Eksibisionisme Siti istri Sholehah di kampung Bab 2
Malam itu angin benar-benar tak kenal malu.
Aku berdiri di balik tirai jendela kamar, lampu minyak hanya menyala redup di sudut, cukup untuk menyembunyikan bayanganku. Siti keluar ke halaman depan dengan gaun tidur tipis berwarna krem yang biasa ia pakai di kota dulu. Kainnya hampir tembus pandang saat angin menyapu. Dan seperti yang aku curigai sejak tadi, tak ada sehelai benang pun di baliknya.
Payudaranya yang besar dan berat bergoyang lembut mengikuti langkahnya. Putingnya sudah mengeras, menonjol jelas di balik kain basah oleh embun malam. Ia berpura-pura menyiram tanaman hias di pot-pot besar dekat pagar, meski tanah sudah basah oleh hujan sore tadi. Bokongnya yang montok terangkat sedikit setiap kali ia membungkuk, gaun naik hingga pertengahan paha. Sekali angin lebih kencang, kain itu terangkat sepenuhnya, memperlihatkan belahan bokong mulus dan celah memeknya yang sudah mengkilap.
Dua orang lelaki kampung yang biasa pulang malam dari gardu lewat tepat di depan rumah. Langkah mereka langsung terhenti. Aku melihat dari kejauhan bagaimana mata mereka membelalak. Siti pura-pura kaget saat angin kembali meniup gaunnya tinggi-tinggi. Ia menjerit kecil, tangan kanannya cepat menekan kain ke bawah, tapi terlambat. Mereka sudah melihat semuanya.
“Astaghfirullah… anginnya kencang sekali malam ini,” gumamnya pelan, suaranya manis seperti biasa. Tapi aku tahu, kakinya sedikit merapat, bukan karena malu, melainkan karena ia menahan getaran di antara pahanya.
Salah satu lelaki, Pak Bejo, tetangga sebelah yang sudah beristri tiga kali, berdehem. “Hati-hati, Bu Siti. Malam-malam begini… anginnya suka nakal.”
Siti menunduk, wajahnya merah padam, tapi sudut bibirnya sedikit melengkung. “Iya, Pak. Terima kasih sudah mengingatkan. Saya… saya masuk dulu ya.”
Ia berbalik, dan saat melangkah masuk, ia sengaja melambat. Angin kembali meniup dari belakang, mengangkat gaun hingga pinggang. Kedua lelaki itu mendapat pemandangan penuh bokong putih mulus dan memeknya yang sudah basah berkilau di bawah cahaya bulan. Mereka tak langsung pergi. Berdiri lama di sana, berbisik-bisik sambil menatap pintu rumah kami yang tertutup.
Aku sudah mengeras sekali saat Siti masuk kamar. Wajahnya merah membara, napasnya tersengal. Matanya berkaca-kaca, campuran malu dan nafsu yang sudah tak bisa ditahan lagi.
“Pak… mereka lihat lagi,” bisiknya sambil mendekatiku. Suaranya bergetar. “Semuanya… Pak Bejo sampai berdiri lama di depan pagar.”
Aku menariknya kasar ke ranjang, membalik tubuhnya hingga membungkuk di tepi kasur. Gaun tipis itu aku angkat hingga pinggang tanpa melepasnya. Memeknya sudah banjir, cairan beningnya menetes di paha dalam.
“Kamu sengaja kan, Sayang?” tanyaku sambil mengusap kepala kontolku yang sudah basah di celahnya. “Membiarkan angin meniup gaunmu tinggi-tinggi di depan mereka.”
Siti menggeleng lemah, tapi pinggulnya malah mendorong ke belakang, mencari kontolku. “Tidak… aku… aku cuma lupa pakai daleman… anginnya tiba-tiba…”
Aku tertawa pelan dan langsung menghunjam masuk dalam satu gerakan kuat. Ia menjerit kecil, tubuhnya mengejang. Memeknya panas, licin, dan menyedotku rakus.
“Boong,” desisku sambil mulai memompa cepat. “Kamu basah sekali. Pasti senang ya, saat Pak Bejo dan temannya melihat memek istri sholehah ini terbuka lebar.”
Siti menggigit bantal, suaranya pecah-pecah di antara desahan. “Iya… Pak… mereka lihat… aku malu… tapi enak… badanku panas sekali… mereka ingin… ingin sentuh aku… tapi cuma bisa lihat…”
Aku meremas payudaranya dari belakang, memilin putingnya yang keras. Gerakanku semakin kasar. Setiap hunjaman membuat suara basah memeknya terdengar jelas di kamar yang sepi.
“Besok kamu mau lebih berani lagi?” tanyaku sambil menarik rambutnya pelan. “Mungkin mandi di belakang rumah tanpa pintu… biar angin dan mata-mata kampung bisa menikmati tubuhmu lebih lama.”
Siti mengangguk cepat, tubuhnya sudah gemetar hebat. “Iya… Pak… suruh aku… aku mau… aku sudah tidak bisa berhenti… aku suka… suka saat mereka lapar melihat aku… tapi aku tetap milikmu… hanya milikmu…”
Orgasmenya datang lebih dulu. Memeknya menggigit kontolku kuat-kuat, tubuhnya kejang hebat sambil menangis nikmat. Aku menyusul tak lama kemudian, menyemburkan mani panas jauh ke dalam rahimnya yang berdenyut.
Kami ambruk bersama di ranjang. Siti berbalik, memelukku erat, wajahnya masih merah. Matanya penuh rasa bersalah yang manis.
“Pak… aku masih sholehah kan di mata orang kampung?” tanyanya pelan.
Aku tersenyum, mengusap rambutnya. “Kamu istri paling sholehah. Cuma… di rumah ini, kamu adalah pelacur exhibitionism suamimu.”
Ia tersipu, tapi tak membantah. Malah, tangannya turun lagi, memegang kontolku yang masih setengah tegang.
“Besok… aku mau coba jemur baju dengan rok pendek tanpa daleman lagi, Pak. Anginnya biasanya kencang jam sepuluh pagi…”
Aku mencium keningnya dalam-dalam.
Cerita kami memang baru saja dimulai. Dan kampung kecil ini belum tahu, betapa dalamnya istri sholehah pindahan dari kota ini sudah terjerumus ke dalam kenikmatan yang gelap dan manis.
Komentar
Posting Komentar