Istri bercadar berujung jadi model sex Bab 5
**Bab 5: Tawaran yang Membakar Hati**
Aku, Hasan, duduk di tepi tempat tidur sambil memandang Ayu yang sedang berbaring telentang, napasnya masih tersengal-sengal setelah percintaan kami yang penuh badai. Malam setelah sesi di rumah Reza, tubuhnya masih terasa panas, kulitnya lembab keringat, dan di antara pahanya masih basah oleh campuran cairan kami. Tapi matanya… matanya tidak lagi sama. Ada kabut konflik batin yang menggantung di sana, seperti awan mendung yang enggan pergi.
“Mas…” bisiknya pelan, tangannya meraih tanganku. “Tadi di rumah Mas Reza… aku hampir kehilangan kendali. Saat tangannya menyentuh paha aku, rasanya… enak. Tapi setelah itu, aku merasa kotor. Aku sholehah, Mas. Aku istri yang baik. Kenapa aku jadi suka hal-hal seperti ini?”
Aku tidak langsung menjawab. Aku hanya mengusap rambutnya yang acak-acakan, merasakan denyut jantungku yang masih kencang. Bagian dari diriku marah, cemburu membara. Tapi bagian lain—bagian gelap yang semakin kuat—merasa hidup. Aku suka melihat Ayu seperti ini: istri sholehah yang mulai retak, cadarnya yang dulu suci kini menjadi alat godaan.
“Kita berhenti saja kalau kamu tidak nyaman, Yu,” kataku, meski suaraku terdengar lemah.
Ayu menggeleng pelan. “Bukan tidak nyaman… tapi aku takut. Takut kalau ini terus, aku tidak bisa berhenti. Uangnya memang membantu, tapi… ada sesuatu di dalam aku yang bangun. Sesuatu yang ingin dilihat orang lain. Ingin… dihina sedikit.”
Kata terakhir itu membuat kontolku berdenyut lagi. Aku memeluknya erat, tapi pikiranku sudah melayang ke masa depan yang semakin gelap.
Dua hari kemudian, popularitas Ayu mulai meroket di kalangan yang tidak terduga. Pak Budi, dengan mulutnya yang besar, rupanya membagikan beberapa foto “artistik” Ayu ke grup chat pribadi teman-temannya—para pengusaha kaya di Jakarta yang bosan dengan perempuan biasa. Mereka punya fetish khusus: perempuan sholehah bercadar yang “dilecehkan” perlahan. Bukan langsung porno kasar, tapi pelecehan lembut terhadap simbol kesucian—cadar yang ditarik paksa, kerudung yang dilepas di depan umum, tatapan hina yang membuat perempuan tertutup itu merasa malu sekaligus bergairah.
Chat Pak Budi masuk ke ponselku sore itu.
“Bro, Ayu lagi viral di circle gue. Mereka gila sama tipe istri sholehah lu. Ada yang mau kontrak besar. 20 juta untuk satu malam pemotretan khusus. Tema pelecehan cadar. Lu tertarik?”
Aku langsung marah. Tangan ku gemetar saat membaca pesan itu. Aku menelepon Pak Budi dengan suara tertahan. “Gila lu, Bud! Istri gue bukan barang mainan! Pelecehan cadar? Lu kira Ayu pelacur?”
Pak Budi tertawa pelan di seberang. “Tenang bro. Ini fiksi artistik kok. Mereka suka cerita sholehah yang jatuh sedikit. Bukan sex langsung. Cuma pose-pose degrading—cadar ditarik, mulut dibuka pakai kain, air liur ditetesin, tangan diikat kain cadar sendiri. Model pria yang dipasangkan sama Ayu itu gay tulen, bro. Dia cuma pose, tidak akan ngapa-ngapain. Gue sendiri yang jadi photographer. Aman. Lu bisa awasi dari ruangan sebelah lewat kaca one-way.”
Aku diam lama. 20 juta. Itu uang gila untuk kami. Bisa bayar hutang, beli rumah kecil, dan masih sisa untuk tabungan Alif. Tapi harga diriku sebagai suami hancur. Malu membakar wajahku. Bayangan Ayu—istriku yang sholehah, yang hafal Qur’an, yang selalu cium tanganku sebelum tidur—kini akan “dilecehkan” cadarnya di depan orang kaya yang fetishnya aneh.
Malamnya aku ceritakan ke Ayu. Dia duduk di tepi ranjang, cadarnya sudah dilepas, wajah cantiknya pucat tapi matanya ada kilau penasaran yang dia coba sembunyikan.
“20 juta, Mas?” suaranya pelan. “Banyak sekali… Tapi pelecehan cadar? Aku… aku takut Mas. Cadar ini simbol aku. Kalau dilecehkan, rasanya seperti aku dihina sebagai perempuan sholehah.”
Aku melihat konflik batinnya. Dia menggigit bibir, tangannya memilin ujung baju tidur. Tapi putingnya di balik kain tipis mengeras. Tubuhnya mengkhianati kata-katanya.
“Aku marah tadinya, Yu,” kataku jujur. “Malu banget. Tapi Budi bilang model prianya gay. Dia cuma pose. Budi yang foto. Aku bisa awasi dari sebelah. Kalau kamu tidak mau, kita tolak.”
