Istri bercadar berujung jadi model sex Bab 2

**Bab 2: Angin yang Semakin Berani**

Aku, Hasan, masih terbaring di samping Ayu malam itu, napas kami berdua belum sepenuhnya tenang setelah percintaan yang tiba-tiba terasa lebih intens. Kata-katanya tadi masih bergema di kepalaku: *“Bayangin kalau ada orang lain yang lihat aku… cuma sedikit. Apa Mas marah?”* 

Aku tidak menjawab saat itu. Hanya memeluknya lebih erat, mencium keningnya yang masih berkeringat, dan berusaha tidur. Tapi tidur tidak datang mudah. Di dalam gelap kamar, aku membayangkan wajah Ayu di balik cadar, matanya yang biasanya teduh, kini ada kilau aneh yang baru muncul. Aku merasa bersalah karena tubuhku bereaksi positif terhadap pertanyaan itu. Apa aku ini suami yang buruk?

Pagi harinya, masalah uang kembali menghantam seperti biasa. Tagihan listrik yang telat membuat meteran hampir diputus. Aku duduk di meja makan sambil menghitung sisa tabungan kami yang tinggal tiga ratus ribu. Alif sedang bermain di karpet, Ayu sibuk menyiapkan nasi goreng sederhana untuk sarapan.

“Mas,” katanya pelan sambil menuangkan teh. “Pak Budi kemarin bilang apa lagi soal pinjaman?”

Aku menggeleng. “Dia cuma bercanda soal… hal yang tidak masuk akal. Lupain saja.”

Ayu diam sejenak. Cadarnya sudah terpasang rapi karena dia berencana ke warung sebentar. “Kalau cuma foto… foto biasa, Mas. Bukan yang nakal-nakal. Mungkin bisa bantu sedikit.”

Aku menatapnya tajam. “Yu, kamu serius?”

Dia menunduk, jarinya memainkan ujung cadar. “Cuma mikir, Mas. Kita butuh uang untuk AC dan sekolah Alif. Aku tidak mau Mas stress terus. Aku… aku tetap pakai cadar. Cuma buka sedikit untuk foto muka atau tangan. Kan tidak ada yang salah.”

Suara itu lembut, penuh alasan, tapi ada getar rasa ingin tahu yang tidak bisa aku abaikan. Aku akhirnya mengalah setengah hati. “Coba tanya Pak Budi dulu. Tapi janji, hanya yang sopan.”

Siang harinya, Pak Budi datang ke rumah dengan kamera DSLR-nya. Dia pria paruh baya, perut agak buncit, tapi matanya tajam saat melihat Ayu. Aku duduk di ruang tamu, berpura-pura membaca koran sementara Ayu berdiri di sudut ruangan dengan cadar hitamnya.

“Wah, Bu Ayu, cantik sekali. Kita mulai dari foto biasa ya,” kata Pak Budi sambil menyetel kamera.

Awalnya memang biasa. Ayu berdiri tegak, tangan di samping tubuh. Klik. Lalu duduk di kursi, tangan di pangkuan. Klik. Tapi setelah sepuluh menit, Pak Budi bilang, “Biarkan angin masuk sedikit, Bu. Biar natural.”

Ayu melirik ke arahku. Aku mengangguk pelan. Dia membuka sedikit cadarnya di bagian bawah, memperlihatkan dagu dan bibir tipisnya yang merah alami. Angin dari jendela meniup kain itu, membuatnya menempel di pipinya. Pak Budi mengambil beberapa foto. Matanya tidak lepas dari wajah Ayu.

Aku merasa dada sesak. Tapi di balik sesak itu, ada denyut aneh di selangkangan. Aku melihat Ayu. Pipinya sedikit merah di atas cadar. Napasnya agak cepat. Saat Pak Budi meminta dia memiringkan kepala dan menarik cadar lebih rendah hingga lehernya terlihat sepenuhnya, Ayu melakukannya tanpa banyak protes.

“Bagus sekali, Bu. Kulitnya putih bersih,” puji Pak Budi dengan nada biasa, tapi matanya penuh nafsu.

Sesi foto selesai dengan bayaran tujuh ratus ribu. Cukup untuk bayar listrik dan beli daging dua kali. Malamnya, Ayu terlihat lebih cerah. Saat kami tidur, dia mendekatkan tubuhnya, tangannya menyusup ke bajuku.

“Mas suka lihat aku difoto tadi?” bisiknya.

Aku tidak menjawab langsung. Tapi saat kami bercinta, aku lebih kasar dari biasanya. Aku bayangkan Pak Budi masih di ruangan, melihat Ayu yang sedang ku miliki. Ayu mendesah lebih keras, tubuhnya melengkung saat aku menyebut, “Kamu suka diperhatikan ya, Yu?”

Dia tidak mengiyakan, tapi cengkeramannya di punggungku semakin kuat.

Beberapa hari kemudian, uang dari foto itu habis untuk kebutuhan mendesak. Aku mulai melihat Ayu sering membuka galeri ponselnya, melihat foto-foto hasil jepretan Pak Budi. Kadang dia tersenyum kecil di balik cadar saat melihat dirinya dengan leher terbuka. Aku mulai menjadi voyeur di rumah sendiri—mengamatinya diam-diam dari balik pintu.

Suatu sore, saat hujan deras, Ayu keluar ke teras belakang untuk mengambil jemuran yang hampir basah. Aku mengintip dari jendela kamar. Gang belakang kompleks sepi, tapi ada Bang Joko, tukang ojek online tetangga, yang sedang berteduh di bawah pohon. Ayu tahu dia ada di sana. Aku melihatnya.

