Cadar Basah di Kebun Nafsu Bab 6

**Bab 6: Bisikan di Balik Bambu yang Retak**

Beberapa hari setelah request-request liar itu mulai memenuhi komentar video, aku, Rizal, merasa seperti sedang hidup di dua dunia yang saling bertabrakan. Kampung yang dulu tenang ini kini penuh bayang-bayang nafsu, dan Nia, istri sholehahku yang berusia 28 tahun, masih berusaha teguh di tengahnya. Cadarnya yang stylish—kali ini warna lavender lembut dengan bordir halus perak—selalu terpasang rapi saat keluar rumah, gamis panjangnya menutupi segala pesona tubuh yang hanya aku yang seharusnya tahu. Tapi di balik bilik bambu kamar mandi belakang, sesuatu mulai bergeser. Diam-diam, tanpa katanya padaku, Nia mulai menjalankan request para penonton itu.

Aku menyadarinya dari pola mandi yang berubah. Pagi itu, setelah sholat Subuh, Nia bilang dia akan mandi siang karena gerah. Aku pura-pura pergi ke sawah sebentar, tapi sebenarnya kembali diam-diam ke posisi mengintip di balik tumpukan kayu bakar. Suara gayung sudah terdengar, bercampur gemericik air sumur yang dingin.

Nia sudah melepas gamisnya, tapi cadar lavender tetap dipakai, kain tipis itu sudah basah di bagian leher. Rambut hitam panjangnya tergerai basah, menempel di punggung halus yang melengkung indah. Dia mulai dengan request keramas membungkuk lama. Tubuhnya membungkuk dalam, pinggul terangkat tinggi menghadap celah bambu terbesar. Bokong bulat kencangnya terpampang sempurna, kulit putih mulus berkilau basah. Belahan pantatnya terbuka lebar, celah vaginanya yang pink cerah terlihat jelas—bibir luarnya tebal dan halus, sedikit mengkilap karena air dan mungkin sedikit lendir alami. Rambut basahnya jatuh ke depan saat tangan memijat kepala dengan busa shampo tebal, bokongnya bergoyang pelan mengikuti gerakan, membuat air mengalir deras dari celah memeknya yang terbuka.

Dia melakukannya lama, seolah tahu ada mata yang lapar di balik daun pisang. Lalu request puting: tangan kirinya naik ke payudara montok 36C, meremas dan memilin puting merah muda kecil itu dengan gerakan lambat sambil mengguyur air. Putingnya memanjang, mengeras sempurna, tetesan air jatuh dari ujungnya seperti undangan. Payudara kanannya bergoyang berat saat dia memindahkan tangan, busa sabun menetes turun ke perut rata, mengalir ke pusar dalam yang kecil.

Request yang paling intim: duduk jongkok lebar. Nia duduk di bangku bambu kecil, kaki terbuka maksimal menghadap celah. Tangan kanannya menyabuni selangkangan dengan sangat teliti, jari tengah mengusap bibir vagina pink itu berulang kali, membersihkan lipatan dalam yang lembab. Klitoris kecilnya digosok pelan dengan ibu jari, membuatnya membengkak sedikit dan lebih merah. Air gayung disiram langsung ke lubang memeknya yang sedikit terbuka, menyembur keluar dengan suara basah “pluk-pluk” yang erotis. Cadar basah menempel ketat di wajahnya, memperlihatkan kontur bibir yang sedikit terbuka, desahan kecil suci lolos: “Ya Allah... ampuni... subhanallah...”

Aku melihat semuanya dengan kontol keras berdenyut. Nia melakukan ini diam-diam, pura-pura tak tahu ada video dan komentar. Tapi gerakannya terlalu tepat, terlalu lama di setiap pose request. Malam harinya, dia lebih pendiam, sholat sunnah lebih panjang, tapi tak ada pengakuan. Aku memeluknya tanpa kata, merasakan tubuh hangatnya yang masih harum sabun, hati penuh konflik antara bangga akan keteguhannya dan hasrat gelap melihat istrinya “menari” untuk mata asing.

Hari-hari berikutnya berlanjut seperti itu. Video baru muncul hampir setiap mandi, request terealisasi satu per satu: mandi dengan cadar basah penuh, mengangkat tangan lama saat sabun dada, membersihkan bokong dengan membungkuk sambil memegang pagar bambu, bahkan sekali sempat menyiram vagina dengan gayung sambil menggoyang pinggul pelan. Komentar meledak, akun “NiaSholehah28” aktif memuji halus, “Ciptaan-Nya memang indah, semoga penonton mendapat pelajaran tapi tetap menikmati keindahan aurat yang terjaga...”

Beberapa hari kemudian, para pengintip sudah tak tahan. Nafsu mereka meledak.

Sore itu, langit mendung, udara lembab kampung bercampur bau tanah basah. Nia mandi sore seperti biasa. Aku mengintip dari sudut, jantung berdegup. Tubuh telanjangnya yang sempurna sudah basah sepenuhnya. Cadar lavender basah menempel seperti kulit kedua di wajah cantiknya. Dia sedang duduk jongkok lebar, request terbaru, jari-jarinya mengusap klitoris dan bibir memek pink yang mengkilap, air menyembur deras dari celahnya. Payudaranya bergoyang berat saat dia membungkuk sedikit untuk mengambil gayung.

