Perjalanan neraka kenikmatan Bab 1

Aku berdiri di depan terminal yang ramai itu, tangan kananku menggenggam erat tangan kecil anakku, Rafi, yang baru berusia lima tahun. Hani, istriku, berdiri di sampingku dengan rok krem yang panjang hingga lutut, menempel lembut di pinggulnya yang ramping. Atasan putih ketatnya membalut dada montoknya dengan sempurna, garis bra hitam samar terlihat di balik kain tipis itu. Malam Natal tinggal dua hari lagi, dan kami bertekad pulang ke kampung halaman di Jawa Tengah. Tapi tiket bus mudik sudah habis. Semua orang ingin merayakan Natal di rumah.

Petugas travel mendekat, senyumnya lebar penuh janji. "Pak, ada paket travel khusus. Hanya ada satu mobil lagi malam ini. Bisa muat, kok. Paketnya termasuk kursi nyaman, AC, dan langsung antar ke desa." Harga yang ditawarkan lumayan, tapi kami putuskan ambil. Apa boleh buat? Rafi sudah mengantuk, dan Hani terus merengek ingin natalan bareng orang tua di kampung.

Hari keberangkatan tiba. Aku mengira semuanya akan lancar. Tapi begitu sampai di parkiran belakang terminal, mataku membelalak. Mobil travel itu adalah Hiace tua yang sudah penuh sesak dengan paket-paket kardus dan karung. Barang-barang itu menumpuk tinggi hingga atap, menyisakan hampir tak ada ruang. Supir dan kenek sudah duduk di depan. Hanya ada tiga kursi total: satu untuk supir, satu untuk kenek, dan satu kursi penumpang di belakang yang sudah separuh ditutup paket.

"Ini gimana, Pak?" tanyaku dengan suara meninggi. "Kami bertiga! Ada anak kecil!"

Petugas travel mengangkat bahu. "Maaf, Pak. Paket membludak hari ini. Natal kan, banyak kiriman. Tapi kursi depan masih bisa. Bapak duduk di depan pangku anak, Bu-nya duduk bareng kenek di belakang. Sempit sih, tapi bisa. Daripada nggak jadi mudik."

Hani memegang lenganku, wajahnya pucat. "Di, kita cari yang lain aja."

"Tidak ada yang lain, Bu," kata petugas tegas. "Ini terakhir. Besok Natal, semua penuh."

Aku marah. Debat panjang terjadi di pinggir mobil. Supir ikut nimbrung, bilang perjalanan hanya 12 jam, tidak apa-apa. Akhirnya, karena Rafi sudah rewel dan waktu semakin malam, aku menyerah. Aku duduk di kursi depan, memangku Rafi yang langsung tertidur di pangkuanku. Hani terpaksa masuk ke belakang, duduk berdempetan dengan kenek di kursi sempit yang tersisa. Tubuh mereka saling menempel rapat karena paket-paket di kiri kanan.

Mobil mulai berjalan. Aku melirik ke belakang lewat kaca spion. Hani tersenyum tipis ke arahku, mencoba meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja. Rok kremnya sedikit naik karena posisi duduk yang sempit, memperlihatkan paha putih mulusnya. Kenek, pria berusia sekitar 35 tahun dengan badan kekar dan kulit gelap, duduk di sebelahnya dengan santai. Namanya Joko, katanya.

Perjalanan awal masih normal. Jalan tol lengang, AC mobil dingin. Rafi tidur pulas di pangkuanku. Aku sesekali mengobrol dengan supir, tapi pikiranku selalu melayang ke belakang. Lewat spion, aku bisa melihat Hani sesekali bergeser, mencoba mencari posisi nyaman. Tubuhnya terhimpit paket di sisi kiri dan tubuh Joko di kanan.

Sekitar jam 7 malam, langit sudah gelap gulita. Kami melewati daerah pedesaan yang sepi. Tiba-tiba aku mendengar suara Hani dari belakang.

"Di... sakit pinggangku. Paket ini nindih terus," keluhnya pelan.

