Istri bercadar berujung jadi model sex Bab 1

**Bab 1: Bayangan Kecil di Balik Cadar**

Aku, Hasan, seorang suami biasa yang bekerja sebagai pegawai administrasi di sebuah kantor pemerintahan kecil di pinggiran Jakarta. Usia kami berdua sudah menginjak pertengahan tiga puluh, tapi rumah tangga kami terasa seperti masih di awal pernikahan yang penuh berkah. Ayu, istriku, adalah segalanya bagiku. Sholehah sekali. Setiap pagi sebelum aku berangkat kerja, dia sudah bangun lebih dulu, menyiapkan sarapan sederhana, lalu mengenakan cadar hitamnya yang selalu rapi sebelum mengantarku ke pintu. 

"Cepat pulang ya, Mas. Jaga diri di jalan," katanya lembut, suaranya selalu tertutup rapat di balik kain, tapi matanya yang hanya terlihat itu selalu penuh kasih. Aku sering merasa bersyukur. Di zaman sekarang, jarang ada perempuan seperti Ayu yang masih teguh menjaga aurat, sholat lima waktu tepat waktu, dan bahkan hafal beberapa juz Al-Quran. Tetangga-tetangga sering memuji kami berdua sebagai pasangan yang qurani.

Tapi akhir-akhir ini, ada sesuatu yang mulai mengganggu pikiranku. Bukan karena pertengkaran atau masalah besar. Semuanya dimulai dari hal-hal kecil, seperti retakan kecil di dinding rumah yang lambat laun bisa membuat bangunan roboh jika tidak diperbaiki.

Semuanya berawal dari uang.

Gaji bulanku tidak pernah cukup. Inflasi naik, harga beras naik, tagihan listrik naik, sementara tunjangan kantor hampir tidak berubah sejak lima tahun lalu. Aku sering pulang dengan wajah lelah, duduk di ruang tamu sambil menghitung-hitung pengeluaran di aplikasi catatan ponsel. Ayu selalu duduk di sebelahku, tangannya yang halus memegang bahuku pelan.

"Mas, sabar ya. Kita berdoa lebih banyak. Allah pasti kasih jalan," katanya. Cadarnya sudah dilepas di dalam rumah, rambutnya yang panjang hitam legam terikat rapi. Wajahnya cantik, kulitnya putih bersih, bibirnya tipis yang selalu tersenyum. Aku sering merasa tidak pantas memiliki dia.

Suatu malam, setelah Isya, aku menghela napas panjang sambil melihat tagihan sekolah anak tetangga yang baru saja dikirim lewat grup WA kompleks. Anak kami, Alif, baru berusia empat tahun. Masih kecil, tapi biaya PAUD sudah mulai terasa.

"Yu, bulan ini kita harus hemat lagi. Mungkin makan daging cuma dua kali seminggu," kataku pelan, malu sekaligus lelah.

Ayu mengangguk. "Iya, Mas. Aku bisa masak yang lebih sederhana. Yang penting kita sehat."

Dia tidak pernah mengeluh. Itu yang membuatku semakin mencintainya. Tapi malam itu, setelah kami tidur, aku terbangun karena mendengar suara pelan dari kamar mandi. Jam menunjukkan pukul dua dini hari. Aku bangun pelan, mendekat. Pintu kamar mandi tidak tertutup rapat. Dari celah kecil itu, aku melihat Ayu berdiri di depan cermin kecil kami, cadarnya sudah terpasang lagi meski di tengah malam. Tapi... dia sedang memperhatikan dirinya sendiri dengan cara yang aneh.

Dia memiringkan kepala, tangannya menyentuh kain cadar di bagian dagu, seolah sedang menguji seberapa longgar kain itu. Lalu dia menarik sedikit ke bawah, memperlihatkan lehernya yang putih di depan cermin. Hanya beberapa detik. Setelah itu dia cepat-cepat menariknya kembali dan menggelengkan kepala sendiri, seolah menyesal. Aku buru-buru kembali ke tempat tidur, pura-pura tidur saat dia kembali ke kamar.

