Istri bercadar berujung jadi model Sex Bab 7
**Bab 7: Jebakan yang Terukir di Kertas**
Aku, Hasan, duduk di kursi ruang tamu dengan kepala pusing. Sudah empat hari berlalu sejak video mesum itu selesai. Uang 25 juta sudah habis sebagian untuk melunasi hutang-hutang kecil, tapi ketenangan jiwa kami tidak kunjung datang. Ayu semakin sering termenung di sudut rumah, cadarnya tetap terpasang saat keluar, tapi di dalam rumah dia sering memandang cermin lama sekali, seolah mencari sosok dirinya yang dulu — istri sholehah yang polos. Malam-malam kami penuh gairah yang gelap; dia mendesah lebih keras saat aku menyebut kata-kata hinaan kecil, tapi setelahnya selalu ada air mata penyesalan.
Popularitas Ayu di kalangan para pengusaha kaya itu seperti api yang tak mau padam. Pak Budi menjadi perantara setia yang datang membawa tawaran demi tawaran.
Sore itu, seperti biasa, Pak Budi datang lagi. Kali ini wajahnya lebih bersemangat, membawa map tebal dan senyum lebar. “Bro, ini yang besar. 50 juta untuk satu sesi malam ini juga. Kliennya orang sangat berpengaruh, pengusaha impor. Namanya Pak Hadi. Bukan Dika lagi, tapi dia janji profesional. Tema masih pelecehan cadar, tapi lebih premium. Lu pasti tertarik.”
Aku langsung menggeleng tegas. “Tidak, Bud. Sudah cukup. Video terakhir saja sudah keterlaluan. Aku tidak mau lagi.”
Pak Budi tidak menyerah. Dia datang lagi keesokan harinya, lalu lusa. Setiap kali membawa alasan baru: “Ini terakhir, bro. Setelah ini kalian bisa stop total. 50 juta bisa beli rumah kecil di pinggir kota.” Dia juga rajin chat Ayu lewat WA, mengirim testimoni dari klien sebelumnya yang memuji “keindahan kesucian yang dirusak perlahan”.
Ayu tidak langsung setuju, tapi dia juga tidak menolak keras. Setiap kali Budi pergi, dia mendekatiku pelan, tangannya memegang lenganku. “Mas… aku takut. Tapi 50 juta itu… kita bisa mulai hidup baru. Aku janji ini yang terakhir. Aku masih bisa mundur kalau tidak nyaman.”
Aku melihat konflik batin di matanya — malu, takut, tapi juga ada kilau rasa ingin tahu yang semakin sulit dikendalikan. Aku yang tadinya teguh menolak, mulai goyah. Tekanan uang, rayuan Budi yang terus-menerus, dan nafsu gelapku sendiri yang sudah ketagihan melihat Ayu “dilecehkan” membuat pertahananku runtuh.
Akhirnya, di hari kelima, aku mengalah. “Ini benar-benar yang terakhir, Yu. Setelah ini, tidak ada lagi. Kita hapus nomor Budi.”
Ayu mengangguk, memelukku erat. “Iya, Mas. Terima kasih.”
Karena terburu-buru dan lelah berpikir, aku menandatangani kontrak tanpa membaca detailnya dengan teliti. Hanya melihat nominal 50 juta dan klausul “private video” yang Budi tekankan. Aku bodoh. Sangat bodoh.
Sesi dilaksanakan malam itu juga di sebuah mansion mewah di kawasan elite Jakarta Selatan. Ruangan besar dengan pencahayaan dramatis. Aku duduk di ruang observasi seperti biasa, dengan monitor yang menampilkan semua angle kamera. Pak Hadi ternyata pria berusia 45 tahun, tinggi besar, kulit sawo matang, dan aura kuasa yang sangat dominan. Bukan seperti Dika yang lembut.
Awal sesi masih terkendali. Ayu masuk dengan cadar tebal dan gamis hitam panjangnya. Pak Hadi tersenyum, mendekat, dan mulai merayu dengan suara dalam. “Bu Ayu… cantik sekali. Istri sholehah yang berani datang ke sini. Saya suka perempuan seperti Anda. Suci di luar, tapi penasaran di dalam.”
Ayu hanya diam, tapi aku melihat bahunya naik turun lebih cepat. Pak Hadi mulai dengan pelecehan ringan — menarik cadar Ayu perlahan ke bawah, memperlihatkan bibirnya, lalu meneteskan madu ke bibir itu dan memaksa Ayu menjilatnya sendiri. Aku masih sabar. Ini masih sesuai tema.
