Istri bercadar berujung jadi model sex Bab 6

**Bab 6: Video yang Mengikat Jiwa**

Aku, Hasan, berdiri di teras rumah sambil merokok, asapnya mengepul lambat di udara malam Jakarta yang pengap. Sudah tiga hari sejak sesi pelecehan cadar yang membawa pulang 20 juta rupiah itu. Uangnya sudah masuk rekening, cukup untuk melunasi banyak beban. Tapi kedamaian rumah tangga kami tidak ikut masuk. Ayu semakin pendiam siang hari, sholatnya lebih lama dari biasanya, tapi malam hari tubuhnya justru lebih haus. Dia sering terbangun tengah malam, tangannya menyusup ke celanaku tanpa kata, seolah mencari pengampunan sekaligus pelepasan dari dosa yang baru saja kami beli.

Popularitas Ayu di kalangan teman-teman kaya Pak Budi memang meledak. Aku tahu karena Pak Budi sesekali mengirim screenshot chat grup mereka. “Sholehah cadar yang malu-malu tapi basah saat dilecehkan” — begitu mereka menyebut istriku. Beberapa bahkan menawarkan jumlah yang lebih gila hanya untuk melihat video pendek. Aku selalu menghapusnya, tapi bayangannya tetap menempel di kepala.

Sore itu, Pak Budi datang tanpa janji. Wajahnya penuh semangat saat duduk di ruang tamu, membawa map berisi kontrak baru. Ayu keluar dari dapur dengan cadar tipis, membawa teh hangat. Aku sudah bisa melihat dari gerakannya bahwa dia tahu ada tawaran baru.

“Bro, ini tawaran gila,” kata Pak Budi langsung. “Klien utama gue — pengusaha properti besar — mau lanjut. Ayu dan Dika lebih intim. Bukan foto lagi, tapi video full HD. Durasi satu malam syuting. Bayarannya 25 juta cash. Tema tetap pelecehan cadar, tapi lebih dalam. Mereka suka liat simbol kesucian dihancurkan perlahan.”

Aku langsung bangkit, darah naik ke kepala. “Tidak, Bud. Foto saja sudah keterlaluan. Video? Bisa disebar, bisa direkam selamanya. Aku tidak mau istriku jadi bahan masturba—"

“Mas…” suara Ayu memotong pelan. Dia duduk di sebelahku, tangannya memegang pahaku. “Dengar dulu.”

Pak Budi tersenyum. “Tenang, Hasan. Video ini private, hanya untuk klien. Tidak ada distribusi. Dika tetap gay, dia cuma aktor pose. Gue yang handle kamera sepenuhnya. Lu boleh awasi dari ruang kontrol seperti kemarin. Ini kesempatan besar, bro.”

Aku menatap Ayu. Matanya menunduk, tapi jari-jarinya menekan pahaku lebih kuat. Ada konflik batin yang jelas di wajahnya — pipinya merah, bibirnya digigit. “Mas… 25 juta. Kita bisa bayar rumah kontrakan ini lunas. Alif bisa sekolah yang lebih baik. Aku… aku tahu ini salah. Tapi setelah sesi kemarin, aku tidak bisa bohong. Aku takut, tapi juga… ingin tahu seberapa jauh aku bisa bertahan.”

Suara Ayu bergetar. Ada air mata di ujung matanya, tapi juga ada kebasahan lain yang aku kenali dari nada napasnya. Aku marah. Marah pada dirinya, pada diriku, pada uang yang terus menjadi alasan. Tapi kontolku sudah setengah keras hanya mendengar tawaran itu.

Malam itu kami bertengkar pelan di kamar. Aku bilang tidak mau video karena bisa jadi senjata di masa depan. Ayu menangis, memelukku, tapi juga mengakui, “Mas, saat cadarku ditarik kemarin… aku klimaks tanpa disentuh. Aku benci diri sendiri, tapi tubuhku suka. Tolong izinkan sekali ini saja. Setelah ini, kita stop.”

Akhirnya aku mengalah. Bukan karena uang. Tapi karena aku ingin melihat lagi — ingin melihat batas Ayu retak lebih dalam.

Syuting dilakukan dua hari kemudian di villa yang sama. Kali ini ruangannya lebih gelap, lebih intim, dengan kamera di beberapa angle. Aku duduk di ruang kontrol kecil dengan monitor, tanganku dingin. Ayu masuk dengan gamis hitam dan cadar tebalnya, tampak seperti istri sholehah yang akan pergi pengajian. Dika sudah menunggu dengan kolor ketat hitam yang memperlihatkan bentuk tubuhnya yang ramping.

Pak Budi memberi aba-aba. “Action.”

Awalnya masih seperti sesi sebelumnya — Dika menarik cadar Ayu, memasukkan kain ke mulutnya sebagai sumpal, mengikat tangannya dengan kerudung. Ayu berlutut, air mata mengalir. Tapi kali ini ada video, jadi suara desahannya terekam jelas.

Lalu adegan utama yang diminta klien.

