Cadar Basah di Kebun Nafsu Bab 5
**Bab 5: Permintaan yang Tak Terucap**
Beberapa hari setelah video pertama itu menyebar seperti api di rerumputan kering kampung, kehidupan kami di lereng gunung ini berubah menjadi sandiwara yang semakin rumit. Aku, Rizal, suami Nia yang seharusnya menjadi pelindung, kini terjebak dalam pusaran hasrat dan kebingungan yang tak kunjung reda. Nia masih tetap istri sholehahku—berusia 28 tahun, cadar sage green atau krem pastel yang stylish selalu membalut wajah cantiknya di depan umum, gamis panjang yang longgar tapi tak mampu menyembunyikan lekuk tubuh sempurna di baliknya. Namun di balik keteguhan imannya, ada retakan kecil yang mulai terlihat, retakan yang justru membuat darahku mendidih setiap kali aku menyadarinya.
Video kedua dan ketiga sudah di-upload ke situs bokep yang sama. Kali ini kualitas lebih baik, diambil dari sudut yang berbeda, mungkin oleh Mas Joko yang lebih berani dengan ponselnya. Satu video fokus pada mandi sore di bawah gerimis tipis, yang lain saat mandi malam dengan lampu temaram yang membuat kulit putih Nia bersinar seperti porselen. Komentar membanjir. Ribuan view dalam hitungan hari. “Request: tolong dia keramas sambil membungkuk lebih lama”, “Minta dia angkat kedua tangan saat sabun payudara”, “Pengen liat dia duduk jongkok sambil cuci memek lebih dekat”, “Cadarnya jangan dilepas dulu, mandi pake cadar basah biar seksi”.
Aku membaca semuanya diam-diam di kamar, kontolku keras tapi hati berdegup cemburu. Lalu, hal aneh mulai terjadi. Beberapa request itu... terealisasi di video berikutnya. Dan aku mulai curiga, Nia-lah yang melakukannya, sambil pura-pura tak tahu apa-apa.
Siang itu, matahari terik menyengat atap seng kamar mandi belakang. Aku sengaja duduk di ruang tengah dengan pintu belakang sedikit terbuka, pura-pura membaca kitab. Suara gayung sudah terdengar. Aku menyelinap ke posisi mengintip favoritku di balik tumpukan kayu.
Nia sudah telanjang di dalam. Cadarnya yang sage green masih dipakai, kain basah menempel di wajah dan lehernya, membuatnya terlihat semakin misterius dan erotis. Rambut hitam panjangnya tergerai basah di bahu, beberapa helai menempel di kain cadar yang lembab. Air sumur dingin mengguyur tubuhnya dari gayung yang diangkat tinggi. Aliran air itu membasahi cadar dulu, membuat kain tipis menempel di pipi, bibir, dan dagunya yang halus, lalu turun ke payudara montoknya yang bergoyang lembut. Puting merah muda kecilnya mengeras nyata di balik tetesan air, areola sempurna berkilau.
Dia mulai keramas. Request pertama yang terealisasi. Nia membungkuk dalam-dalam, pinggul terangkat tinggi, bokong bulat kencangnya terpampang sempurna ke arah celah bambu terbesar. Rambutnya yang basah jatuh ke depan, tangannya memijat kepala dengan sabun shampo murah yang berbusa tebal. Air mengalir deras dari punggung melengkungnya, membelah belahan pantat mulus, menetes langsung ke celah vaginanya yang pink cerah. Bibir luarnya yang tebal sedikit terbuka karena posisi jongkok membungkuk, klitoris kecilnya tersembul sedikit di bawah cahaya yang menyusup. Dia menggoyang kepala pelan saat membilas, bokongnya bergoyang mengikuti, membuat air menyembur dari memeknya yang basah.
“Subhanallah... bersihkan hamba dari dosa,” gumamnya pelan di balik cadar basah, suaranya teredam tapi tetap merdu. Tapi gerakannya persis seperti request di komentar: membungkuk lama, membiarkan bokong dan vagina terpapar lebih dari biasanya.
Di balik pagar, para pengintip—Pak Karim, Mas Joko, Pak RT, dan mungkin satu-dua orang baru—sudah memompa kontol mereka dengan rakus. Suara napas tersengal bercampur bisik, “Dia lakukan request kita... gila... memeknya basah banget hari ini.”
Nia melanjutkan. Request kedua. Dia mengangkat kedua tangan tinggi sambil menyabuni payudara. Payudara montok 36C itu terangkat indah, berat dan penuh, putingnya tegak sempurna. Tangan halusnya melingkar, meremas dengan gerakan lambat dan teliti, busa putih tebal menetes dari ujung puting seperti susu. Dia memilin puting kiri dan kanan pelan saat membersihkan, tubuhnya sedikit menggigil, pinggulnya bergerak maju mundur tanpa sadar. Cadar basahnya masih menempel di wajah, membuat air mata dari basah kain atau keringat jatuh ke dada.