Pagi harinya, aku tidak berani bertanya. Mungkin hanya khayalanku saja. Mungkin dia hanya memeriksa apakah cadarnya masih bagus.

Beberapa hari kemudian, masalah uang semakin mendesak. AC rumah rusak, dan teknisi bilang butuh biaya hampir dua juta untuk diperbaiki. Malam itu aku duduk di teras depan, merokok sambil memikirkan pinjaman online yang mulai menggoda. Ayu keluar membawa teh hangat.

"Mas, jangan stress. Kita bisa tabung pelan-pelan," katanya sambil duduk di sebelahku. Angin malam agak kencang, membuat kerudungnya sedikit berkibar. Untuk sesaat, kain itu menempel ketat di wajahnya, memperlihatkan bentuk hidung dan bibirnya yang samar. Aku melihat dia tidak langsung membetulkan posisinya. Dia malah diam, seolah merasakan angin itu.

"Kamu... tidak kepanasan pakai cadar tebal begitu setiap keluar?" tanyaku tiba-tiba.

Ayu tersenyum kecil di balik kain. "Biasa, Mas. Sudah terbiasa. Ini bagian dari ketaatan."

Tapi nada suaranya agak berbeda. Ada sedikit getar yang aku tidak mengerti.

Hari berikutnya adalah Jumat. Aku pulang lebih awal karena kantor libur setengah hari. Saat mendekati rumah, aku melihat Ayu sedang berdiri di depan pintu pagar, berbicara dengan Bu RT yang baru pindah. Bu RT itu perempuan yang agak terbuka, sering pakai baju yang ketat dan rok di atas lutut. Mereka tertawa kecil. Aku mendekat pelan, ingin mendengar.

"...kadang aku iri lihat ibu-ibu lain yang bisa bebas," kata Bu RT sambil tertawa. "Tapi Ibu Ayu cantik sekali pakai cadar. Misterius gitu."

Ayu tertawa pelan. "Ah, Bu. Saya biasa saja. Tapi... kadang memang gerah ya kalau cuaca panas seperti ini."

Aku berhenti di belakang pohon mangga depan rumah, mengamati. Ayu mengangkat tangan sedikit, menyeka keringat di dahi meski cadarnya masih terpasang. Gerakannya lambat. Jarinya menyentuh kain di pipi, menariknya sedikit ke samping hingga sebagian kecil pipinya yang putih terlihat oleh Bu RT. Hanya sebentar. Tapi aku melihat Bu RT tersenyum lebar, seolah menemukan sesuatu yang menarik.

Malamnya, saat kami berbaring di tempat tidur, aku memberanikan diri bertanya.

"Yu, tadi siang kamu ngobrol apa sama Bu RT?"

"Biasa, Mas. Ngobrol tentang anak-anak kompleks. Dia bilang anaknya suka main sama Alif."

Dia membalikkan badan, memunggungiku. Aku merangkul pinggangnya dari belakang, mencium tengkuknya yang harum. Tubuhnya agak tegang, tapi kemudian rileks. Malam itu kami berhubungan intim seperti biasa—pelan, penuh kasih, penuh doa sebelum dan sesudahnya. Tapi saat aku berada di atasnya, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Napasnya lebih cepat, tangannya mencengkeram punggungku lebih kuat dari biasanya.

Pagi harinya, aku menemukan ponsel Ayu tergeletak di meja makan. Dia sedang mandi. Biasanya aku tidak pernah membuka ponselnya, tapi kali ini rasa penasaran menggigit. Aku membukanya. Riwayat pencarian YouTube-nya terbuka.

Beberapa video tentang "cara berpakaian syar'i tapi tetap nyaman di cuaca panas". Ada juga video tentang perempuan bercadar di negara lain yang kadang membuka cadar sedikit di tempat umum untuk makan. Video terakhir yang ditontonnya adalah dokumenter pendek tentang "psikologi exhibitionism dalam budaya modern" — meski videonya akademis, bukan porno.

Aku cepat menutup. Jantungku berdegup kencang. Exhibitionism? Itu kata yang aneh untuk Ayu.

