Cadar Basah di Kebun Nafsu Bab 4
**Bab 4: Layar yang Membakar Rahasia**
Beberapa hari berlalu sejak hujan deras itu, dan kampung kami seolah semakin sempit. Aku, Rizal, merasa hidupku terbagi dua: di satu sisi, aku tetap suami yang menjaga istri sholehahnya dengan penuh kasih; di sisi lain, ada kegelapan yang semakin dalam, di mana setiap celah bambu kamar mandi belakang menjadi panggung rahasia yang membuat darahku mendidih. Nia masih sama—cadarnya yang stylish berganti warna setiap hari, kali ini hijau sage yang lembut dengan aksen bordir emas tipis, gamis panjang yang menutupi segala lekuk tubuhnya yang sempurna. Tapi matanya kini lebih sering tertunduk lebih dalam, risih yang tak pernah hilang sepenuhnya, meski ia tetap teguh berdoa panjang setiap malam.
Pagi itu, setelah Subuh, aku duduk di teras depan sambil mengecek ponsel. Notifikasi WhatsApp berdering pelan. Seorang teman lama dari kampung, namanya Andi—pemuda yang sering nongkrong di warung—mengupdate statusnya. Video pendek: “Wah, di kampung ada yang gini. Wanita cantik bercadar mandi, tapi keintip bro. Stylish banget cadarnya.” Di bawahnya emoji api dan mata. Aku iseng membuka, jantungku langsung berdegup. Gambar buram tapi familiar—kamar mandi belakang rumah kami.
Dengan tangan sedikit gemetar, aku chat dia secara pribadi. “Bro, apa tuh videonya? Lucu ya, kirim link dong.”
Andi balas cepat, “Haha, iya nih viral di grup cowok. Nih link-nya. Dari situs bokep lokal, katanya di-upload sama orang dalam. Wanita sholehah tapi badannya juara.”
Link itu mengarah ke sebuah website dewasa yang sudah tak asing di kalangan lelaki. Aku menunggu Nia sibuk di dapur, lalu menyelinap ke kamar belakang. Dengan headset, aku memutar videonya.
Itu dia. Nia.
Video berdurasi hampir sepuluh menit, diambil dari sudut kebun dengan kualitas yang cukup jelas meski agak goyang. Hari itu pasti saat mandi siang di bawah gerimis. Kamera zoom ke celah bambu yang lebih lebar dari biasanya. Nia berdiri telanjang, cadarnya sudah dilepas dan digantung di paku. Rambut hitam panjangnya basah kuyup, menempel seperti tirai sutra di punggung putih mulusnya. Air sumur dingin mengguyur dari gayung yang diangkat tinggi, mengalir deras dari puncak kepalanya, membasahi wajah cantiknya yang polos tanpa cadar—alis tebal, mata sipit indah, bibir merah alami yang sedikit terbuka karena dingin.
Air itu menuruni leher jenjangnya, ke bahu yang halus, lalu ke payudara montoknya yang bergoyang lembut setiap gerakan. Puting merah muda kecilnya mengeras sempurna, basah berkilau seperti permata. Nia menyabuni dengan gerakan khusyuk, tangan kanannya melingkar di payudara kiri, meremas pelan untuk membersihkan lipatan bawah yang lembut, busa putih tebal menetes turun seperti krim. Payudara kanannya digosok melingkar, jari-jarinya tak sengaja menyentuh puting, membuatnya semakin tegak dan panjang sedikit. Kamera zoom lebih dekat—kulitnya yang putih susu mengkilap, areola kecil yang sempurna, tetesan air yang jatuh dari ujung puting seperti undangan.
Dia membalik badan, membungkuk mengambil ember. Bokong bulat kencangnya terangkat tinggi, belahan pantat mulus terbuka lebar. Celah vaginanya yang pink cerah terpampang jelas di layar, bibir luarnya tebal dan halus karena cukur rapi, sedikit basah bukan hanya air tapi mungkin sedikit lendir alami dari gesekan. Saat dia menyabuni selangkangan, jari tengahnya mengusap bibir vagina dari atas ke bawah dengan teliti, membersihkan setiap lipatan dalam. Klitoris kecilnya tersentuh sekilas, membuat pinggulnya menggigil pelan. “Astaghfirullah...” suaranya samar terdengar di video, merdu seperti tilawah. Dia mengguyur air deras ke memeknya, air menyembur dari celah pink itu, menetes ke paha dalam yang putih dan langsing.
Video berlanjut dengan Nia mengangkat satu kaki ke bangku bambu, membersihkan lebih dalam. Vagina terbuka lebar, bibir dalamnya yang lembab terlihat sekilas, pink muda dan mengkilap. Para pengintip di video asli pasti gila melihat ini. Komentar di bawah video sudah ratusan: “Gila istri sholehah beneran pink memeknya”, “Cadar stylish tapi badan pelacur kelas atas”, “Pengen ngewe sampe pingsan”, “Bokongnya montok banget, pengen doggy di kebun”.
