Istri bercadar berujung jadi model Sex Bab 8

**Bab 8: Malam yang Menghancurkan Segala**

Aku, Hasan, duduk lunglai di kursi ruang observasi yang dingin, tanganku masih gemetar memegang salinan kontrak sialan itu. Kata-kata “penetrasi penuh” dan “denda 2 milyar” terasa seperti belenggu besi yang mengikat leherku. Di depan monitor besar, layar menampilkan istriku — Ayu, perempuan sholehah yang kucintai dengan sepenuh jiwa — sedang berada di ujung jurang yang telah kugali sendiri.

Pak Hadi berdiri di belakang Ayu dengan senyum penuh kemenangan. Tubuhnya yang besar dan berkuasa menempel rapat. Gamis Ayu sudah digulung hingga pinggang, pantat putih mulusnya terpapar sempurna. Celana dalam hitam tipisnya basah kuyup, kainnya menempel di bibir vaginanya yang sudah membengkak karena nafsu yang tak terkendali. Cadarnya yang dulu suci kini hanya tersisa sebagai kain kusut yang masih tersumpal di mulutnya, meredam erangan malu dan kenikmatannya.

“Mas… tolong… hentikan…” suara Ayu terdengar teredam, tapi matanya yang setengah terpejam mengatakan hal lain. Air mata mengalir di pipinya yang memerah.

Pak Hadi tertawa pelan, tangan besarnya meremas pantat Ayu dengan kasar, membuka celahnya lebar-lebar. “Lihat suamimu, Bu Ayu. Dia yang menandatangani kontrak. Malam ini, cadar sholehahmu aku beli seharga 50 juta. Sekarang… rasakan bagaimana rasanya disetubuhi pria sungguhan.”

Aku bangkit setengah berdiri, ingin menghambur masuk, tapi asisten Pak Hadi sudah berdiri di depan pintu dengan senyum dingin. “Denda 2 milyar, Pak Hasan. Duduk dan nikmati pertunjukan. Ini bagian dari kesepakatan.”

Di monitor, Pak Hadi menarik celana dalam Ayu ke samping. Kontolnya yang besar, tebal, dan berurat sudah tegak sempurna. Kepala kontolnya yang mengkilap precum menggesek bibir vagina Ayu yang basah. Ayu menggigil hebat, pinggulnya bergerak mundur tanpa sadar, seolah tubuhnya sudah menyerah sebelum akalnya.

“Ya Allah… maafkan aku, Mas…” bisik Ayu di balik kain cadar sebelum Pak Hadi mendorong pinggulnya maju.

Satu hentakan kuat.

Kontol Pak Hadi masuk separuh ke dalam tubuh Ayu. Ayu menjerit keras, suaranya pecah meski teredam kain. Matanya melebar, campuran rasa sakit dan kenikmatan yang luar biasa. Pak Hadi mengerang puas, “Sempit sekali… istri sholehah ini ternyata sangat sempit dan basah. Suamimu pasti jarang memuaskannya.”

Dia mendorong lagi, kali ini lebih dalam hingga seluruh batangnya tenggelam di dalam vagina Ayu. Aku melihat jelas di close-up kamera — bibir vagina Ayu meregang maksimal, cairannya menetes ke paha. Ayu menangis, tapi pinggulnya malah bergerak maju mundur pelan, menyambut kontol asing yang jauh lebih besar dari milikku.

Aku menangis diam-diam di ruangan observasi. Tangan kananku tanpa sadar meremas kontolku sendiri yang sudah keras sekali, malu sekaligus terangsang luar biasa. Ini NTR yang sesungguhnya — istriku yang kucintai, yang dulu hanya kumasuki dengan penuh kasih sayang dan doa, kini sedang dihantam kuat-kuat oleh kontol pria kaya yang membelinya.

Pak Hadi mulai menghentakkan pinggulnya dengan ritme kuat dan stabil. Setiap tabrakan menghasilkan suara basah “plok-plok” yang memenuhi audio. Tangan kirinya menarik rambut Ayu ke belakang, memaksa wajahnya mendongak ke kamera. Tangan kanannya meremas payudara Ayu dari dalam gamis, mencubit putingnya yang sudah mengeras.

“Kamu suka ya, Bu Ayu? Cadarmu tersumpal, tubuh sholehahmu aku pakai seenaknya,” ejek Pak Hadi sambil mempercepat hentakannya.