Lalu, request yang paling berani: dia duduk jongkok lebar di bangku bambu kecil, kaki terbuka maksimal menghadap celah. Tangan kanannya menyabuni selangkangan dengan sangat teliti. Jari-jarinya mengusap bibir vagina pink itu dari atas ke bawah berulang kali, membersihkan lipatan dalam yang lembab. Klitorisnya digosok pelan dengan ibu jari, membuatnya membengkak sedikit dan lebih merah. Air gayung disiram langsung ke lubang memeknya yang sedikit terbuka, menyembur keluar dengan suara basah yang erotis. “Ahh... ya Rabb... lindungi...” desahnya kecil, suara yang biasanya suci kini bercampur nada yang berbeda.
Aku tahu. Ini bukan kebetulan. Nia pura-pura tak tahu ada kamera atau pengintip yang semakin banyak, tapi gerakannya terlalu persis dengan request di komentar. Malam harinya, setelah mandi, dia duduk di ranjang dengan cadar baru yang kering, wajahnya agak merah. Aku tak langsung konfrontasi. Kami berbicara biasa, dia curhat ringan tentang risihnya di kampung, tapi matanya menghindari kontak terlalu lama. Tak ada percintaan malam itu. Aku hanya memeluknya dari belakang, merasakan tubuh hangatnya yang masih harum sabun, sementara pikiranku dipenuhi bayangan vagina pink-nya yang sengaja terpapar tadi.
Keesokan harinya, video baru muncul. Request berikutnya sudah terealisasi lagi. Kali ini Nia mandi dengan cadar tetap dipakai sepanjang proses, kain basah menempel ketat di wajahnya, membuat kontur hidung, bibir, dan dagu semakin jelas. Dia keramas sambil berdiri menyamping, payudara bergoyang berat saat mengguyur air. Lalu membungkuk sambil memegang pagar bambu sebentar—seolah membersihkan sesuatu—memberi view sempurna bokong dan memek dari belakang. Jari-jarinya saat membersihkan vagina lebih lambat, lebih dalam, seolah menunjukkan setiap detail lipatan pink yang halus kepada penonton.
Komentar banjir lagi: “Makasih NiaSholehah28, request diterima!”, “Dia baca komentar kita!”, “Istri sholehah tapi slut di kamar mandi, sempurna”. Dan akun “NiaSholehah28” aktif lagi, komentar memuji: “Semoga penontonnya mendapat hidayah, tapi ciptaan Allah memang indah. Payudaranya semakin bersih terlihat...”
Aku cek ponsel Nia diam-diam saat dia tidur. Riwayat situs bokep terbuka, dia scroll komentar panjang, membaca request satu per satu, lalu tersenyum kecil di balik cadar sebelum tidur. Pura-pura tak tahu di depanku, tapi diam-diam menjalankan permintaan para lelaki itu. Risih? Ya. Tapi ada tarikan nafsu yang aneh, godaan yang merayap pelan ke dalam jiwa sholehahnya.
Dua hari kemudian, mandi sore lagi. Aku mengintip dengan jantung berdegup. Request kali ini lebih berani: “Minta dia mainin puting sendiri sambil cuci memek”. Nia melakukannya. Setelah menyabuni dada, tangan kirinya tetap di payudara, memilin puting kanannya pelan sambil meremas, putingnya memanjang dan keras. Tangan kanan di bawah, duduk jongkok lebar, jari tengah mengusap klitoris berputar sambil mengguyur air. Tubuhnya menggigil lebih jelas, paha dalamnya berkedut, cairan bening sedikit bercampur air sumur dari vaginanya yang basah. Cadar basah menempel, bibirnya terbuka di balik kain, desahan kecil lolos: “Astaghfirullah... ampuni hamba...”
Para pengintip hampir gila. Suara pompa kontol mereka terdengar lebih keras. Video ini pasti akan meledak.
Malam itu, Nia lebih pendiam. Dia sholat sunnah lebih lama, air matanya jatuh saat tahajud. “Mas... kampung ini penuh fitnah. Aku tetap teguh, cadarku tak kulepas di depan mereka. Tubuh ini... hanya untuk halal,” katanya pelan padaku, suaranya bergetar. Aku memeluknya, tak menuntut lebih. Tak ada bercinta. Hanya doa bersama, meski hasratku membara melihat istrinya yang suci mulai bermain di ambang godaan.
Tapi aku tahu, besok atau lusa, request baru akan datang. Dan Nia, sambil pura-pura tak tahu, mungkin akan menjalankannya lagi—keramas dengan pose tertentu, membersihkan tubuh dengan gerakan lebih sensual, membiarkan air mengalir lama di celah pink vaginanya yang sempurna. Video semakin banyak, komentar semakin liar, dan aku, suaminya, terjebak antara marah, cemburu, dan gairah gelap yang tak bisa kutolak.
Kampung ini telah menjadi panggung rahasia kami. Nia tetap sholehah di permukaan, bercadar stylish, tapi di balik bilik bambu yang tipis, dia mulai menari mengikuti irama request yang tak terucap. Dan aku... aku terus mengawasi, mencatat setiap detail air yang menetes dari putingnya, setiap getaran bokongnya, setiap desahan suci yang bercampur nafsu.
Cerita ini masih panjang. Semakin banyak video, semakin dalam lubang godaan yang kami berdua masuki, meski Nia berusaha tetap teguh.
Komentar
Posting Komentar