Eksibisionis Ayu Istri ku Bab 2

**Bab 2: Undangan yang Tak Terelakkan**

Malam setelah kejadian di jendela itu, aku hampir tidak bisa tidur. Tubuh Ayu terbaring damai di sampingku, napasnya pelan dan teratur, seolah apa yang baru saja terjadi hanyalah mimpi biasa. Tapi bagi aku, Hasan, semuanya terasa seperti mimpi buruk yang manis. Aroma seks masih menempel di seprai, bercampur dengan wangi sabun mandi yang kami pakai bersama. Setiap kali aku memejamkan mata, bayangan pria kekar di balkon seberang itu muncul lagi—kontolnya yang tebal dan panjang, urat-uratnya menonjol saat ia mengocoknya sambil menatap memek istriku yang terbuka lebar.

Aku merasa rendah. Aku merasa seperti suami yang gagal. Tapi anehnya, setiap kali ingatan itu muncul, kontolku kembali mengeras di balik celana pendek. Aku membenci diriku sendiri karena itu.

Pagi harinya, Ayu bangun dengan senyum yang berbeda. Cadarnya sudah terpasang lagi seperti biasa, tapi matanya kini punya cahaya nakal yang tak bisa disembunyikan. Saat kami sarapan bersama, dia menyentuh pahaku di bawah meja.

"Mas... semalam enak ya?" bisiknya pelan, suaranya manja seperti dulu saat kami baru menikah, tapi kata-katanya jauh lebih berani. "Aku masih merasakan sperma Mas di dalam. Tapi... aku bayangin kalau itu sperma Pak Joko."

Pak Joko. Ternyata dia sudah tahu nama tetangga baru itu. Mantan tentara yang tinggal sendirian setelah cerai. Tubuhnya besar, kulit hitam legam, dan aura dominannya terasa bahkan dari kejauhan.

"Ayu... kamu serius?" tanyaku, suaraku parau.

Dia mengangguk pelan, menggigit roti dengan bibirnya yang tersembunyi di balik cadar. "Aku cuma pengen merasakan, Mas. Hanya sekali. Aku tetap istri Mas. Tapi... tubuh ini sekarang pengen yang lebih. Pengen dilihat. Pengen disentuh orang lain. Mas boleh lihat semuanya. Malah, aku mau Mas lihat betapa nakalnya istri Sholehah Mas ini."

Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk dada sekaligus membakar nafsuku. Aku hanya bisa mengangguk lemah. Bagaimana bisa aku menolak? Aku sudah terjerat.

Sepanjang hari di kantor, pikiranku kacau. Laporan keuangan yang biasanya kukerjakan dengan teliti jadi berantakan. Aku membayangkan Ayu di rumah, mungkin sedang membuka cadarnya lagi, mungkin sedang chatting dengan Pak Joko lewat nomor yang entah kapan dia dapatkan. Rasa cemburu itu menyakitkan, tapi juga membuat kontolku setengah tegang seharian.

Pulang kerja jam 6 sore, aku melihat mobil Pak Joko sudah parkir di depan rumah kami. Jantungku berdegup kencang. Aku membuka pintu rumah dengan tangan gemetar.

Suara tawa kecil Ayu terdengar dari ruang tamu. Aku melangkah masuk, dan pemandangan itu langsung membuatku membeku.

Ayu duduk di sofa, cadarnya sudah dilepas total. Rambut hitamnya tergerai indah, wajah cantiknya terpapar. Dia memakai gamis tipis berwarna krem yang biasa ia pakai untuk tidur, tapi kali ini tanpa bra di dalamnya. Putingnya menonjol jelas. Di sebelahnya, Pak Joko duduk santai, tubuh kekarnya memenuhi sofa. Tangan besarnya sedang memegang paha Ayu dari atas gamis, mengusap pelan.

"Mas pulang," kata Ayu riang, seolah ini hal biasa. "Pak Joko datang berkunjung. Katanya mau kenalan lebih dekat dengan tetangga baru."

