Istri bercadar berujung jadi model sex Bab 4
**Bab 4: Malam di Rumah Reza**
Aku, Hasan, berdiri di balik pagar rumah kosong Reza yang tinggi, tubuhku menempel rapat pada dinding beton yang dingin. Malam ini angin tidak berhembus sama sekali, tapi keringat masih mengalir deras di punggungku. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Lampu di dalam rumah Reza menyala redup, menciptakan bayangan-bayangan yang menari di balik tirai tipis. Aku sudah di sini sejak setengah jam lalu, menyembunyikan diri seperti pencuri di kompleks sendiri.
Semuanya dimulai dari uang lagi, seperti biasa. Lima juta rupiah. Cukup untuk melunasi cicilan motor dan membeli kebutuhan Alif selama dua bulan. Tapi kami berdua tahu, Ayu dan aku, bahwa uang hanyalah selimut tipis yang menutupi api yang semakin membesar di antara kami. Malam ini, Ayu pergi ke rumah Reza untuk sesi foto "artistik" yang katanya lebih privat. Aku mengizinkannya dengan syarat aku boleh mengawasi dari luar. Voyeurism-ku sudah menjadi candu yang tak bisa kutolak lagi.
Ponselku bergetar pelan. Chat dari Ayu: “Mas, aku sudah masuk. Reza ramah. Aku pakai cadar tipis seperti kesepakatan. Doakan aku tetap kuat ya.”
Aku tidak membalas. Hanya mengintip lewat celah pagar yang sedikit longgar. Dari posisiku, aku bisa melihat ruang tamu Reza yang luas, diubah menjadi studio foto mini dengan lampu sorot lembut dan backdrop hitam. Reza berdiri di sana, tinggi tegap, memakai kaos ketat yang memperlihatkan otot lengannya. Dia tersenyum lebar saat Ayu masuk, cadar hitam tipisnya masih menutupi wajah sepenuhnya, gamis abu-abu panjang menjuntai anggun.
“Mau minum dulu, Bu Ayu? Santai saja,” kata Reza dengan suara dalam yang tenang.
Ayu menggeleng pelan, suaranya terdengar samar dari balik cadar. “Langsung saja, Mas. Mas Hasan nunggu di rumah.”
Tapi aku tahu, Ayu berbohong sedikit. Dia tidak terlihat gugup. Malah, gerakannya lebih percaya diri. Reza mulai memotret. Awalnya masih seperti sesi sebelumnya—pose berdiri, tangan di samping tubuh, cadar diturunkan perlahan hingga leher indah Ayu terpapar. Klik. Lampu sorot membuat kulitnya bersinar putih.
Aku menelan ludah. Jantungku berdegup keras saat Reza mendekat, mengatur pose Ayu dengan tangan yang hampir menyentuh bahunya. “Sedikit miringkan kepala, Bu. Biar cahayanya jatuh pas di leher.”
Ayu menurut. Rambutnya sudah tergerai, hitam legam dan mengilap. Reza memuji tanpa henti, “Subhanallah, Bu. Cantik sekali. Suami Bu pasti bangga punya istri sholehah yang seperti ini.”
Kata “sholehah” itu terdengar seperti ejekan manis di telingaku. Aku melihat Ayu tersipu, meski hanya terlihat dari matanya yang terbuka. Cadarnya diturunkan lebih rendah lagi, hingga bagian atas dada terlihat. Reza meminta Ayu membuka dua kancing gamisnya. Ayu melakukannya perlahan, memperlihatkan belahan dada yang tertutup bra hitam renda tipis. Payudaranya yang sedang tapi kencang naik turun mengikuti napasnya yang semakin cepat.
Aku merasa kontolku mengeras di balik celana. Dari tempat persembunyianku, aku bisa melihat wajah Reza yang semakin dekat. Matanya penuh nafsu, tapi dia masih menahan diri. “Kalau Bu Ayu nyaman, kita coba pose duduk di sofa. Cadar tetap dipakai, tapi dibuka lebih longgar.”
Ayu duduk di sofa kulit Reza. Dia menarik cadar hingga hanya menutupi hidung dan mulut, membiarkan seluruh leher, bahu, dan belahan dada terbuka. Reza berlutut di depannya untuk angle rendah. Kameranya terus berbunyi. Lalu, tanpa diduga, Reza berkata pelan, “Bu, angin dari AC agak kencang. Baju dalamnya sedikit basah keringat… kelihatan bentuknya. Mau saya matikan AC-nya?”
Ayu menggeleng. Suaranya agak serak, “Biarkan saja, Mas. Ini… bagian dari natural, kan?”
Aku hampir mengerang. Istriku yang dulu malu-malu saat aku saja melihat tubuhnya tanpa lampu, kini sengaja membiarkan bra tipisnya terlihat jelas di depan pria lain. Reza tersenyum, tangannya menyentuh lengan Ayu untuk mengatur pose. Sentuhan pertama yang nyata. Ayu tidak menarik diri. Malah, tubuhnya sedikit gemetar, tapi positif.
Sesi semakin panas. Reza meminta Ayu berdiri lagi, membalikkan badan, dan menurunkan gamis dari bahu hingga punggung mulusnya terpapar. Hanya bra dan celana dalam yang tersisa di balik gamis yang tergantung di pinggang. Reza memotret dari belakang, memuji bentuk pinggul Ayu. “Sempurna, Bu. Istri sholehah tapi tubuhnya seperti ini… menggoda.”