Ayu menggeleng lemah, tapi mulutnya di balik kain cadar mendesah panjang, “Mmmhh… ahh… dalam sekali… Mas… maafkan istri mu…”

Dia klimaks pertama kali setelah hanya lima menit. Tubuhnya kejang hebat, cairannya menyembur keluar membasahi kontol Pak Hadi dan paha sendiri. Matanya mendongak, air mata mengalir deras. Pak Hadi tidak berhenti. Dia malah membalikkan tubuh Ayu, membaringkannya telentang di kasur, lalu mengangkat kedua kakinya ke bahu.

Posisi missionary yang penuh kuasa.

Pak Hadi menatap langsung ke kamera seolah mengejekku, lalu memasuki Ayu lagi dengan satu dorongan brutal. Kali ini lebih dalam. Ayu menjerit, tangannya mencengkeram seprai. Cadarnya sudah benar-benar lepas, rambut hitam panjangnya tergerai acak-acakan di kasur. Wajah sholehahnya yang cantik kini penuh ekspresi mesum — bibir bengkak, mata sayu, pipi merah padam.

Aku melihat semuanya. Setiap kali kontol Pak Hadi masuk dan keluar, vagina Ayu menggigitnya erat. Putingnya dicubit, lehernya dicium dan digigit kecil. Pak Hadi berbisik mesum di telinga Ayu, “Bilang ke suamimu… bilang kamu lebih suka kontolku.”

Ayu menggeleng, tapi saat Pak Hadi memperlambat gerakannya dan menggoda titik G-nya, Ayu menyerah. Suaranya pecah, “Mas… kontolnya… lebih besar… lebih enak… maafkan aku… aku jalang cadar sekarang…”

Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk dadaku. Tapi kontolku malah meledak di tanganku sendiri, menyemburkan sperma ke lantai ruang observasi tanpa disentuh lagi. Aku klimaks hanya dengan melihat istriku disetubuhi pria lain.

Pak Hadi mempercepat lagi. Dia meniduri Ayu dengan liar selama hampir empat puluh menit, berganti posisi berkali-kali — doggy, cowgirl, side fuck. Ayu klimaks tiga kali lagi sebelum akhirnya Pak Hadi mengerang panjang dan menyemburkan spermanya yang banyak dan kental di dalam rahim Ayu. Cairan putih tebal menetes keluar saat dia mencabut kontolnya, membasahi celana dalam Ayu yang sudah robek.

Ayu terbaring lemas, tubuhnya gemetar, vagina memerah dan penuh sperma orang lain. Matanya kosong, tapi ada kepuasan aneh di sana yang membuat hatiku hancur.

Sesi selesai hampir dua jam kemudian. Pak Hadi keluar dengan wajah puas, melempar handuk ke arah Ayu. “Istri sholehahmu luar biasa, Hasan. Kontrak ini sepadan dengan 50 juta. Mungkin kita ulang lagi bulan depan.”

Aku tidak menjawab. Aku hanya masuk ke ruangan, mengangkat Ayu yang lemas ke pelukanku. Tubuhnya masih panas, bau sperma Pak Hadi menempel kuat di kulit dan vaginanya. Dia menangis di dadaku sepanjang perjalanan pulang.

“Mas… aku sudah kotor… dia… menyembur di dalam. Aku merasa penuh. Maafkan aku… tapi… rasanya enak sekali. Aku benci diri sendiri.”

Di rumah, aku membersihkan tubuh Ayu dengan air hangat. Tapi saat aku menyentuh vaginanya yang masih bengkak, Ayu mendesah pelan dan pinggulnya bergerak kecil. Kami akhirnya bercinta di kamar mandi. Aku memasukinya sambil merasakan sisa sperma Pak Hadi yang masih ada di dalam. Rasanya licin, hangat, dan menghina.

“Kamu milikku, Yu… tapi malam ini kamu milik dia,” bisikku sambil menghentak kuat.

Ayu memeluk leherku erat, menangis dan mendesah bersamaan. “Iya, Mas… aku jalangmu… tapi aku tetap cinta Mas Hasan.”

Kami klimaks bersama dengan penuh kepedihan dan kenikmatan yang sakit. Setelahnya, Ayu tertidur di pelukanku, tubuhnya penuh memar kecil dan bekas ciuman.

Aku terjaga semalaman. Kontrak itu sudah mengikat kami. Popularitas Ayu akan semakin meroket setelah video lengkap ini beredar di kalangan klien. Dan aku tahu, meski aku marah dan hancur, bagian gelap diriku sudah tidak bisa menolak lagi.

Ini bukan lagi soal uang. Ini soal kehancuran indah yang kami berdua mulai nikmati.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 7

Perjalanan Neraka Kenikmatan Bab 7

Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 10