Perjalanan Neraka Kenikmatan Bab 6
Aku duduk diam di kursi depan, Rafi masih tertidur pulas di pangkuanku setelah istirahat panjang tadi. Perjalanan sudah memasuki pagi buta, langit mulai memudar hitam menjadi biru gelap. Kami tinggal beberapa jam lagi sampai kota tujuan, kampung halaman yang sudah dekat. Tubuhku lelah, tapi pikiran tak pernah tenang. Setiap kali melirik spion, bayangan Hani yang pasrah di pangkuan Joko membuat dada ini sesak campur aduk — amarah, cemburu, dan gairah terlarang yang semakin kuat menggerogoti akal sehatku.
Pak Budi, sang supir, tiba-tiba memperlambat mobil dan memasuki pelataran sebuah rumah makan pinggir jalan yang masih sepi. Lampu neon kuningnya berkedip samar. "Pak, saya kebelet lagi nih. Mau ke toilet sebentar. Rumah makan ini biasa buka pagi, toiletnya bersih," katanya sambil menguap.
Aku menggeleng pelan. "Saya nggak ikut, Pak. Rafi masih tidur. Kalian aja."
Joko di belakang langsung bangkit. "Saya ikut ya Pak Budi, sekalian cuci muka." Dia turun, pintu mobil tertutup pelan. Tiba-tiba Hani bergerak, suaranya lembut tapi ada nada yang sudah tak asing lagi. "Di... aku ikut ke toilet juga ya. Pengen cuci muka, badan lengket banget."
Aku menatapnya lewat spion. Wajahnya masih merah, baju putih ketatnya kusut parah, rok kremnya jelas basah di beberapa bagian. "Hati-hati Han. Cepat ya," kataku datar, pura-pura tak curiga. Hati ini sudah tahu ada yang tidak beres, tapi aku tetap duduk, memangku Rafi.
Beberapa menit berlalu. Mobil terasa terlalu sunyi. Instingku berbisik keras. Aku menunggu sebentar, memastikan Rafi nyenyak, lalu pelan-pelan meletakkan anak kami di kursi dengan bantal improvisasi dari jaket. Aku turun diam-diam, berjalan mengikuti arah toilet di belakang rumah makan. Pelataran parkir sepi, hanya ada beberapa mobil truk jauh di sana. Udara pagi dingin menusuk, tapi tubuhku panas oleh gejolak.
Aku mendekati koridor toilet. Yang mengejutkan, Hani tidak masuk ke toilet wanita. Pintu toilet pria yang agak terbuka, suara samar desahan dan tawa pelan terdengar dari dalam. Aku menyelinap ke samping, mengintip dari celah pintu yang tak terkunci sempurna. Pemandangan di depan wastafel itu membuat lututku lemas.
Hani sudah telanjang bulat. Baju putih ketat dan rok kremnya dilempar sembarangan ke lantai basah dekat wastafel. Tubuh indahnya yang putih mulus terpapar di bawah cahaya lampu neon yang dingin. Payudaranya yang montok bergoyang-goyang, puting cokelatnya mengeras basah oleh air liur. Pak Budi dan Joko menggilirnya lagi, kali ini lebih liar, lebih tak terkendali.
Pak Budi berlutut di depan Hani, wajahnya tenggelam di antara paha istriku. Lidahnya menjilat vagina Hani dengan rakus, menyelip masuk ke dalam lipatan pink yang sudah bengkak dan penuh sisa sperma mereka. "Enak Bu... penuh campuran kita," desisnya sambil mengisap klitoris Hani kuat-kuat. Hani menggigil hebat, tangannya mencengkeram pinggiran wastafel, mulutnya terbuka lebar menahan erangan. "Ahh... Mas Budi... jilat lebih dalam..."
Joko berdiri di samping, kontolnya yang keras tegak. Dia mencium mulut Hani dalam-dalam, lidah mereka saling menari liar, sementara tangannya meremas payudara kiri Hani. Lalu mulutnya turun, mengisap puting kanan Hani dengan bunyi kecap basah. Semua lubang Hani sedang dijamah. Joko sesekali memasukkan jarinya ke mulut Hani, membuat istriku mengisapnya seperti kontol kecil.
Hani seperti orang lain. Dia lupa aku ada di mobil. Matanya terpejam penuh kenikmatan, pinggulnya bergoyang maju mundur menggesek wajah Pak Budi. "Lebih kuat Mas... jilat pantat aku juga..." pintanya dengan suara serak yang tak pernah kudengar sebelumnya saat bersamaku. Pak Budi menurut, lidahnya naik ke lubang belakang Hani, menjilat anusnya yang rapat sambil jari-jarinya mengaduk vagina istriku. Hani bergetar hebat, cairan beningnya menyembur kecil ke lantai toilet.