Ayu menoleh sedikit ke belakang. Matanya mencari-cari, mungkin mencoba mencari keberadaanku di luar. Aku tidak bergerak. Aku hanya mengamati, tanganku tanpa sadar meremas kontolku sendiri dari luar celana.
Tiba-tiba Reza mendekat dari belakang. Tubuhnya hampir menempel. “Bu Ayu… boleh saya sentuh pinggangnya sedikit untuk pose? Cuma untuk keseimbangan.”
Ayu diam beberapa detik. Lalu dia mengangguk kecil. Tangan Reza menyentuh pinggang ramping Ayu, memegangnya pelan. Ayu menggigit bibir di balik cadar. Napasnya tersengal. Reza tidak melepaskan tangannya. Malah, ibu jarinya mengusap pelan kulit punggung Ayu. “Hangat sekali kulitnya…”
Aku melihat semuanya. Cemburu membakar dadaku seperti api neraka, tapi gairahku jauh lebih kuat. Aku ingin masuk dan menarik Ayu pulang, tapi kakiku tidak bergerak. Aku ingin melihat lebih jauh.
Ayu berbalik menghadap Reza. Cadarnya sekarang hanya menutupi mulut dan hidung. Matanya bertemu dengan mata Reza. “Mas Reza… ini sudah cukup ya? Saya… agak panas.”
Reza tersenyum. “Masih ada satu pose lagi, Bu. Duduk di pangkuan kursi, kaki disilang. Bisa?”
Ayu duduk. Gamisnya naik tinggi hingga paha mulusnya terlihat. Reza berlutut di depannya lagi, kamera sangat dekat dengan tubuh Ayu. Aku melihat tangan Ayu gemetar di pangkuan. Lalu, tanpa sengaja atau sengaja, kakinya sedikit terbuka. Reza bisa melihat jelas celana dalam hitam Ayu yang sudah basah di tengah.
“Ya Allah… Basah sekali,” gumam Reza pelan, tapi aku masih bisa mendengar dari celah jendela.
Ayu tidak menutup kakinya. Malah, dia menggeser pinggulnya sedikit ke depan. Reza meletakkan kamera, tangannya naik ke paha Ayu, mengusap pelan. “Bu Ayu… kamu cantik sekali. Sholehah tapi berani seperti ini.”
Ayu mendesah pelan. “Jangan… Mas. Mas Hasan di luar.”
Tapi suaranya tidak meyakinkan. Reza tersenyum, jarinya semakin naik. “Dia tahu kok. Dia suka lihat istrinya dilihat orang lain, kan?”
Aku terkejut. Reza tahu aku mengawasi. Tapi dia tidak peduli. Jarinya menyentuh tepi celana dalam Ayu. Ayu menggigil, tapi tidak menolak. Matanya tertutup rapat, napasnya tersengal.
Aku tidak tahan lagi. Aku bergegas pulang ke rumah sendiri, meninggalkan mereka. Di kamar, aku menunggu dengan kontol yang sudah keras sekali. Setengah jam kemudian, Ayu pulang. Wajahnya merah, cadarnya acak-acakan, gamisnya kusut.
Dia langsung mendekatiku. “Mas… maaf. Reza sentuh aku sedikit. Di paha… dan di… sana. Aku basah banget, Mas.”
Aku menariknya kasar ke tempat tidur. Aku membuka gamisnya dengan kasar. Celana dalamnya memang basah sekali, bahkan ada bekas jari orang lain. Aku mencium aroma nafsu Ayu yang bercampur dengan sesuatu yang asing. Aku menjilatnya di sana dengan rakus, membersihkan bekas sentuhan Reza sambil mendengar cerita Ayu.
“Dia usap di sini, Mas… pelan sekali. Aku hampir… hampir klimaks cuma dari jari dia. Tapi aku ingat Mas. Aku bilang stop.”
Aku bangkit, memasukinya dengan satu hentakan keras. Ayu menjerit kenikmatan. “Mas… aku exhibitionist sekarang. Aku suka dilihat. Suka disentuh orang lain. Tapi aku tetap istri Mas!”
Aku menghentakkan pinggulku dengan liar, membayangkan jari Reza di tubuh Ayu. “Besok… kamu mau ke sana lagi?”
Ayu mengangguk sambil mendesah. “Iya, Mas… tapi kali ini… mungkin lebih. Kalau Mas izinkan.”
Kami klimaks bersama dengan hebat. Tubuh Ayu bergetar hebat di bawahku, cairannya menyembur keluar. Setelahnya, dia berbaring lemas di dadaku, tangannya memeluk erat.
“Mas… terima kasih sudah mengizinkan aku seperti ini. Awalnya cuma karena uang. Sekarang… aku merasa bebas. Tapi cintaku tetap untuk Mas.”
Aku mencium keningnya. Di dalam hati, aku tahu ini sudah terlalu jauh. Exhibitionism Ayu sudah berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap. Voyeurism-ku membuatku ketagihan melihat istri sholehahku dinikmati orang lain. Dan Reza… dia bukan lagi hanya fotografer. Dia calon NTR yang nyata.
Malam itu aku sulit tidur. Aku membayangkan besok, Ayu mungkin akan membiarkan lebih banyak. Mungkin Reza akan menciumnya. Mungkin Ayu akan menyentuh Reza. Dan yang paling menakutkan… aku mulai menyadari bahwa aku ingin itu terjadi.
Komentar
Posting Komentar