Mereka memposisikan Ayu menungging di atas kasur rendah. Gamisnya digulung ke pinggang, memperlihatkan pantat bulatnya yang putih mulus hanya tertutup celana dalam tipis. Cadarnya ditarik paksa ke belakang hingga kainnya tersumpal di mulutnya, membuat suaranya menjadi erangan teredam. Tangan Ayu diikat ke depan dengan sisa kain cadar. Posisinya sangat hina — istri sholehah yang sedang sujud, tapi dalam posisi persetubuhan.

Dika berdiri di belakangnya, hanya memakai kolor ketat. Dia mulai menggesekkan tubuhnya pelan ke pantat Ayu. Gerakan grinding lambat, kontolnya yang masih tertutup kain menekan celah pantat Ayu yang dibalut celana tipis. Aku melihat jelas di monitor — meski Dika gay, kontolnya mulai mengeras. Bentuknya semakin jelas di balik kolor, menekan kuat ke tubuh Ayu.

Ayu menggeliat. Matanya melebar kaget di balik cadar yang kusut. Dia mencoba menoleh, suaranya teredam kain, “Mmmhh…!” Tapi pinggulnya justru mendorong ke belakang sedikit, seolah mencari gesekan itu. Dia bergairah. Istriku yang sholehah bergairah karena kontol pria gay yang mengeras di pantatnya.

Pak Budi yang memegang kamera utama juga terlihat gelisah. Celananya jelas menonjol besar. Dia mengatur posisi kamera dengan satu tangan, tangan lain sesekali menekan selangkangannya sendiri, seolah menahan nafsu.

“Bagus sekali, Bu Ayu… ekspresi kaget tapi basah itu,” gumam Budi sambil zoom ke wajah Ayu yang basah air mata dan keringat.

Dika terus menggesek lebih kuat. Kolornya sudah basah di ujung karena precum. Ayu mendesah panjang di balik sumpal kain cadarnya, pinggulnya bergerak maju mundur mengikuti ritme Dika. Meski tidak ada penetrasi, adegan itu terlihat sangat mesum — pantat Ayu yang suci digesek oleh kontol pria lain, cadarnya yang simbol ketaatan kini menjadi alat penghinaan di mulutnya.

Aku di ruang kontrol sudah tidak tahan. Aku mengeluarkan kontolku dan mengocoknya sambil menonton. Cemburu membakar, tapi kenikmatan voyeurism ini jauh lebih kuat. Melihat Ayu yang dulu selalu menutup aurat rapat-rapat, kini menungging dengan mulut tersumpal kain cadar sendiri, pantatnya digesek pria lain hingga basah.

Syuting berlangsung hampir tiga jam. Adegan demi adegan — Ayu dipaksa menjilat kain cadarnya sendiri yang basah, Dika menggesek dari samping sambil menarik rambutnya, Budi yang semakin ereksi total sampai noda basah terlihat di celananya.

Saat syuting selesai, Ayu keluar dari ruangan dengan langkah goyah. Cadarnya kusut parah, gamisnya acak-acakan. Aku memeluknya di mobil. Tubuhnya panas sekali.

“Mas… Dika mengeras beneran tadi,” bisiknya di perjalanan pulang, suaranya pecah. “Aku kaget. Dia gay, tapi… aku merasakan kontolnya keras di pantat aku. Aku… aku klimaks dua kali cuma dari gesekan itu. Aku jijik sama diri sendiri, Mas.”

Aku tidak marah. Aku malah menarik mobil ke pinggir jalan sepi dan menarik Ayu ke pangkuanku. Aku membuka celana dalamnya yang basah sekali, lalu memasukinya di dalam mobil. Ayu menjerit pelan, mencengkeram bahuku.

“Ceritakan lagi, Yu. Bagaimana rasanya saat Dika gesek pantatmu?” tanyaku sambil menghentak kuat.

Ayu menangis tapi pinggulnya bergerak liar. “Keras, Mas… panas. Aku merasa murahan. Cadarku di mulut, pantatku digesek… dan Budi lihat semuanya dengan kontolnya berdiri. Aku sholehah, tapi jadi pelacur cadar…”

Kami klimaks bersama dengan hebat di mobil. Cairan Ayu menyembur membasahi jok. Setelahnya, dia bersandar lemas di dadaku.

“25 juta sudah masuk, Mas. Tapi… aku takut ini tidak akan berhenti. Aku semakin suka dihina.”

Aku mencium keningnya. Popularitas Ayu akan semakin meroket setelah video ini. Tawaran berikutnya pasti lebih gelap, lebih intim. Dan aku, sebagai suami yang dulu mencintai kesuciannya, kini justru ketagihan melihat kesucian itu diinjak-injak perlahan.

Malam itu di rumah, aku memeluk Ayu yang tidur lelap karena kelelahan. Di kepalaku, bayangan pantatnya yang menungging dengan mulut tersumpal kain cadar, digesek kontol Dika yang ereksi, terus berputar. Aku tersenyum kecil di kegelapan.

Permainan ini sudah terlalu dalam. Dan tak ada jalan kembali.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 7

Perjalanan Neraka Kenikmatan Bab 7

Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 10