Malam berikutnya, ada kejadian kecil lagi. Listrik padam karena tagihan yang telat kami bayar. Rumah gelap gulita. Ayu keluar ke teras belakang untuk menghirup angin segar. Aku mengikutinya diam-diam dari dalam rumah. Bulan purnama cukup terang. Ayu berdiri di sana, cadarnya masih terpasang, tapi tangannya perlahan menarik kerudungnya ke belakang, membiarkan angin menyentuh rambutnya yang terurai. Hanya rambut. Tapi di teras belakang yang menghadap ke gang kecil kompleks, ada kemungkinan ada orang yang lewat dan melihat.

Aku melihat dia menutup mata, menikmati angin itu. Dada naik turun pelan. Untuk pertama kalinya, aku melihat ada senyum kecil di bibirnya yang biasanya selalu tenang.

Aku tidak keluar. Aku hanya mengamati dari balik jendela. Ada rasa aneh di dadaku—campuran cemburu, khawatir, tapi juga... sesuatu yang hangat dan gelap yang tidak aku mengerti. Seperti ada benih kecil yang ditanam di tanah kering, dan sekarang mulai disiram air.

Beberapa hari kemudian, masalah uang semakin parah. Aku terpaksa meminjam uang ke teman kantor, Pak Budi. Dia orangnya baik, tapi suka bercanda vulgar. Saat aku bilang butuh uang untuk kebutuhan rumah, dia tertawa.

"Bro, istri lu kan cantik banget yang bercadar itu. Kalau perlu, ada temen gue yang suka koleksi foto perempuan berkerudung. Bayar mahal lho buat foto-foto biasa aja, apalagi yang agak... revealing."

Aku langsung marah. "Jangan ngaco, Bud."

Tapi kata-katanya itu seperti duri yang menancap di pikiranku. Malam itu aku menceritakan sedikit ke Ayu, tanpa menyebut detail vulgarnya.

Ayu diam lama. Lalu dia berkata pelan, "Mas... kalau memang cuma foto biasa, dan untuk kebaikan keluarga... apa salahnya?"

Suara itu. Suaranya yang lembut, tapi ada nada baru di dalamnya. Seperti rasa penasaran yang baru bangun dari tidur panjang.

Aku memeluknya erat. "Tidak usah, Yu. Kita cari jalan lain."

Tapi malam itu, saat kami berhubungan, Ayu lebih aktif. Dia berbisik di telingaku, "Mas... bayangin kalau ada orang lain yang lihat aku... cuma sedikit. Apa Mas marah?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja. Aku terkejut, tapi tubuhku bereaksi dengan cara yang memalukan. Aku semakin keras di dalamnya. Ayu merasakannya. Napasnya menjadi tersengal.

Kami tidak melanjutkan pembicaraan itu. Tapi benih itu sudah tumbuh. Kecil, tapi sudah berakar.

Aku mulai memperhatikan Ayu lebih teliti. Cara dia memakai cadar semakin lama semakin... sadar. Dia sering berdiri lebih lama di depan cermin, mengatur kain agar pas di wajahnya. Kadang dia sengaja memilih cadar yang sedikit lebih tipis saat cuaca panas. Dan setiap kali angin kencang atau saat dia membungkuk mengambil sesuatu di depan tetangga, aku melihat bagaimana matanya melirik ke sekitar, seolah mencari apakah ada yang memperhatikan.

Aku, sebagai suami yang mencintainya, merasa dunia kami yang tenang mulai bergeser. Dari hal terkecil—uang yang kurang, angin malam, percakapan dengan tetangga, hingga satu kalimat polos tentang "melihat".

Aku tidak tahu ke mana ini akan berakhir. Tapi setiap malam, saat aku memeluk tubuh sholehahku yang hangat, aku merasakan ada bayangan orang ketiga yang mulai ikut tidur di antara kami. Dan yang paling mengganggu... aku belum bisa memutuskan apakah aku ingin menghentikannya, atau diam-diam ingin melihat seberapa jauh bayangan itu akan pergi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 7

Perjalanan Neraka Kenikmatan Bab 7

Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 10