Perjalanan Neraka Kenikmatan Bab 5

Aku merasa kandung kemihku sudah tak tahan lagi. Perjalanan malam yang panjang ini membuat tubuhku lelah, ditambah gejolak emosi yang tak kunjung reda. Melalui celah mata yang pura-pura terpejam, aku melihat papan rest area menyala di kejauhan. Supir menguap lebar dan memperlambat laju Hiace. "Pak, kita stop sebentar ya. Saya ngantuk berat, mau istirahat 15-20 menit. Bapak ke toilet juga kali ya?"

"Iya, saya kebelet," jawabku pelan, bangkit pelan sambil memangku Rafi yang masih setengah tidur. Anak kecil itu menggeliat manja di pelukanku. Aku menoleh ke belakang. "Han, kamu ikut turun? Cuci muka atau apa?"

Hani menggeleng cepat, suaranya lemah dan mengantuk. "Nggak Di... aku ngantuk banget. Capek. Kamu aja sama Rafi. Aku tunggu di sini." Matanya setengah terpejam, tapi aku tahu itu bukan hanya karena kantuk. Rok kremnya masih kusut di pangkuan, baju putih ketatnya lembab menempel di payudaranya yang bebas bra.

Joko di belakangnya juga menggeleng. "Saya juga nggak turun Pak. Capek, mau istirahat di sini aja. Mobil parkir di pojok situ yang sepi biar nggak ganggu."

Supir mengangguk setuju. "Iya, saya tidur di kursi depan sini. Kalian tenang aja di belakang." Dia memarkir mobil di sudut paling gelap rest area, jauh dari lampu utama dan toilet umum yang ramai. Pohon-pohon tinggi menaungi, membuat area itu seperti ceruk pribadi yang tersembunyi.

Aku turun dengan Rafi di gendongan. Udara malam dingin menyapu wajahku. Aku berjalan menuju toilet, hati berdebar aneh. Sesuatu terasa tidak beres, tapi aku mencoba mengabaikannya. Di toilet, aku buang air kecil sambil memandang Rafi yang mengucek mata. Anak itu rewel sedikit, tapi cepat tenang lagi setelah aku janji sebentar lagi sampai kampung. Lima menit kemudian, aku sudah selesai. Rafi masih mengantuk berat, jadi aku gendong dia pelan-pelan kembali ke mobil.

Alih-alih langsung masuk, aku memilih berhenti di balik pohon besar beberapa meter dari mobil. Instingku berbisik aneh. Mobil parkir miring, jendela belakang agak terbuka. Dari posisi gelap ini, aku bisa mengintip tanpa terlihat. Cahaya redup dari lampu taman jauh menyinari interior samar-samar.

Yang kulihat membuat darahku membeku sekaligus mendidih panas.

Supir yang tadi bilang mau tidur... justru tidak tidur. Pria paruh baya bertubuh gemuk tapi kekar itu sudah pindah ke belakang. Hani kini duduk di pangkuan supir, sementara Joko duduk di samping, tangannya sibuk meremas payudara istriku dari samping. Mereka sedang menggilir Hani!

"Mas Supir... tunggu... Adi baru pergi..." bisik Hani dengan suara pasrah tapi penuh gairah. Rok kremnya sudah terangkat total hingga pinggang, celana dalamnya entah hilang atau tersingkap. Payudaranya yang montok telanjang bebas, bergoyang-goyang karena gerakan tubuhnya. Baju putih ketatnya ditarik ke atas seperti ikat pinggang, kainnya basah keringat dan kusut parah.

Supir, yang namanya Pak Budi, mendengus nafsu. Kontolnya yang lebih besar dan tebal dari Joko sudah tertanam dalam di vagina Hani. Dia menggoyang pinggulnya dari bawah dengan ritme kuat, tangan gemuknya mencengkeram pinggul istriku erat. "Tenang Bu... cuma sebentar. Pak Adi lama di toilet. Badan Bu Hani enak banget, basah sekali."

Joko tertawa pelan sambil meremas payudara kanan Hani, menjepit putingnya keras. "Giliran saya tadi, sekarang Pak Budi. Bu Hani pasrah aja, istri orang enak ya." Mulutnya mendekat, mengisap puting kiri Hani dengan rakus, lidahnya berputar-putar.

Hani mendesah panjang, kepalanya mendongak. Awalnya dia masih mencoba menolak lemah, tangannya mendorong dada Pak Budi. "Jangan keras-keras... nanti Adi lihat... ahh!" Tapi suaranya berubah menjadi erangan nikmat saat Pak Budi mendorong kontolnya lebih dalam, menghantam rahimnya. Pinggul Hani tanpa sadar bergerak mengikuti, menggiling kontol supir itu dengan lapar.