Dia sengaja membungkuk lebih lambat saat mengambil kain, cadarnya basah kena hujan sehingga menempel ketat di wajahnya, memperlihatkan bentuk hidung, bibir, dan garis rahangnya. Bang Joko melihat ke arahnya. Ayu tidak buru-buru menutup. Malah dia berdiri tegak sebentar, membiarkan air hujan membasahi bagian atas bajunya yang tipis, sehingga bra hitamnya samar terlihat dari kain basah.

Jantungku berdegup kencang. Aku seharusnya keluar dan marah, tapi kakiku tidak bergerak. Aku hanya mengamati. Bang Joko tersenyum lebar, matanya tidak lepas dari dada Ayu yang naik turun. Ayu akhirnya masuk rumah, wajahnya merah padam. Tapi bukan marah. Dia langsung ke kamar mandi, dan aku mendengar suara air mengalir lama sekali.

Malamnya, saat kami berbaring, aku bertanya pelan, “Tadi sore… kamu sengaja ya di depan Bang Joko?”

Ayu diam lama. Lalu dia berbalik menghadapku, matanya berkaca-kaca tapi penuh api. “Mas… aku tidak tahu kenapa. Awalnya cuma karena uang. Tapi saat angin meniup cadar, saat orang lain melihat… rasanya aneh. Hangat. Aku merasa… hidup. Maafkan aku, Mas.”

Aku menciumnya dalam-dalam. Tangan kami saling menjelajah. Aku membayangkan Bang Joko melihat istriku yang sholehah ini, dan itu membuatku semakin bergairah. Kami bercinta dengan liar. Ayu berbisik di telingaku, “Kalau Mas izinkan… aku mau coba lagi. Cuma sedikit. Untuk kita.”

Aku mengiyakan tanpa berpikir panjang.

Hari-hari berikutnya, hal-hal kecil semakin sering terjadi. Ayu mulai memilih cadar yang lebih tipis saat keluar rumah. Saat ke pasar, dia sengaja membuka sedikit bagian bawah cadar untuk makan es kelapa di pinggir jalan, memperlihatkan bibir dan dagunya di depan beberapa pedagang laki-laki. Aku mengikutinya dari jauh, berpura-pura belanja sendiri. Voyeurism ini membuat darahku panas. Aku melihat bagaimana mata laki-laki lain melirik istriku, dan itu membuatku cemburu sekaligus bergairah luar biasa.

Suatu malam, Pak Budi datang lagi dengan tawaran baru. “Ada temen gue yang kolektor. Mau bayar lebih mahal kalau Bu Ayu mau foto di luar rumah. Cuma tangan dan leher kok, Mas. Aman.”

Aku ragu. Tapi Ayu memegang tanganku erat. “Mas, kita butuh uang untuk cicilan motor.”

Kami setuju. Lokasinya di taman kompleks saat malam mulai gelap. Aku bersembunyi di balik semak, mengamati. Ayu berdiri di bawah lampu taman, cadarnya diturunkan hingga leher. Tangan Pak Budi memegang kamera, tapi matanya jelas menikmati. Ayu sengaja mengangkat tangan, membiarkan lengan bajunya melorot sedikit, memperlihatkan kulit lengannya yang putih mulus.

Angin malam meniup cadarnya. Beberapa pemuda kompleks lewat dan berhenti sebentar untuk melihat. Ayu tidak lari. Dia malah membiarkan mereka melihat beberapa detik sebelum menarik cadar kembali. Saat pulang, tubuh Ayu panas sekali. Kami hampir tidak sampai ke kamar. Di ruang tamu, aku menariknya, membuka bajunya dengan kasar, dan memasukinya sambil berdiri. Ayu mendesah keras, “Mas… mereka lihat aku… aku suka…”

Kata-kata itu seperti racun manis. Aku menyembur di dalamnya dengan kuat, bayangan orang-orang lain yang melihat istri sholehahku membuat klimaks kami berdua lebih dahsyat dari biasanya.

Tapi benih NTR mulai tumbuh lebih dalam. Keesokan harinya, aku mendengar Ayu berbicara di telepon dengan seseorang—mungkin Pak Budi. Suaranya pelan, “Iya… besok sore. Tapi cuma sampai dada saja… ya, Mas Hasan tahu.”

Aku tidak konfrontasi. Aku hanya diam di balik dinding, mendengarkan. Jantungku berdegup. Rasa cemburu membakar, tapi nafsu yang lebih gelap membuatku diam. Aku mulai menyadari bahwa aku ingin melihat lebih jauh. Ingin melihat Ayu yang dulu selalu tertutup rapat, kini perlahan membuka diri untuk tatapan orang lain.

Malam itu, saat memeluknya, aku berbisik, “Yu, kalau kamu mau coba lebih… aku akan mengawasi dari jauh.”

Ayu menatapku lama. Matanya penuh syukur dan nafsu yang baru. “Terima kasih, Mas. Aku tetap milikmu. Ini cuma… permainan.”

Permainan. Kata itu terdengar ringan, tapi aku tahu, ini sudah mulai melampaui batas kecil. Uang hanyalah alasan awal. Sekarang, ada sesuatu yang lebih kuat—keinginan Ayu untuk dilihat, dan keinginanku untuk melihat dia dilihat.

Aku tidak tahu sampai mana ini akan pergi. Tapi setiap malam, saat aku memasuki tubuh hangat istriku yang sholehah, bayangan laki-laki lain yang mengagumi auratnya yang mulai terbuka membuatku semakin ketagihan. Dan Ayu… dia semakin basah setiap kali kami membahas itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 7

Perjalanan Neraka Kenikmatan Bab 7

Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 10