Joko tertawa kecil. "Iya Bu, sempit banget. Mau duduk di pangkuan saya aja? Biar lebih longgar. Cuma becanda kok, Bu. Tapi serius, kalau mau, nggak apa-apa. Biar Bu Hani lebih nyaman."

Aku langsung menoleh. "Tidak usah!" kataku tegas.

Hani menggeleng. "Nggak, Mas. Aku tahan aja."

Tapi sepuluh menit kemudian, keluhan Hani semakin sering. Pinggulnya terjepit, kakinya pegal. Joko kembali menawarkan dengan nada santai, "Duduk di pangkuan saya, Bu. Saya nggak keberatan. Pak Adi di depan juga bisa lihat lewat spion. Aman kok."

Aku marah dalam hati. Tapi apa daya? Rafi tidak mungkin dipindah ke belakang. Anak itu pasti menangis kalau dipangku orang asing. Akhirnya, setelah Hani mengeluh lagi dan tubuhnya terlihat tidak nyaman, dia menyerah. "Ya sudah... cuma sebentar ya, Mas Joko."

Aku melihat lewat spion bagaimana Hani bangkit pelan, rok kremnya tersingkap lebih tinggi saat ia mengangkat kakinya. Dia duduk di pangkuan Joko. Tubuh kenek itu langsung menempel rapat di punggung Hani. Aku bisa melihat tangan Joko memegang pinggang istriku sekilas untuk "menyeimbangkan". Hani duduk kaku, tangannya memegang sandaran kursi depan.

"Maaf ya, Di," katanya pelan ke arahku.

Aku hanya mengangguk, rahangku mengeras. "Hati-hati."

Perjalanan berlanjut. Awalnya aku berusaha fokus ke jalan. Tapi mata ini terus tertarik ke spion. Posisi Hani di pangkuan Joko terlihat semakin "akrab". Setiap kali mobil melewati lubang jalan, tubuh Hani bergoyang pelan di atas paha Joko. Rok kremnya naik perlahan, memperlihatkan lebih banyak paha mulusnya. Aku melihat tangan Joko yang tadinya di pinggang, sekarang pelan-pelan bergerak ke bawah, menyentuh paha Hani seolah-olah membantu keseimbangan.

"Hani... kamu baik-baik saja?" tanyaku, suaraku agak parau.

"Iya, Di. Cuma... agak hangat," jawabnya. Wajahnya sedikit merah di cahaya redup mobil.

Joko tersenyum lebar. "Iya Pak, Bu Hani ini hangat banget. Badannya lembut." Dia tertawa, seolah itu candaan biasa.

Aku merasa darahku mendidih. Tapi aku terjebak di depan, memangku Rafi yang masih tidur. Tidak mungkin berhenti di tengah jalan gelap ini. Aku mulai memperhatikan lebih teliti lewat kaca spion. Tangan Joko kini terang-terangan mengusap paha Hani dari luar rok. Gerakannya pelan, seolah memijat. Hani bergeser sedikit, tapi bukan menjauh. Malah, pinggulnya sepertinya bergoyang pelan mengikuti getaran mobil.

"Mas Joko... tangannya," bisik Hani pelan, tapi aku masih bisa dengar.

"Maaf Bu, biar nggak pegal. Roknya tipis ya," balas Joko sambil terkekeh.

Aku melihat istriku, Hani yang biasanya pemalu, sekarang duduk dengan punggung sedikit melengkung. Dada montoknya yang dibalut baju putih ketat naik turun lebih cepat. Putingnya samar terlihat mengeras menekan kain. Apakah dia... bergairah? Pikiran itu membuatku marah sekaligus anehnya terangsang.

Mobil melambat di sebuah tikungan. Joko memanfaatkan momen itu. Tangannya naik lebih tinggi, menyusup di bawah rok krem Hani. Aku melihat jelas di spion bagaimana jari-jarinya mengusap paha dalam istriku. Hani menggigit bibir, matanya setengah terpejam.

"Di... aku... nggak apa-apa kok," katanya terengah, seolah meyakinkanku.