Aku merasa dunia berputar. Itu istriku. Tubuh suci yang hanya boleh aku sentuh, kini tersebar di website bokep. Nafsu dan amarah bercampur jadi satu. Kontolku mengeras sakit di balik sarung, tapi hatiku juga sakit. Siapa yang upload? Pak Karim? Mas Joko dengan ponselnya?
Aku scroll komentar lebih dalam. Banyak akun anonim memuji. Lalu, satu komentar dari akun baru dengan nama samaran “NiaSholehah28” muncul berulang. Aku membuka profilnya—aktif baru-baru ini. Komentar-komentarnya:
“Subhanallah, badan istri ini memang Allah ciptakan sempurna. Payudaranya montok alami, pantatnya bulat kencang. Semoga tetap teguh imannya meski diintip 😔”
“Memek pinknya bersih sekali, suka cara dia membersihkan dengan khusyuk. Istri sholehah tapi bikin gairah banget.”
“Lebih dari ini dong videonya. Pengen lihat dia mandi malam juga. Cadarnya stylish bikin tambah seksi.”
Aku terpaku. Itu gaya bahasa Nia. Cara dia menulis, campur pujian dan doa, tapi memuji detail tubuhnya sendiri. Apakah dia tahu? Apakah dia diam-diam masuk situs ini?
Malam harinya, setelah Isya, Nia duduk di ranjang dengan cadar sage green masih terpasang, membaca Quran di ponselnya. Aku mendekat, memeluknya dari belakang. “Sayang, hari ini ada yang aneh di kampung.”
Dia menoleh, matanya polos. “Apa, Mas?”
Aku tak langsung bilang. Malam itu kami tak bercinta. Aku hanya memeluknya, mendengar doanya yang panjang sebelum tidur. Tapi pikiranku tak tenang. Besok paginya, saat Nia ke pasar, aku cek ponselnya diam-diam saat dia lupa. Riwayat browser tersembunyi—situs bokep yang sama. Dia membuka video dirinya, scroll komentar, dan dari log, dia yang menulis beberapa komentar memuji. Mungkin rasa risih bercampur rasa aneh yang tak terjelaskan, atau mungkin godaan yang mulai merayap ke imannya yang teguh.
Siang itu, mandi sore Nia lebih lama dari biasanya. Aku mengintip lagi, tapi kali ini dengan pengetahuan baru. Tubuhnya yang sama seperti di video: rambut basah tergerai, air mengalir deras membasahi payudara montok yang bergoyang saat dia keramas. Tangan halusnya mengusap sabun ke seluruh lekuk, meremas payudara dengan lebih lambat dari biasanya, putingnya dipilin pelan saat membersihkan. Saat membersihkan vagina, dia duduk di bangku, kaki terbuka lebar menghadap celah bambu. Jari-jarinya mengusap bibir memek pink itu lebih teliti, air gayung menyiram klitorisnya berulang kali. Tubuhnya menggigil lebih lama, desahan kecil “Ahh... ya Allah...” lolos dari bibirnya.
Para pengintip masih ada—kali ini lebih banyak. Mereka tahu video sudah viral. Suara bisik mereka: “Dia pasti udah liat videonya... memeknya basah banget hari ini.”
Nia keluar dengan wajah merah di balik cadar. “Mas... aku merasa... aneh hari ini. Seperti ada yang beda.”
Aku tak bilang apa-apa. Malam itu, setelah makan, kami duduk berdua. Aku tunjukkan link itu padanya. Wajah Nia pucat, tangannya gemetar memegang ponsel. “Mas... itu aku. Ya Allah, dosa apa yang aku lakukan...”
Air matanya jatuh di atas cadar. Tapi saat aku scroll komentar, termasuk yang dari akunnya, dia tak menyangkal. “Aku... iseng masuk, Mas. Lihat videonya... risih, tapi... ada rasa lain. Aku puji karena... karena itu ciptaan Allah, tapi aku tetap tak boleh. Aku minta ampun terus.”
Aku memeluknya erat. Tak ada bercinta malam itu. Kami berdoa bersama panjang, Nia menangis sambil bertaubat. Tapi di dalam dadaku, api hasrat semakin besar. Istri sholehahku kini ada di dunia maya, tubuhnya dipuji ribuan orang, dan dia sendiri diam-diam melihatnya.
Hari-hari berikutnya, video semakin viral. Komentar memuji banjir—payudaranya, bokongnya, cara mandinya yang khusyuk tapi seksi. Nia tetap teguh di dunia nyata: cadar stylish tak lepas, sholat tepat waktu, tapi aku tahu di malam sepi, ponselnya kadang terbuka situs itu. Mandi-mandinya semakin “ceroboh” dengan celah, seolah ada tarikan aneh.
Aku, sebagai suami, terjebak antara melindungi dan menikmati bayang-bayang ini. Kampung ini telah mengubah kami. Dan cerita masih berlanjut, semakin panas di balik daun pisang yang bergoyang.
Komentar
Posting Komentar