Pak Joko menoleh ke arahku, senyum lebar di wajahnya yang kasar. "Selamat sore, Pak Hasan. Maaf mengganggu. Istrimu sangat ramah."

Aku hanya bisa mengangguk kaku, duduk di kursi depan mereka. Kakiku terasa lemas. Ayu melihatku dengan mata penuh godaan. "Mas... duduk sini aja. Dekat kami."

Aku pindah ke sofa satunya. Jarak kami sangat dekat. Aku bisa mencium parfum Ayu yang biasa, bercampur dengan bau tubuh pria dewasa yang kuat dari Pak Joko.

Percakapan berlanjut ringan pada awalnya—tentang cuaca, pekerjaan, komplek perumahan. Tapi tangan Pak Joko semakin berani. Ia mengusap paha Ayu lebih tinggi, hampir ke selangkangan. Ayu tidak menolak. Malah, ia sedikit membuka kakinya.

"Mas... lihat," bisik Ayu tiba-tiba. "Pak Joko bilang kontolnya besar. Mau lihat?"

Aku tidak sempat menjawab. Ayu sudah bangkit berdiri, menarik tangan Pak Joko agar berdiri juga. Di depanku, pria itu menurunkan resleting celananya perlahan. Kontolnya melompat keluar—tebal, panjang, urat-urat biru menonjol, kepalanya besar dan sudah basah oleh precum. Jauh lebih besar dari milikku.

Ayu menggigit bibirnya, matanya berbinar. "Subhanallah... Mas, lihat ini. Ini yang aku impikan."

Dia berlutut di depan Pak Joko tanpa malu. Tangan putihnya yang lembut memegang kontol itu, jari-jarinya hampir tidak bisa melingkar penuh. Ia menatapku sebentar, lalu menjulurkan lidahnya, menjilat kepala kontol Pak Joko dengan lambat.

"Mmmhh..." desah Ayu. "Enak baunya, Mas. Berat sekali di tangan."

Pak Joko mendengus pelan, tangannya memegang rambut Ayu. "Istrimu memang Sholehah, tapi mulutnya enak juga, Pak Hasan."

Aku duduk diam, kontolku sudah keras sekali di dalam celana. Rasa malu membakar wajahku, tapi aku tidak bisa berpaling. Ayu mulai mengulum kontol itu. Mulutnya yang kecil meregang lebar, hanya masuk separuh, tapi ia berusaha keras. Suara isapan basah terdengar jelas di ruang tamu kami yang biasanya tenang.

"Gluck... gluck... ahh..." Ayu mengeluarkan suara yang tak pernah ia keluarkan saat melayaniku. Air liurnya menetes ke lantai. Pak Joko mendorong pinggulnya pelan, memasukkan lebih dalam hingga Ayu tersedak, tapi ia malah mendesah nikmat.

Setelah beberapa menit, Ayu berdiri. Wajahnya merah, bibirnya basah. "Mas... aku mau sekarang. Di sini. Kamu boleh lihat."

Ia menarik Pak Joko ke sofa, mendorong pria itu duduk. Lalu Ayu naik ke pangkuannya, mengangkat gamisnya hingga pinggang. Memeknya sudah telanjang—ia memang tidak memakai celana dalam sejak tadi. Memeknya licin mengkilap, bibirnya membengkak karena nafsu.

Perlahan, Ayu menurunkan tubuhnya. Kepala kontol Pak Joko menyentuh bibir memeknya. "Ahh... besar sekali..." erangnya.

Dengan satu gerakan pelan, Ayu menurunkan pinggulnya. Kontol tebal itu masuk perlahan, meregang memeknya yang selama ini hanya kukenal. Wajah Ayu menunjukkan campuran kesakitan dan kenikmatan luar biasa.

"Oohhh... Mas... penuh sekali... lebih dalam dari punya Mas..."

