Eksibisionisme Siti istri Sholehah di kampung Bab 3
Malam itu kami tidur dengan tubuh saling lengket, tapi pikiranku tak bisa berhenti. Besok pagi. Jam sepuluh, angin biasanya berhembus kencang dari arah sawah. Siti sudah berjanji dengan suara gemetar penuh nafsu. Dan aku, sebagai suaminya, tak sabar menunggu.
Pagi harinya, matahari baru naik sedikit di ufuk. Aku sengaja duduk di warung kecil seberang rumah, pura-pura minum kopi sambil mengawasi. Siti keluar rumah dengan rok batik pendek yang biasanya ia pakai hanya di dalam kamar. Rok itu hanya sampai pertengahan paha, tipis, dan seperti yang ia janjikan — tak ada apa-apa di baliknya. Atasannya daster longgar tanpa bra, payudaranya yang berat bergoyang bebas setiap gerakan.
Ia mulai menjemur baju di tali yang sengaja ia pasang di halaman depan, persis di pinggir jalan tanah. Angin pagi mulai bermain. Setiap kali ia mengangkat tangan untuk menggantung kain, roknya terangkat pelan, memperlihatkan bokong mulusnya yang putih. Beberapa ibu-ibu yang lewat hanya melirik sekilas dan tersenyum ramah, mengira Siti masih polos. Tapi para bapak dan pemuda… mereka berbeda.
Pak Bejo muncul lebih dulu, berjalan lambat sambil membawa cangkul. “Pagi, Bu Siti. Jemur baju ya?”
Siti menoleh, wajahnya malu-malu seperti biasa. “Pagi, Pak. Iya… cucian banyak hari ini.” Saat ia membungkuk mengambil keranjang baju di tanah, angin benar-benar nakal. Roknya terangkat tinggi hingga pinggang. Celah memeknya yang licin dan merah muda terpampang jelas selama dua detik penuh ke arah Pak Bejo. Lelaki itu berhenti total, matanya tak berkedip.
Aku melihat dari seberang bagaimana kontolnya menegang di balik sarung. Siti bangkit pelan, pura-pura menarik roknya ke bawah dengan tangan gemetar. “Aduh… anginnya… maaf ya Pak,” katanya dengan suara kecil, tapi ia tak langsung lari masuk. Malah ia melanjutkan menjemur, membungkuk lagi berkali-kali, membiarkan angin bermain seenaknya.
Tak lama, dua pemuda kampung yang biasa membantu di sawah ikut lewat. Mereka berhenti di pagar, berpura-pura bertanya tentang bibit padi. Siti berdiri menghadap mereka sambil menjelaskan, tapi angin kembali meniup roknya dari samping. Kali ini lebih lama. Kedua pemuda itu melihat langsung memek istriku yang sudah basah mengkilap, bibirnya sedikit terbuka karena nafsu.
Siti menutup paha cepat, wajahnya merah seperti tomat. “Astaghfirullah… maaf… saya… saya tak sadar,” gumamnya. Tapi aku melihat kakinya menggesek pelan, menahan denyutan di bawah sana. Para pemuda tersenyum lebar, tak langsung pergi. Mereka berdiri lama, mengobrol hal tak penting sambil sesekali melirik ke bawah.
Aku merasa kontolku sudah keras sekali di balik meja warung.
Siangnya, saat kami berdua di kamar, Siti langsung menyerbu. Ia mendorongku ke ranjang, naik ke pangkuanku dengan rok masih sama — yang sudah basah di bagian belakang.
“Pak… mereka lihat semuanya tadi,” desahnya sambil menggesek memeknya yang banjir di batang kontolku. “Pak Bejo… matanya lapar sekali. Pemuda itu juga… mereka berdiri lama… aku basah banget, Pak… malu… tapi aku suka…”
Aku meremas bokongnya keras, membuka celahnya lebar. “Kamu memang pelacur kecil yang suka dilihat, ya? Istri sholehah yang suka memamerkan memeknya ke lelaki kampung.”
Siti mengangguk cepat, matanya basah karena malu dan nikmat. Ia menurunkan tubuhnya, memasukkan kontolku hingga pangkal dalam satu gerakan rakus. “Iya… Pak… aku sholehah di luar… tapi di sini… aku jalangmu… jalang exhibitionism…”
Ia mulai menunggangiku liar. Payudaranya yang besar bergoyang-goyang di depan wajahku. Aku menggigit putingnya, menghisap kuat sambil meremas bokongnya. Setiap kali ia naik-turun, suara basah memeknya memenuhi kamar.
“Besok… mau lebih berani lagi?” bisikku di telinganya sambil menghunjam dari bawah. “Mungkin mandi di belakang rumah… pintu terbuka… biar angin dan siapa saja yang lewat bisa menikmati tubuh istri sholehah ini lama-lama.”
Siti menjerit kecil, tubuhnya kejang hebat. Orgasmenya datang seperti badai. Memeknya menyedot kontolku kuat-kuat, cairannya menyembur keluar membasahi pahaku. “Iya… Pak… suruh aku… aku mau dilihat… mau jadi bahan fantasi mereka… tapi cuma kamu yang boleh masukin… cuma kamu…”
Aku membalik tubuhnya, menindihnya dan memompa dengan kasar hingga aku menyemburkan mani panas jauh ke dalam rahimnya yang berdenyut nikmat.
Kini Siti tak lagi pura-pura tidak tahu. Ia sudah terjerumus sepenuhnya. Dan aku, suaminya yang paruh baya, semakin ketagihan melihat istri sholehah dari kota ini perlahan berubah menjadi ratu rahasia kenikmatan gelap kampung kecil kami.
Besok… pintu kamar mandi belakang akan sengaja terbuka lebar.
Angin kampung pasti akan sangat ramah.
Komentar
Posting Komentar