh berjamaah di musholla kecil kampung, Nia membantu Ibu memasak. Aku melihat dari kejauhan bagaimana para tetangga pria mulai berkumpul di kebun sebelah. Pak Karim dengan kumisnya yang sudah memutih, Mas Joko yang tubuhnya atletis dari kerja sawah, dan Pak RT yang gemuk tapi matanya selalu lapar. Mereka berpura-pura membersihkan rumput, tapi pandangan mereka tak lepas dari Nia yang membungkuk mengambil air di sumur depan. Gamisnya menempel sedikit di paha karena keringat pagi, memperlihatkan garis kontur paha dalam yang mulus.

“Mas, hari ini aku mandi siang saja ya? Panas sekali,” kata Nia saat kami makan siang. Suaranya lembut, tertahan di balik cadar sage green-nya. Matanya menunduk malu, tapi aku bisa lihat ada ketegangan di sana. Dia tahu. Dia merasa.

“Iya, Sayang. Hati-hati,” jawabku, suaraku biasa saja. Tapi dalam dada, ada badai. Aku sengaja pergi ke warung sebentar setelah itu, membiarkan situasi berjalan. Saat kembali, aku langsung menyelinap ke sudut belakang rumah, di balik tumpukan kayu bakar.

Kamar mandi bambu itu berdiri sendirian, dindingnya dari anyaman bambu yang sudah lapuk dan retak di beberapa tempat, atap seng berkarat. Pagar hidup dari pisang dan ilalang hanya setinggi dada, mudah sekali untuk mengintip. Suara gayung beradu air sudah terdengar. Aku mendekat pelan.

Nia sudah melepas cadar dan gamisnya di dalam. Tubuh telanjangnya yang sempurna terpampang di bawah cahaya matahari siang yang menyusup lewat celah-celah bambu. Rambut hitam panjangnya tergerai basah, menempel di punggung halusnya yang melengkung indah. Dia berdiri di atas lantai semen kasar, ember besar penuh air sumur dingin di sampingnya. Dengan gerakan lembut penuh ketaatan, dia mulai menyiram tubuhnya. Air jernih mengalir dari bahu lebarnya yang feminin, menuruni tulang belakang, mengikuti lekuk pinggang ramping, lalu membelah bokong bulatnya yang putih mulus. Tetesan air menetes dari ujung rambutnya yang basah, jatuh ke payudaranya yang montok dan berat.

Payudara Nia bergoyang pelan saat dia mengangkat tangan untuk menyabuni leher. Putingnya yang kecil, berwarna merah muda segar seperti buah stroberi muda, mengeras karena air dingin. Dia mengusap sabun colek kampung yang beraroma bunga melati murah itu dengan teliti, tangan halusnya melingkar di sekeliling payudara kanan, meremas pelan untuk membersihkan di bawahnya, lalu ke kiri. Busanya putih menetes turun, mengalir melewati perut rata yang tak ada lemak berlebih, ke arah pusarnya yang kecil dan dalam. Nia membungkuk sedikit untuk mengambil gayung lagi, dan saat itu bokongnya terangkat, belahan pantatnya terbuka lebar. Aku bisa melihat jelas celah vaginanya yang pink cerah, rapi dicukur bersih, bibir luarnya yang tebal sedikit terbuka karena posisi, klitoris kecilnya yang tersembunyi di balik lipatan halus.

Di balik pagar, bayangan semakin jelas. Pak Karim sudah menempel hampir di celah terbesar, napasnya tersengal. Kontolnya yang agak melengkung keluar dari celana pendeknya, kepala glansnya sudah mengkilap precum. Tangan kasarnya memompa lambat, mata tak berkedip. Mas Joko di sampingnya, kontol panjangnya yang urat-urat tegang berdiri tegak, tangannya bergerak lebih cepat. Pak RT di belakang, tubuh gemuknya bergoyang pelan sambil memegang ponsel—mungkin merekam diam-diam.

Nia tak langsung sadar. Dia melanjutkan ritual mandinya dengan khusyuk. Tangan kanannya turun ke selangkangan, menyabuni area intimnya dengan hati-hati. Jarinya mengusap bibir vagina dari atas ke bawah, membersihkan lipatan-lipatan halus itu. Saat jari tengahnya menyentuh klitoris, tubuhnya sedikit menggigil—bukan karena nafsu, tapi refleks dingin air. “Astaghfirullah... ya Allah, jauhkan hamba dari yang haram,” gumamnya pelan, suaranya merdu seperti tilawah. Dia mengguyur air deras ke sana, membersihkan busa sampai bersih, air mengalir deras dari celah memeknya yang pink, menetes ke lantai.

Saat dia membalik badan menghadap arah pagar, payudaranya terpampang penuh. Montok, berat, dengan areola kecil yang sempurna. Air menetes dari putingnya seperti air mata. Dia menyabuni paha dalamnya, mengangkat satu kaki ke ember, sehingga vagina terbuka lebih lebar. Celah pink itu berkilau basah, bibir dalamnya sedikit terlihat. Para pengintip hampir tak bisa menahan. Mas Joko mendesah pelan, “Sial... memeknya mulus banget... pengen jilat...”