Ayu diam lama. Dia bangkit, berdiri di depan cermin, memasang cadarnya lagi. Lalu dia menarik cadar itu pelan ke bawah, memperlihatkan mulutnya, lalu menarik lebih rendah hingga dagu dan leher. Dia memandang dirinya sendiri dengan tatapan aneh—malu, tapi juga terangsang.
“Kalau cuma pose… dan Mas awasi… mungkin aku coba,” bisiknya akhirnya. “Tapi Mas janji, kalau aku bilang stop, kita berhenti.”
Aku mengangguk, meski dada ku sesak. Malam itu kami tidak bercinta. Aku hanya memeluknya, tapi pikiranku penuh bayangan gelap: Ayu dengan cadar ditarik paksa, air mata malu di matanya, sementara orang kaya itu menonton dari balik kaca.
Dua hari kemudian, kontrak ditandatangani. Lokasinya di sebuah villa mewah di pinggir Jakarta, milik salah satu teman kaya Budi. Aku dan Ayu datang malam itu dengan mobil Pak Budi. Ayu memakai gamis hitam panjang dan cadar tebal favoritnya—yang biasa dia pakai sholat. Wajahnya pucat, tapi langkahnya mantap.
Di villa, ruangan studio sudah disiapkan. Lampu redup, ada kursi kayu, rantai kain cadar, dan backdrop hitam. Model pria yang namanya Dika memang terlihat feminin, gerakannya lembut, dan dia menyapa Ayu dengan sopan tanpa nafsu jelas. Pak Budi sudah siap dengan kameranya.
“Aku di ruangan sebelah ya, Yu,” kataku sebelum masuk ke kamar observasi dengan kaca one-way. Ayu mengangguk, tangannya dingin saat memegangku.
Dari balik kaca, aku melihat semuanya. Awalnya masih pelan. Dika memegang Ayu dari belakang, tangannya memeluk pinggang tapi tidak mesum. Budi memotret. Lalu mulai fetish-nya.
Dika menarik cadar Ayu dari belakang, menurunkannya hingga mulut Ayu terbuka paksa. Kain cadar dimasukkan sedikit ke mulut Ayu, membuatnya seperti dicekik kain sendiri. Ayu menggeliat, matanya berkaca-kaca. Tapi dia tidak bilang stop.
“Bagus, Bu Ayu… ekspresi malu itu bagus,” kata Budi sambil klik kameranya.
Selanjutnya, Dika menyiram sedikit air ke wajah Ayu sehingga cadarnya basah dan menempel ketat, memperlihatkan bentuk wajah sholehahnya yang basah kuyup. Ayu didudukkan di kursi, tangannya diikat ke belakang menggunakan kerudungnya sendiri. Dika berdiri di depannya, tangan menyentuh dagu Ayu, memaksa wajahnya mendongak.
Aku di ruangan sebelah merasa malu luar biasa. Air mata hampir jatuh. Ini istriku. Tapi kontolku keras sekali. Aku meremasnya diam-diam sambil melihat Ayu yang mulai mendesah pelan saat Dika menarik cadarnya lebih rendah hingga payudaranya hampir terbuka.
Puncaknya saat Budi meminta pose “pelecehan total”. Dika menarik cadar Ayu hingga hampir lepas, rambutnya tergerai, kain cadar dibelit di leher seperti kalung hina. Ayu dipaksa berlutut di depan Dika (meski Dika gay dan tidak ereksi). Air liur diteteskan ke bibir Ayu yang terbuka. Ayu menangis pelan, tapi pinggulnya menggesek kursi pelan, menandakan dia basah.
“Ya Allah… maafkan aku, Mas…” gumam Ayu pelan, tapi kamera Budi terus merekam.
Sesi selesai setelah dua jam. Ayu keluar dari studio dengan cadar sudah dipasang lagi, tapi matanya merah. Tubuhnya gemetar. Aku memeluknya erat di mobil pulang.
“Mas… aku malu sekali. Tapi… aku klimaks sekali tadi cuma dari pose itu. Tanpa disentuh. Aku benci diri sendiri,” katanya sambil menangis di dadaku.
Aku mengusap punggungnya. Uang 20 juta sudah ditransfer. Tapi malam itu, saat kami sampai rumah, aku tidak bisa menahan diri. Aku menarik Ayu ke kamar, membuka cadarnya yang masih bau air dan keringat orang lain, lalu memasukinya dengan kasar sambil mengingat semua adegan tadi.
“Kamu suka dihina cadarnya ya, Yu? Istri sholehahku dilecehkan orang kaya…” bisikku.
Ayu menangis tapi pinggulnya menyambut kuat. “Maaf Mas… aku memang sudah rusak. Tapi aku cinta Mas.”
Kami bercinta dengan penuh konflik—air mata, nafsu, dan rasa bersalah bercampur. Aku tahu popularitas Ayu akan semakin besar setelah ini. Dan tawaran-tawaran berikutnya pasti lebih gelap.
Benih NTR dan exhibitionism sudah tumbuh terlalu besar. Aku, sebagai suami, sudah terjerat voyeurism yang tak bisa lepas. Dan Ayu… dia masih berjuang dengan batinnya, tapi tubuh dan jiwanya sudah mulai menikmati kehinaan yang manis itu.
Komentar
Posting Komentar