Tiba-tiba, dari balik pagar pisang, suara bisik terdengar—berani sekali.

“Mbak Nia... cantik sekali... memeknya pink banget, basah ya? Kami semua pengen sentuh...” Itu suara Mas Joko, parau penuh nafsu.

Pak Karim menyusul, suaranya lebih berat, “Iya, Mbak. Payudaranya montok, putingnya keras. Keluar sebentar dong, kami kasih yang lebih enak dari gayung ini. Suami kamu tak akan tahu...”

Pak RT ikut, napasnya tersengal, “Kami cuma mau cicipi. Cadar stylish kamu bikin gila. Buka cadar dikit, tunjukin muka cantik sambil kami...”

Nia tersentak hebat. Tubuhnya yang telanjang membeku di posisi jongkok, kaki masih terbuka lebar, tangan masih di selangkangan. Matanya melebar di balik cadar basah, malu yang tiba-tiba muncul seperti gelombang besar. Pipinya yang tersembunyi memerah hebat, terlihat dari cara bahunya naik turun cepat. Risih, malu, dan tersadar dari “lamunan” diam-diamnya melakukan request.

“Ya Allah... Astaghfirullahaladzim...” gumamnya gemetar, suaranya pecah. Dia cepat-cepat bangkit, air menetes deras dari payudara montoknya yang bergoyang panik, dari bokong bulatnya, dari celah vagina pink yang masih basah dan sedikit terbuka. Tangannya meraih handuk kecil dengan buru-buru, membungkus tubuh sempurnanya yang basah. Cadar basahnya tetap terpasang, dia tak berani menoleh ke arah suara-suara itu.

“Mundur! Ini haram... saya istri orang... tolong jangan...” katanya pelan tapi tegas, suara sholehahnya kembali dominan, malu membakar wajahnya sampai telinga. Tanpa menunggu, dia buru-buru keluar kamar mandi, handuk menutupi dada dan selangkangan, gamis dan cadar kering di tangan satunya. Langkahnya cepat menuju rumah, tubuh masih menetes air, meninggalkan jejak basah di tanah.

Para pengintip diam sejenak, lalu bisik kecewa, tapi tak berani kejar. Aku cepat kembali ke dalam rumah, pura-pura baru datang dari belakang.

Nia sudah di kamar, duduk di ranjang dengan gamis basah menempel di tubuh, cadar lavender masih terpasang meski basah. Air matanya mengalir pelan di balik kain. “Mas... mereka... mereka bicara tadi. Bilang mau... sentuh. Ya Allah, aku malu sekali. Aku... aku hanya mandi biasa, tapi kenapa mereka berani...”

Aku memeluknya erat, merasakan getaran tubuhnya. Tapi dalam hatiku, konflik batin berkecamuk hebat. Aku marah pada para pengintip yang berani mendekat, cemburu membara membayangkan mereka ingin “cicipi” istriku. Tapi juga... ada hasrat gelap yang muncul saat melihat Nia panik tapi tubuhnya tadi begitu terbuka, begitu basah karena request diam-diamnya. Apakah dia menikmati bisikan itu sedikit? Apakah malunya sekarang bercampur dengan sesuatu yang lain?

Malam itu, Nia tak mandi lagi. Dia sholat tahajud lebih lama dari biasanya, menangis pelan sambil berdoa. “Aku tetap teguh, Mas. Cadarku tak akan kulepas. Tubuh ini hanya untukmu di halal. Tapi... kenapa aku merasa risih tapi... ada rasa aneh. Aku minta ampun, ya Allah.”

Aku mendengarkan, memeluknya tanpa tuntutan seks. Konflik batin Nia terlihat jelas: dia tersadar dari godaan diam-diam melakukan request, malu muncul kembali seperti benteng iman yang retak tapi masih berdiri. Dia lebih banyak diam keesokan harinya, cadarnya lebih ketat, gerakannya lebih tertutup saat keluar rumah. Tapi aku tahu, di malam sepi, ponselnya mungkin masih terbuka situs itu, melihat komentar baru yang semakin liar setelah “insiden bicara” itu.

Aku sendiri gelisah. Melindungi istri sholehahku, atau membiarkan bayang-bayang kebun ini semakin dalam? Video baru pasti akan muncul, request akan bertambah, dan Nia... Nia mungkin akan kembali diam-diam menjalankan sebagian, meski malunya kini lebih kuat.

Kampung ini telah menjadi ujian berat. Air yang menetes dari tubuh Nia tadi sore, bokongnya yang terangkat, vagina pink yang terpapar sebelum panik—semuanya terpatri di pikiranku. Konflik batin kami berdua baru saja dimulai, semakin rumit di balik daun pisang yang bergoyang angin malam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 7

Perjalanan Neraka Kenikmatan Bab 7

Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 10