Tapi kemudian batas mulai terlewati.
Pak Hadi menarik Ayu mendekat, tangannya memegang pinggang ramping istriku. “Cadar ini simbol kesucian ya? Sayang sekali kalau harus dilecehkan.” Dia menarik cadar lebih rendah, lalu tiba-tiba mencium bibir Ayu. Ciuman dalam, lidahnya masuk, mencium istriku dengan rakus. Ayu menggeliat, tangannya mendorong pelan dada Pak Hadi, tapi tidak kuat.
Aku bangkit dari kursi. Jantungku mau copot. “Stop! Ini sudah keterlaluan!”
Tapi Pak Hadi tidak berhenti. Asistennya — pria berjas hitam yang berdiri di samping — langsung menghalangi pintu masuk ke studio. “Baca kontrak lagi, Pak Hasan,” katanya dingin sambil memberikan salinan kontrak.
Dengan tangan gemetar aku membaca bagian yang tertulis kecil di halaman belakang. Pasal khusus yang aku lewatkan karena terburu-buru:
“Klien berhak melakukan kontak fisik intim termasuk ciuman, rabaan, dan penetrasi penuh dengan model perempuan sesuai tema pelecehan yang disepakati. Pembatalan kontrak di tengah sesi akan dikenakan denda sebesar 2 milyar rupiah.”
Aku terduduk lemas. Darah seolah berhenti mengalir. 2 milyar? Kami tidak punya apa-apa. Rumah, tanah, bahkan jiwa kami tidak cukup untuk bayar itu.
Di monitor, Pak Hadi masih mencium Ayu dalam-dalam. Tangan kanannya meremas pantat Ayu dengan kuat dari luar gamis, menekan dan meremas bulatan itu tanpa malu. Ayu mendesah di dalam ciuman, tubuhnya gemetar. Cadarnya sudah hampir lepas, rambutnya acak-acakan.
“Mas… tolong…” suara Ayu terdengar samar lewat audio, tapi nada itu sudah bercampur desahan.
Pak Hadi melepaskan ciuman, bibir Ayu bengkak dan basah air liur. Dia tersenyum ke kamera, “Lihat suaminya yang bodoh itu. Kontrak sudah ditandatangani. Malam ini istri sholehahmu jadi milikku.”
Aku memukul meja keras. Air mata marah dan malu mengalir di pipiku. Tapi di balik itu, kontolku sudah keras sekali. Voyeurism yang sudah meracuni aku membuatku tidak bisa bergerak. Aku hanya bisa menonton.
Pak Hadi melanjutkan. Dia menarik gamis Ayu ke atas, memperlihatkan pantatnya yang hanya dibalut celana dalam hitam. Tangan besarnya meremas pantat itu telanjang, menepuk pelan hingga kulit Ayu memerah. Ayu menjerit kecil, tapi pinggulnya malah mundur, menempel ke tangan Pak Hadi.
“Basah sekali istri sholehah ini,” kata Pak Hadi sambil tertawa. Jarinya menyusup ke celana dalam Ayu dari belakang, mengusap klitorisnya yang sudah banjir.
Ayu menangis, “Mas Hasan… maaf… aku tidak bisa berhenti… badanku… panas sekali…”
Aku duduk kembali di kursi, tanganku gemetar memegang kepala. Kontrak jebakan ini telah mengikat kami. 50 juta yang tadinya terasa besar kini terasa seperti uang haram yang membeli kehancuran rumah tangga kami.
Di layar, Pak Hadi mulai membuka celananya. Kontolnya besar dan tegang, jauh berbeda dari Dika. Dia menggesekkannya di celah pantat Ayu yang masih ditutup celana tipis. Ayu menggigil hebat, matanya setengah terpejam karena kenikmatan yang dia benci tapi tidak bisa tolak.
Aku, sebagai suami, hanya bisa menonton dari balik kaca. Cemburu menyayat hati, tapi nafsu yang sakit ini membuatku tetap di tempat. Malam ini, batas terakhir telah dilanggar. Ayu yang sholehahku sedang diambil alih oleh pria kaya yang membayar mahal untuk menghancurkan kesuciannya.
Dan yang paling pahit — aku sendiri yang menandatangani takdir ini.
Komentar
Posting Komentar