Mereka menelanjangi Hani total di toilet umum ini. Meski pagi buta dan rumah makan sepi, risiko ada orang datang tetap ada. Suara truk lewat di jalan raya terdengar samar. Tapi Hani tak peduli lagi. Dia pasrah total, bahkan aktif. Tubuhnya dibalik, sekarang membungkuk di depan wastafel, pantatnya terangkat tinggi. Joko berdiri di belakang, kontolnya langsung menusuk vagina Hani dengan satu hentakan kuat. "Plok!" Suara basah itu menggema.
"Aaahh! Besar Mas Joko..." erang Hani, matanya terbuka setengah, menatap cermin wastafel yang memantulkan wajahnya yang penuh dosa dan nikmat. Payudaranya bergantung dan bergoyang liar setiap dorongan Joko. Pak Budi naik ke depan, memasukkan kontol tebalnya ke mulut Hani. Istriku mengisapnya dalam-dalam, tersedak tapi tak mau lepas, lidahnya berputar di kepala kontol supir itu.
Aku berdiri membeku di balik pintu, menyaksikan semuanya. Hani yang dulu pemalu, yang hanya membuka diri perlahan di ranjang kami, kini seperti pelacur haus di toilet pria umum. Semua lubangnya dijamah: vagina dihantam Joko dari belakang, mulut penuh kontol Pak Budi, anus sesekali dijilat dan dimainkan jari. Tubuhnya menggigil orgasme demi orgasme. Cairan menyembur, keringat bercampur air liur menetes di lantai.
"Bu Hani liar banget... suami di mobil nunggu, tapi memeknya ngisep kontol kita terus," ejek Pak Budi sambil menarik rambut Hani pelan, mendorong kontolnya lebih dalam ke tenggorokan istriku.
Hani hanya mendesah di sela isapan, "Jangan berhenti... enak... aku mau lagi..." Dia benar-benar lupa. Pinggulnya didorong ke belakang menyambut setiap hantaman Joko. Joko meremas pinggulnya kuat, meninggalkan bekas merah, lalu menepuk pantat Hani keras hingga bunyi "plak" terdengar. Hani malah semakin bergairah.
Mereka berganti posisi lagi. Pak Budi duduk di atas kloset, menarik Hani ke pangkuannya. Kontol tebalnya masuk ke vagina istriku dari depan. Joko berdiri di samping, memasukkan kontolnya ke mulut Hani bergantian. Lalu Joko mencoba lubang belakang. Hani sempat meringis, "Pelan Mas... pertama kali di sana..." Tapi dia tak menolak. Lama-lama anusnya melonggar, menerima kontol Joko perlahan hingga separuh. Double penetration di toilet itu membuat Hani gemetar tak terkendali. Tubuhnya seperti boneka sex di antara dua pria itu.
Aku melihat air mata kenikmatan mengalir di pipi Hani saat dia mencapai klimaks ganda. Vaginanya dan anusnya mengejang bersamaan, menyemprot cairan ke lantai. Pak Budi dan Joko menyemburkan spermanya hampir bersamaan — satu di rahim, satu di mulut Hani yang menelan sebisanya, sisanya menetes di dagu dan payudaranya.
Mereka tak berhenti. Hani dibersihkan sekilas dengan air wastafel, lalu digilir lagi. Kali ini Hani berlutut di lantai, mengisap kedua kontol bergantian sambil tangannya memainkan mereka. Payudaranya yang montok jadi tempat mereka menggesek kontol. Suara isapan basah dan desahan Hani memenuhi ruangan.
Aku tak tahan lagi melihat. Tapi aku juga tak bisa bergerak. Kontolku sudah basah total di celana, tegang menyakitkan. Beberapa menit kemudian, suara langkah orang dari luar terdengar samar. Mereka buru-buru berhenti, Hani cepat memakai baju putih dan roknya yang kotor, rambut acak-acakan, wajah penuh bekas sex.
Aku buru-buru kembali ke mobil lebih dulu, pura-pura baru bangun dari tidur sebentar. Tak lama Hani dan kedua pria itu kembali. Hani naik dengan langkah goyah, duduk lagi di pangkuan Joko seolah biasa. Bau sex samar tercium dari tubuhnya.
"Kamu lama banget Han," kataku pelan.
"Iya Di... antri," jawabnya bohong, matanya tak berani bertemu pandangku lama. Tapi di spion, aku melihat tangan Joko sudah kembali merayap di paha dalamnya.
Mobil melaju lagi menuju kampung. Natal besok, tapi di hati ini, perayaan dosa sudah jauh lebih besar. Hani yang kukenal seolah lenyap, digantikan wanita haus yang baru saja ditelanjangi dan digilir di toilet pria umum. Dan aku... hanya bisa menyaksikan, terjebak dalam novel gelap yang tak ada akhirnya.
Komentar
Posting Komentar