Nia tiba-tiba menoleh ke arah celah. Matanya melebar di balik rambut basah yang menutupi sebagian wajah. Risih jelas terlihat. Dia cepat-cepat mengguyur tubuhnya lagi, membersihkan sisa sabun dari bokong dan paha, gerakannya panik tapi tetap anggun. Air mengalir deras di sepanjang kakinya yang panjang dan langsing. Dia mengambil handuk kecil, mengeringkan tubuh dengan cepat—mengelap payudara yang bergoyang, lalu turun ke perut, selangkangan, dan kaki. Cadar dan gamisnya dipakai lagi dalam hitungan detik, tubuh basahnya membuat kain menempel sementara di lekuk-lekuk, memperlihatkan kontur puting yang masih keras.

Saat keluar kamar mandi, wajahnya pucat di balik cadar sage green. “Mas... mereka semakin berani. Aku lihat bayangan jelas tadi. Aku mandi sambil menutup celah sebisa mungkin, tapi... tak bisa sempurna.”

Aku memeluknya, merasakan kehangatan tubuhnya yang baru mandi. “Sabarlah, Nia. Kita tak punya pilihan kamar mandi lain. Kamu tetap kuat, istriku yang sholehah.”

Siang berganti sore. Nia duduk di teras, membaca Quran dengan suara pelan. Para ibu-ibu kampung datang mengobrol, tapi mata lelaki tetap melirik dari kejauhan. Malam harinya, dia tak mandi lagi—hanya wudhu di kamar. Aku melihat dia gelisah di ranjang, tangannya memegang cadar seolah pelindung. Tak ada percintaan malam itu. Aku hanya memeluknya, mendengar doanya yang panjang sebelum tidur. “Ya Allah, lindungi aku dan suamiku dari fitnah...”

Keesokan paginya, hujan deras turun. Kampung jadi lembab, udara dingin. Nia tetap harus mandi karena keringat semalam. Kali ini aku sengaja mengawasi dari dekat. Suara hujan memukul seng atap kamar mandi bercampur dengan gayung air. Nia mandi lebih cepat, tapi deskripsi tubuhnya tetap memukau. Rambutnya basah kuyup, menempel di dada. Saat dia menyabuni payudara, busa meluncur turun lambat di kulit putihnya yang mengkilap. Putingnya mengeras lagi, lebih tegak karena dingin hujan yang menyusup. Dia membungkuk dalam untuk mengambil gayung dari ember bawah, bokongnya terangkat tinggi, celah vagina pink-nya terbuka lebar di bawah cahaya redup. Air hujan yang bocor dari seng menetes tepat di punggungnya, mengalir ke belahan pantat.

Para pengintip semakin basah kuyup di kebun, tapi tak mundur. Pak Karim memompa kontolnya dengan tangan kiri sambil memegang pagar. Mas Joko merekam dengan ponsel di bawah payung kecil. Suara erangan pelan mereka tertutup hujan, tapi gerakan tangan mereka jelas.

Nia menyelesaikan mandi dengan doa yang lebih panjang. Tubuhnya menggigil saat keluar, gamis menempel basah di kulit. “Mas, aku tak tahan lama-lama di sini. Tapi demi kamu, aku sabar.”

Siang itu, dia membantu tetangga panen di kebun depan. Cadarnya basah sedikit oleh gerimis, kain menempel di tubuh, memperlihatkan garis bra yang tak pernah dilepas. Lelaki-lelaki kampung semakin banyak yang “ikut membantu”. Pandangan mereka lapar.

Malam kedua tak ada bercinta. Nia lelah, risih, dan lebih banyak berdoa. Aku menghormatinya, hanya memeluk dari belakang, merasakan kehangatan tubuh sholehahku yang tetap teguh meski godaan semakin kuat. Tapi di kepalaku, bayangan mandi siang tadi berputar terus: air yang mengalir di celah vaginanya, payudara bergoyang, bokong terbuka, dan mata-mata lapar di balik daun pisang.

Hari ketiga, mandi sore lagi. Deskripsi semakin jelas bagiku yang mengintip. Nia melepas cadar perlahan di dalam, rambutnya tergerai seperti sutra hitam. Dia mengguyur kepala dulu, air mengalir deras membasahi seluruh rambut sampai ujung, menetes ke wajah cantiknya yang tanpa makeup. Lalu bahu, dada. Tangan kirinya memegang payudara kiri sambil menyabuni, meremas pelan untuk membersihkan keringat di lipatan bawah. Putingnya dipilin jari tak sengaja saat membersihkan, membuatnya mengeras lebih lama. Perutnya digosok melingkar, lalu paha. Saat membersihkan vagina, dia duduk sedikit di bangku kecil bambu, kaki terbuka lebar. Jari-jarinya mengusap bibir luar, membersihkan lipatan dalam dengan teliti, air gayung menyiram langsung ke klitoris yang sedikit membengkak karena gesekan kain seharian. “Subhanallah...” desahnya pelan, suci.

Pengintip sudah berani mendekat. Suara desahan mereka terdengar samar di sela hujan kecil. Nia cepat selesai, tapi tubuhnya tetap basah berkilau saat memakai pakaian.

Aku tak mendekatinya untuk bercinta malam itu. Kami hanya berbicara panjang, Nia curhat risihnya, aku mendengar sambil menahan nafsu. “Aku tetap bercadar, Mas. Tak akan kulepas di depan mereka. Tubuh ini hanya untuk suamiku di halal.”

Tapi hasrat gelapku semakin membara. Intipan semakin sering, celah semakin sengaja dibiarkan, dan Nia tetap teguh di tengah badai nafsu kampung ini. Cerita masih jauh dari akhir—bayang-bayang di kebun semakin gelap, dan aku semakin terjerat dalam pengamatan yang manis sekaligus menyiksa.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 7

Perjalanan Neraka Kenikmatan Bab 7

Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 10