Istri bercadar berujung jadi model sex Bab 3
**Bab 3: Tatapan yang Membakar**
Aku, Hasan, berdiri di balik tirai jendela kamar tidur, napasku tertahan. Malam ini terasa lebih panas dari biasanya, meski AC rumah sudah diperbaiki dengan uang dari sesi foto kedua Ayu. Tubuhku tegang, bukan karena marah, tapi karena sesuatu yang lebih dalam—campuran cemburu yang menyengat dan gairah yang membuat selangkanganku berdenyut.
Seminggu setelah sesi di taman kompleks, Ayu semakin berani. Semuanya masih dibungkus alasan uang. “Untuk tabungan Alif masuk TK unggulan, Mas,” katanya kemarin malam sambil memelukku, tangannya menyusuri dada ku dengan lembut. Aku tahu itu hanya separuh kebenaran. Ada api lain di matanya sekarang, api yang lahir dari tatapan orang asing yang melihat bagian tubuhnya yang selama ini tertutup rapat oleh cadar hitam tebal.
Pagi tadi, Pak Budi datang lagi dengan tawaran baru. Kali ini bukan foto diam, tapi video pendek. “Cuma untuk kolektor pribadi, Mas. Bayarannya lumayan—dua setengah juta. Ayu tinggal jalan di trotoar depan kompleks, angin kencang, cadar sedikit longgar. Natural saja.”
Aku seharusnya menolak. Tapi saat melihat Ayu yang berdiri di sampingku, tangannya memegang ujung cadar dengan gugup tapi matanya penuh harap, aku mengangguk. “Kamu awasi dari jauh ya, Mas,” bisiknya sebelum kami keluar.
Sekarang, aku berada di posisi pengintai. Aku mengikuti mereka dari jarak lima puluh meter, berpura-pura membawa tas belanja. Ayu berjalan di trotoar, cadar hitamnya masih terpasang rapi, gamis panjang menutupi tubuh rampingnya. Pak Budi berjalan di depan dengan kamera kecil tersembunyi di tangan, seolah sedang rekam suasana jalan.
Angin sore datang kencang. Ayu sengaja berhenti di depan warung kopi pinggir jalan di mana beberapa lelaki muda sedang nongkrong. Angin meniup gamisnya hingga menempel di tubuh, memperlihatkan bentuk pinggul dan payudaranya yang kencang. Cadarnya berkibar, bagian bawahnya naik hingga dagu dan leher putihnya terpapar. Dia tidak buru-buru menariknya. Malah, dia membiarkan angin itu bermain beberapa detik lebih lama.
Salah satu lelaki di warung berbisik ke temannya. Mereka menoleh. Ayu melanjutkan langkah, tapi gerakannya lambat, seolah menikmati tatapan itu. Aku melihat dari balik pohon—jantungku seperti mau copot. Wajah Ayu di balik cadar pasti merah, tapi langkahnya mantap. Pak Budi tersenyum puas, kameranya terus merekam.
Saat Ayu melewati gang kecil yang biasa digunakan anak muda bermain bola, angin lebih kencang. Kali ini dia “tak sengaja” menarik cadar agak lebih rendah saat membetulkan kerudung. Bagian atas dadanya yang terbalut baju dalam tipis sempat terlihat samar oleh dua orang pekerja bangunan yang sedang istirahat. Mereka berhenti bicara, mata mereka terkunci ke arah Ayu. Salah satunya bahkan mengatur posisi duduknya agar bisa melihat lebih jelas.
Aku merasa mual sekaligus sangat keras. Istriku yang sholehah, yang dulu tak pernah keluar rumah tanpa cadar tebal, kini sengaja membiarkan auratnya dilihat orang lain. Dan yang paling membuatku terguncang—aku tidak berhenti. Aku terus mengikuti, tanganku gemetar memegang ponsel, merekam semuanya dari jauh sebagai bukti untuk diriku sendiri.
Pulang ke rumah, Ayu langsung masuk kamar. Wajahnya berkeringat, napasnya cepat. Aku mengunci pintu dan mendekat. Tanpa kata, aku menarik cadarnya turun sepenuhnya, mencium lehernya yang masih terasa panas karena tatapan orang lain.
“Mas… mereka lihat aku tadi,” bisiknya dengan suara gemetar. “Dua orang di gang itu… mata mereka… aku merasa kotor, tapi… basah sekali.”
Aku mendorongnya ke tempat tidur. Gamisnya aku angkat tinggi, celana dalamnya sudah basah luar biasa. Aku menjilatnya di sana, merasakan rasa manis yang berbeda—rasa dosa dan kegembiraan baru. Ayu mendesah keras, pinggulnya terangkat. “Mas… bayangin kalau mereka tahu aku istri sholehah… tapi suka dilihat…”
Kami bercinta seperti binatang malam itu. Aku memasukinya dalam-dalam, berulang kali menyebut, “Kamu milikku, tapi mereka boleh lihat sedikit.” Ayu klimaks dua kali sebelum aku menyemburkan benihku di dalamnya. Setelahnya, kami berbaring kelelahan. Ayu memeluk dadaku, suaranya pelan, “Mas… besok ada tawaran lain. Dari teman Pak Budi. Namanya Mas Reza. Dia mau foto di rumah kosong sebelah. Bayarannya lebih besar.”