Tapi aku tahu itu bohong. Nafasnya sudah tidak teratur. Joko semakin berani. Aku melihat tangan kirinya memeluk pinggang Hani, menarik tubuhnya lebih rapat ke pangkuannya. Pasti Hani bisa merasakan sesuatu yang keras di bawah sana. Kontol Joko pasti sudah tegang menekan pantat istriku lewat celana.

Aku ingin berteriak, tapi Rafi di pangkuanku membuatku diam. Hanya bisa menonton lewat spion seperti film dewasa yang tak diinginkan. Hani mulai menggerakkan pinggulnya pelan, menggesek-gesek. "Mas... pelan-pelan," bisiknya.

Joko tidak menjawab dengan kata. Tangannya kini menyusup lebih dalam. Aku mendengar suara gesekan kain. Pasti dia sudah menyentuh celana dalam Hani. Istriku menggeliat, dadanya naik turun cepat. Baju putih ketatnya basah keringat di bagian dada, menempel semakin transparan.

Perjalanan semakin malam. Supir sepertinya pura-pura tidak tahu, fokus ke jalan. Aku terus melihat. Kini Hani sudah menyerah sepenuhnya. Ia membiarkan kepalanya bersandar di bahu Joko. Tangan kenek itu bergerak naik ke dada Hani, meremas pelan dari luar baju. Jari-jarinya menjepit puting yang sudah keras itu.

"Ahh..." desah Hani pelan, suaranya tertahan.

Aku merasa kontolku sendiri mengeras di balik celana, meski amarah membakar dada. Ini istriku. Tapi pemandangan itu... erotis sekali. Rok Hani sudah tersingkap sampai pinggang. Aku melihat celana dalam hitamnya basah. Jari Joko menyelinap masuk, mengaduk-aduk di sana.

"Mas Joko... dalam sekali," erang Hani.

Mereka mulai bergerak lebih intens. Pinggul Hani naik turun pelan di pangkuan Joko. Pasti kontol pria itu sudah masuk ke dalam vagina istriku sekarang. Aku bisa mendengar suara basah "plok plok" pelan bercampur getaran mobil. Hani menutup mulutnya dengan tangan agar tidak berisik, tapi matanya terpejam penuh kenikmatan.

Aku terus menonton dari spion. Setiap kali Hani orgasme kecil, tubuhnya mengejang, pinggulnya bergetar. Joko mencium lehernya dari belakang, tangan kanannya terus meremas payudara Hani yang sudah terlepas dari bra. Puting cokelatnya yang indah terlihat di spion saat baju putihnya ditarik ke atas.

"Bu Hani enak sekali," bisik Joko.

Hani hanya mendesah, "Jangan berhenti... pelan aja."

Aku tidak tahan lagi. Tapi apa yang bisa kulakukan? Berhenti di sini berbahaya, dan Rafi masih tidur. Aku hanya bisa menggenggam stir kursi, merasakan campuran cemburu, marah, dan gairah yang aneh. Istriku sedang dikencani kenek di belakang, tepat di depan mataku lewat cermin.

Mereka terus melakukannya selama hampir satu jam. Hani mencapai klimaks berkali-kali, tubuhnya gemetar hebat. Akhirnya Joko mengejang, pasti menyemburkan spermanya ke dalam rahim Hani. Hani menggigit bibirnya kuat, menahan jeritan kenikmatan.

Setelah itu, Hani duduk lemas di pangkuan Joko, cairan putih menetes pelan dari pahanya ke jok. Rok kremnya kusut. Dia menatapku lewat spion dengan mata berkaca-kaca, campuran rasa bersalah dan kepuasan.

"Di... maaf," bisiknya.

Aku tidak menjawab. Hanya menatap lurus ke depan, tapi pikiranku penuh dengan adegan yang baru saja kulihat. Perjalanan masih panjang. Dan aku tahu, ini mungkin baru permulaan. Malam Natal kali ini akan menjadi yang paling tak terlupakan dalam hidup kami.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 7

Perjalanan Neraka Kenikmatan Bab 7

Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 10