Aku berdiri diam di balik pohon, Rafi masih tidur di gendonganku. Tangan kiriku mengepal kuat. Ingin aku teriak, ingin aku lari ke sana dan pukul mereka berdua. Tapi kaki ini seperti terpaku. Mataku tak bisa lepas dari pemandangan itu. Istriku, Hani yang dulu malu-malu hanya denganku, kini sedang digilir dua pria asing di mobil travel sempit ini.

Pak Budi semakin ganas. Dia mengangkat pinggul Hani tinggi-tinggi lalu menurunkannya kuat-kuat. Suara basah "plok plok plok" jelas terdengar di malam sepi. Cairan Hani menyembur kecil setiap kali kontol tebal itu keluar masuk. "Enak Bu... vagina Bu Hani ngisep terus," desis Pak Budi sambil meremas pantat Hani.

Joko tak tinggal diam. Dia mencium mulut Hani dalam-dalam, lidah mereka saling berpilin. Tangan Joko meremas payudara yang tak diremas supir, kadang menarik puting hingga Hani menggeliat hebat. Hani sudah pasrah total. Tubuhnya bergetar, dia balas mencium Joko dengan liar, pinggulnya naik turun aktif di kontol Pak Budi.

"Aku... mau cum lagi... Mas..." erang Hani di sela ciuman. Tubuhnya mengejang kuat, vagina-nya mengepal kontol supir. Pak Budi mendengus, mempercepat hentakan. Tak lama kemudian dia mengejang, menyemburkan sperma panasnya ke dalam rahim Hani. Cairan kental meluber keluar, membasahi paha istriku dan jok mobil.

Begitu Pak Budi selesai, mereka langsung berganti posisi dengan cepat. Joko menarik Hani ke pangkuannya lagi. Kontol Joko yang sudah tegang maksimal langsung menusuk masuk ke lubang yang sudah penuh sperma Pak Budi. "Giliran saya lagi Bu... basah banget nih campur sperma Pak Budi."

Hani hanya mendesah pasrah, "Cepat... Adi sebentar lagi balik..." Tapi pinggulnya malah bergerak lebih liar, mengaduk kontol Joko dengan rakus. Payudaranya bergoyang-goyang indah, diremas bergantian oleh kedua pria itu. Pak Budi kini duduk di samping, mulutnya mengisap puting Hani sementara tangannya mengusap klitoris istriku yang membengkak.

Aku menyaksikan semuanya dari balik pohon. Nafasku tersengal. Kontolku tegang menyakitkan, basah di ujung celana. Cemburu membakar dada, tapi gairah gelap ini membuatku tak bergerak. Hani mencapai orgasme lagi, tubuhnya gemetar hebat di pangkuan Joko. Jeritannya tertahan di mulut Pak Budi yang menciumnya bergantian.

Mereka bergantian lagi. Pak Budi mengambil giliran kedua, kali ini dari belakang sambil Hani membungkuk di jok. Joko memasukkan kontolnya ke mulut Hani, membuat istriku tersedak tapi tetap mengisap dengan lahap. Suara isapan dan hentakan basah memenuhi mobil. Rok krem Hani sudah kotor berantakan, baju putihnya basah oleh keringat dan air liur.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, aku melihat jam. Sudah hampir 15 menit. Aku harus kembali sebelum mereka curiga. Dengan hati yang hancur tapi kontol yang masih tegang, aku berjalan pelan kembali ke mobil, pura-pura biasa sambil menggendong Rafi.

Saat aku mendekat, suasana di dalam sudah "normal" lagi. Hani duduk di pangkuan Joko dengan baju ditarik rapi (meski kusut), wajahnya merah dan berkeringat. Pak Budi sudah kembali ke kursi supir, pura-pura menguap. "Udah Pak? Lama ya di toilet."

"Iya... Rafi rewel sebentar," jawabku datar. Aku duduk di depan lagi, memangku Rafi. Melirik ke belakang lewat spion, aku melihat sperma menetes pelan di paha Hani yang tak sempat dibersihkan. Hani menatapku dengan mata penuh dosa dan kepuasan. "Maaf Di... aku ngantuk tadi," bisiknya pelan.

Aku hanya mengangguk. Mobil kembali melaju. Tapi aku tahu, di rest area pojokan sepi itu, istriku baru saja digilir habis-habisan oleh supir dan kenek. Dan perjalanan masih panjang. Malam Natal yang penuh dosa ini semakin dalam, semakin panas, dan aku terjebak di dalamnya seperti narator yang tak berdaya dalam novel erotis yang gelap.

Hani bersandar lemas di pangkuan Joko lagi. Tangan supir sesekali meraih ke belakang, menyentuh paha istriku diam-diam. Aku pura-pura tak tahu, tapi mataku tak lepas dari spion. Giliran berikutnya mungkin akan datang lagi sebelum fajar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 7

Perjalanan Neraka Kenikmatan Bab 7

Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 10