Eksibisionisme Siti istri Sholehah di kampung Bab 1
Di balik tirai jendela rumah kayu kami yang sederhana, aku, Pak Hadi, seorang pria paruh baya berusia lima puluh dua tahun, sering kali duduk diam di kursi rotan sambil mengamati istriku, Siti. Dia adalah bunga kota yang tiba-tiba mendarat di kampung kami yang sepi ini. Sholehah, kata orang-orang. Wajahnya selalu teduh, suaranya lembut saat mengaji di masjid, dan jilbabnya selalu rapi menutupi dada montoknya. Tapi aku tahu, di balik semua itu, ada sesuatu yang mulai berubah.
Kami menikah setahun lalu. Aku bertemu Siti saat dia berkunjung ke kampung untuk acara keluarga. Gadis kota yang saleh, anak orang kaya yang memilih sederhana. Aku, duda paruh baya dengan sawah dan warung kecil, tak pernah menyangka dia mau. “Pak Hadi baik hati,” katanya waktu itu, sambil menunduk malu. Malam pertama kami, tubuhnya yang putih mulus gemetar di bawahku, tapi dia selalu menutup mata, berdoa pelan sebelum aku masuk ke dalamnya yang masih sempit dan hangat.
Awalnya, semuanya biasa. Siti rajin ke sawah membawa bekal, membantu di dapur, dan mengajar mengaji anak-anak kampung. Tapi kampung ini kecil. Rumah kami di pinggir jalan tanah yang ramai dilewati para petani pulang kerja. Suatu sore, aku pulang lebih awal dan melihatnya. Siti sedang menyapu halaman dengan gaun rumah tipis yang biasa dia pakai di kota. Angin sore meniup kainnya, memperlihatkan siluet paha mulusnya. Beberapa pemuda kampung yang lewat berhenti sebentar, berpura-pura mengobrol, tapi matanya jelas tertuju ke sana.
Aku diam saja di balik pohon pisang. Jantungku berdegup. Bukan marah. Ada rasa aneh yang panas di perutku.
Malam harinya, saat aku memeluknya di ranjang, aku bisik, “Tadi sore angin kencang ya, Sayang. Gaunmu hampir terangkat.”
Siti tersipu, wajahnya merah. “Iya, Pak. Malu sekali. Besok aku pakai yang lebih panjang.” Tapi suaranya bergetar, bukan hanya malu. Ada nada lain yang aku kenali belakangan—getaran kegembiraan yang ditahan.
Sejak itu, aku mulai memperhatikan. Siti pura-pura tidak tahu. Dia bilang dia tak sadar, tapi aku melihat cara dia memilih baju. Jilbab tetap rapi, tapi baju kurungnya semakin tipis. Kadang kancing atasnya “lupa” dikancing, memperlihatkan belahan dada yang putih dan lembut saat dia membungkuk mengambil air di sumur depan rumah. Para lelaki kampung mulai sering lewat. Mereka menyapa lebih ramah. Siti tersenyum manis, sholehah seperti biasa, tapi aku melihat putingnya mengeras di balik kain tipis saat angin meniup.
Suatu hari hujan deras. Aku sedang di warung. Siti pulang dari masjid dengan baju basah kuyup. Kainnya menempel ketat di tubuhnya, memperlihatkan bentuk bra hitam yang tipis dan celana dalamnya yang transparan. Dua tetangga lelaki yang kebetulan berteduh di teras kami langsung terpaku. Siti berjalan masuk, pura-pura panik sambil menutupi dada dengan tangan, tapi gerakannya lambat. Terlalu lambat.
“Aduh, basah sekali, Pak,” katanya padaku malam itu sambil mengganti baju di depanku. Tubuhnya berkilau basah. Aku melihat ada cairan bening yang bukan air hujan mengalir di pahanya.
“Kamu sengaja, ya?” tanyaku pelan, tanganku meremas payudaranya yang berat.
Siti menggeleng cepat, matanya berkaca-kaca. “Tidak, Pak… malu sekali. Mereka lihat semua…” Tapi pinggulnya bergoyang pelan saat aku memasukinya. Dia lebih basah dan panas dari biasanya. “Mereka… lihat aku, Pak…” bisiknya sambil mendesah, dan orgasmenya datang lebih cepat, lebih kuat.
Sejak saat itu, permainan kami tak terucap mulai. Aku menjadi penonton setia dari balik jendela atau di warung seberang. Siti semakin berani. Pagi-pagi dia menyiram tanaman dengan daster pendek tanpa bra. Putingnya yang cokelat muda jelas terlihat saat kain basah menempel. Para bapak-bapak yang lewat berhenti “ngobrol” lebih lama. Siti pura-pura malu, menunduk, tapi aku melihat dia sengaja membungkuk lebih dalam, membiarkan angin mengangkat ujung dasternya hingga hampir memperlihatkan bokong bulatnya yang mulus.
Suatu sore, saat aku sengaja duduk di teras, Siti keluar dengan rok panjang tapi tanpa celana dalam. Aku tahu karena saat dia jongkok mengambil ember, celah merah mudanya sekilas terlihat oleh dua pemuda yang sedang lewat naik sepeda. Mereka hampir jatuh. Siti bangkit cepat, wajahnya merah padam, tapi aku melihat tangannya gemetar karena nafsu, bukan malu.
Malam itu, aku menidurinya dengan kasar seperti yang dia sukai sekarang.
“Ceritain, Sayang,” bisikku sambil menghunjam dalam-dalam. “Tadi mereka lihat memekmu yang cantik itu?”
Siti menggigit bibir, matanya basah. “Iya, Pak… mereka lihat… aku pura-pura tidak tahu… tapi rasanya… enak sekali… badan aku panas… basah…” Tubuhnya kejang hebat, memelukku erat saat klimaks menyapu dirinya.
Kini Siti sudah terjerumus sepenuhnya. Dia masih sholehah di mata kampung—mengaji, menutup aurat di depan umum. Tapi di rumah, dia meminta aku mengatur “kecelakaan” yang semakin berani. Kadang dia “lupa” menutup pintu kamar mandi saat mandi, membiarkan bayangannya terlihat dari jalan. Aku sering mendengar desahannya sendirian di kamar saat siang bolong, sambil membayangkan mata-mata lelaki kampung yang lapar melihat tubuhnya.
Aku, suaminya, hanya bisa menonton dan menikmati. Istri sholehahku yang polos dari kota telah berubah menjadi ratu exhibitionism rahasia kampung ini. Dan aku tak ingin ini berhenti. Karena setiap kali dia pulang dengan wajah merah dan memeknya banjir, aku tahu—dia milikku, tapi juga milik tatapan lapar seluruh kampung.
Dan malam ini, angin kembali kencang. Siti keluar rumah dengan gaun tipis… tanpa apa-apa di dalamnya. Aku tersenyum dari balik tirai.
Komentar
Posting Komentar