Aku melihat semuanya. Setiap senti kontol Pak Joko menghilang ke dalam tubuh istriku. Saat sudah masuk sepenuhnya, Ayu berhenti sejenak, tubuhnya gemetar. Lalu ia mulai naik turun. Payudaranya yang montok bergoyang-goyang di balik gamis tipis.

Pak Joko memegang pinggul Ayu, membantu gerakannya. "Enak memekmu, Bu Ayu. Sempit dan basah. Suami kamu beruntung dulu."

Ayu menoleh ke arahku sambil terus menggoyang pinggulnya. "Mas... lihat... aku sedang dientot kontol orang lain. Lihat betapa basahnya aku. Aku... aku suka ini."

Suara plok-plok daging bertemu memenuhi ruangan. Ayu semakin liar. Ia membuka kancing gamis atasnya, memperlihatkan payudaranya yang putih dan puting cokelatnya yang mengeras. Pak Joko langsung menyedot puting kirinya rakus, gigitannya membuat Ayu menjerit nikmat.

Aku tidak tahan lagi. Aku mengeluarkan kontolku dan mengocoknya sambil menonton. Rasa cemburu yang menyakitkan bercampur dengan kenikmatan terdalam.

Ayu naik turun semakin cepat. "Aku mau cum, Mas... mau cum di kontol orang lain!"

Tubuhnya mengejang hebat. Memeknya mengerat kontol Pak Joko, cairannya menyembur keluar membasahi paha pria itu. Ayu orgasme dengan jeritan yang keras, tubuhnya kejang-kejang.

Pak Joko tidak lama setelah itu. Ia mengerang dalam, memegang pinggul Ayu kuat-kuat, dan menyemburkan sperma panasnya jauh ke dalam rahim istriku. Banyak sekali. Saat Ayu bangkit, sperma putih kental menetes deras dari memeknya yang merah dan meregang.

Ayu mendekatiku, masih telanjang separuh. Ia mencium bibirku dalam, lidahnya yang baru saja mengulum kontol orang lain kini menari di mulutku. "Mas... rasanya enak sekali. Lebih enak dari yang aku bayangkan. Sperma dia banyak banget di dalam."

Pak Joko tersenyum puas sambil memakai celananya lagi. "Terima kasih, Bu Ayu. Kapan-kapan kita ulangi. Pak Hasan, istri Anda luar biasa."

Setelah Pak Joko pulang, Ayu menarikku ke kamar. Ia mendorongku berbaring di tempat tidur, lalu naik ke wajahku.

"Sekarang giliran Mas membersihkan," katanya manja. "Jilat memekku yang sudah penuh sperma Pak Joko."

Aku ragu sebentar, tapi nafsu mengalahkan segalanya. Lidahku menyentuh memek Ayu yang masih berdenyut. Rasa asin sperma pria lain bercampur dengan cairan Ayu yang manis. Aku menjilat dalam-dalam, membersihkan setiap tetes. Ayu mendesah di atas wajahku, menggoyang pinggulnya.

"Besok... aku mau lebih lagi, Mas," bisiknya sambil meremas payudaranya sendiri. "Aku mau Pak Joko ajak temannya. Aku mau dientot berdua. Mas boleh rekam semuanya. Mau kan?"

Aku hanya bisa mendengus di antara pahanya. Kontolku mengeras lagi.

Malam itu kami bercinta dengan liar. Tapi kali ini, Ayu terus menyebut nama Pak Joko saat orgasme. Dan aku... aku klimaks dengan bayangan istri Sholehahku yang dulu suci, kini telah berubah menjadi perempuan exhibitionist yang haus kontol orang lain.

Aku tahu ini baru permulaan dari kehancuran pernikahan kami. Tapi kenikmatan ini terlalu kuat untuk dihentikan.

Aku terjebak. Dan entah kenapa, aku mulai menyukainya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 7

Perjalanan Neraka Kenikmatan Bab 7

Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 10