Aku diam. Reza adalah duda kaya yang baru pindah ke kompleks dua bulan lalu. Tubuhnya tinggi, berolahraga, sering terlihat lari pagi tanpa baju. Aku pernah melihat Ayu meliriknya dari balik jendela.
“Dia… orangnya seperti apa?” tanyaku.
Ayu menunduk. “Masih sopan. Katanya cuma mau foto artistik. Cadar longgar, baju agak tipis. Tidak ada sentuhan.”
Aku tahu ini jebakan. Tapi nafsu gelap di dalam diriku sudah terlalu kuat. “Aku akan awasi dari luar jendela.”
Keesokan sorenya, Reza datang. Pria itu tersenyum ramah padaku, tapi matanya saat melihat Ayu jelas lapar. Mereka masuk ke rumah kosong sebelah yang pintu belakangnya menghadap ke halaman kami. Aku bersembunyi di balik ventilasi jendela, mengintip.
Awalnya masih biasa. Ayu berdiri di ruangan kosong, cahaya sore masuk dari jendela. Reza meminta Ayu membuka cadar hingga leher, lalu menurunkan bahu gamisnya sedikit. Kulit bahu Ayu yang putih mulus terpapar. Reza mendekat, mengatur pose, tangannya hampir menyentuh tapi tidak. Ayu napasnya naik turun cepat.
Lalu Reza bilang, “Bu Ayu, kalau mau lebih natural, buka kerudungnya sebentar. Rambutnya pasti indah.”
Ayu melirik ke arah jendela—ke arahku. Aku tidak memberi tanda. Dia melepas kerudungnya. Rambut hitam panjangnya tergerai, berkilau di cahaya sore. Reza mengambil banyak foto. Matanya turun ke dada Ayu yang naik turun. Ayu sengaja membusungkan dada sedikit saat angin dari jendela meniup bajunya.
Aku melihat Reza menelan ludah. “Cantik sekali, Bu. Suami Bu beruntung.”
Ayu tersipu, tapi senyum kecil muncul di bibirnya. “Terima kasih, Mas Reza.”
Sesi itu berlangsung hampir satu jam. Di akhir, Reza meminta Ayu membuka dua kancing atas gamisnya, memperlihatkan belahan dada yang tertutup bra hitam tipis. Ayu melakukannya. Reza mendekat sangat dekat untuk mengambil close-up. Aku bisa lihat tangan Reza gemetar menahan diri untuk tidak menyentuh.
Saat Reza pulang, Ayu langsung kembali ke rumah dengan wajah merah padam. Aku menariknya ke kamar tanpa bicara. Aku membuka bajunya kasar, melihat bekas keringat dan aroma nafsu di tubuhnya.
“Dia hampir sentuh aku, Mas…” bisik Ayu saat aku memasukinya dari belakang. “Matanya… lapar sekali. Aku… aku basah banget tadi.”
Aku menggenggam rambutnya, menarik pelan sambil menghentakkan pinggulku. “Kamu suka ya, Yu? Suka dilihat lelaki lain yang lebih kaya, lebih gagah?”
Ayu mendesah panjang, tubuhnya bergetar. “Maaf, Mas… tapi iya. Aku suka. Tapi aku tetap milik Mas. Ini cuma… fantasi.”
Kami klimaks bersama dengan kuat. Setelah itu, Ayu berbaring di dadaku, jarinya menggambar lingkaran di perutku. “Mas Reza bilang besok mau sesi lagi. Kali ini… mungkin di kamarnya. Dia punya studio foto pribadi. Katanya bayar lima juta.”
Aku terdiam lama. Lima juta adalah uang yang sangat besar untuk kami. Tapi ini sudah bukan soal uang lagi. Ini soal Ayu yang perlahan berubah. Dari istri sholehah yang pemalu, menjadi perempuan yang ketagihan tatapan dan kekaguman lelaki lain. Dan aku… aku sudah terlalu dalam dalam voyeurism ini.
Malam itu, setelah Ayu tidur, aku membuka ponselnya diam-diam. Ada chat baru dengan Reza.
Reza: “Besok jam 8 malam ya, Cantik. Pakai cadar tipis saja. Aku tunggu.”
Ayu: “Iya, Mas. Tapi Mas Hasan awasi dari luar.”
Reza: “Boleh. Tapi kalau kamu nyaman, kita bisa lebih privat. Aku suka perempuan tertutup seperti kamu yang berani buka sedikit.”
Hatiku sakit. Tapi kontolku kembali mengeras. Aku kembali ke tempat tidur, memeluk Ayu dari belakang, dan memasukinya pelan saat dia setengah tidur. Dia mendesah pelan, pinggulnya bergerak menyambut tanpa sadar penuh.
Aku tahu permainan ini sudah semakin berbahaya. Exhibitionism Ayu semakin berani, voyeurism-ku semakin dalam, dan NTR… mulai mendekat dengan nyata melalui Reza. Tapi aku tidak bisa berhenti. Aku ingin melihat seberapa jauh istri sholehahku akan pergi, dan seberapa sakit sekaligus nikmatnya rasanya melihat dia dinikmati tatapan orang lain.
Komentar
Posting Komentar