Perjalanan Neraka Kenikmatan Bab 8
Aku berdiri di kamar kecil belakang rumah mertua, pintu kayu sudah kututup rapat meski suara ayam berkokok dan angin pagi masih menyusup lewat celah jendela. Rafi sudah tertidur lagi di kamar depan bersama neneknya, lelah setelah perjalanan panjang. Cahaya subuh yang pucat menyinari ruangan sederhana itu, cukup terang untuk melihat setiap detail di wajah Hani yang berdiri di depanku. Bau sex samar masih menempel di tubuhnya — campuran keringat, sperma orang lain, dan nafsu yang tak pudar.
“Hani, kita harus bicara sekarang,” kataku dengan suara rendah tapi tegas, mencoba mengontrol amarah yang sudah mendidih sejak pelataran tadi. “Apa yang kamu lakukan di mobil? Di rest area? Di toilet pria? Bahkan tadi di depan mobil, kamu cium mereka di depan mataku! Kamu istriku, ibu Rafi! Ini sudah keterlaluan!”
Hani menatapku lama. Matanya yang tadinya penuh rasa bersalah kini berubah. Ada kilatan baru di sana — gelap, haus, dan penuh kuasa. Bibirnya yang masih bengkak karena ciuman Pak Budi dan Joko melengkung tipis. “Kamu lihat semuanya, Di? Dari spion? Dari balik pohon?” suaranya pelan, hampir menggoda. “Dan kamu diam saja. Kamu marah… tapi kontolmu tegang sepanjang jalan, kan?”
Aku tersentak. “Hani—”
Belum sempat aku melanjutkan, Hani melangkah maju dengan gerakan yang tak terduga. Tangannya cepat menarik baju putih ketatnya ke atas, melemparkannya ke lantai. Payudaranya yang montok dan penuh bekas remasan langsung terbebas, puting cokelatnya masih mengeras dan memerah. Rok kremnya berikutnya meluncur turun, meninggalkan dia hanya dengan celana dalam hitam yang sudah basah kuyup dan robek di bagian samping. Cairan putih kental masih menetes pelan di paha dalamnya — sisa sperma kedua pria itu.
“Konfrontasi?” Hani tersenyum manis tapi berbahaya. “Kamu mau marah? Atau mau merasakan apa yang mereka rasakan sepanjang malam?”
Sebelum aku bisa mundur, Hani mendorong dadaku hingga aku terduduk di tepi tempat tidur tua. Dengan cepat dia melucuti celana dalamnya sendiri, melemparnya ke wajahku. Bau amis dan manis memeknya yang sudah dijamah berulang kali langsung memenuhi hidungku. Hani naik ke tempat tidur, kedua kakinya mengapit kepalaku, lalu menurunkan tubuhnya perlahan ke wajahku.
“Rasakan, Di…” bisiknya serak.
Memeknya yang panas, bengkak, dan licin langsung menempel sempurna di mulut dan hidungku. Hani menggeseknya pelan dulu, maju mundur, membiarkan bibir vagina yang masih penuh sisa sperma orang lain mengolesi wajahku. Cairan hangat dan kental itu menetes ke lidahku saat aku tanpa sadar membuka mulut. Rasanya asin, manis, dan penuh dosa.
“Ahh… ya, seperti itu…” erang Hani. Pinggulnya mulai bergerak lebih kuat, menggesek memeknya ke wajahku dengan ritme haus. Klitorisnya yang membengkak bergesekan di hidungku, sementara bibir vaginanya menekan mulutku, memaksa lidahku masuk ke dalam lubang yang longgar dan penuh.
Aku mencoba mendorong pinggulnya, mencoba protes, tapi tanganku malah lemah. Amarahku bercampur dengan gairah yang sudah tertahan sejak malam tadi. Lidahku tanpa sadar menjilat, membersihkan sisa sperma Joko dan Pak Budi dari dinding vagina istriku. Hani mendesah keras, tangannya mencengkeram rambutku, menekan wajahku lebih dalam.
“Enak kan, Di? Memek aku sudah diisi penuh oleh mereka… kamu rasakan? Lidahmu masuk jauh sekali…” Suaranya semakin manja. Pinggulnya menggoyang lebih cepat, menggesek memeknya kasar ke wajahku. Cairan terus mengalir, membasahi pipiku, daguku, bahkan masuk ke telingaku. Aku kesulitan bernapas, tapi justru membuatku semakin terangsang. Kontolku sudah tegang maksimal di dalam celana, nyeri meminta perhatian.
Hani menaiki wajahku seperti ratu yang haus kuasa. Tubuhnya yang indah bergoyang di atasku, payudaranya yang montok bergoyang-goyang liar. Dia meremas payudaranya sendiri, menjepit putingnya sambil terus menggesek memeknya ke mulutku. “Jilat lebih dalam… isap klitku… ya, seperti itu! Kamu suami yang baik… membersihkan memek istri setelah digilir orang lain…”
Aku tak bisa menahan lagi. Lidahku bekerja lebih rakus, menjilat setiap lipatan, mengisap klitorisnya yang keras, menelan campuran cairan yang keluar deras. Hani mulai gemetar, pinggulnya menekan wajahku kuat-kuat hingga aku hampir sesak. “Aku… mau cum di wajahmu, Di… ahh!!”
Tubuhnya mengejang hebat. Memeknya menyembur cairan hangat ke mulutku, squirting kecil yang manis dan banyak. Aku menelan sebisa mungkin, sisanya membasahi seluruh wajahku. Hani bergetar lama di atas wajahku, erangannya tertahan di tenggorokan agar tak terdengar sampai ke ruang depan.
Setelah orgasmenya reda, Hani tak langsung turun. Dia masih menggesek memeknya pelan di wajahku yang basah, seolah menandai wilayahnya. “Kamu marah? Tapi lihat… kamu menjilat semuanya dengan lahap,” katanya sambil tertawa kecil, suaranya penuh kemenangan. “Malam ini… besok Natal… aku mau lebih. Kamu boleh marah, tapi kamu juga mau ini, kan Di?”
Aku terbaring lemas, wajahku lengket oleh cairan istriku dan sisa-sisa pria lain. Dada naik turun cepat. Amarah masih ada, tapi kalah telak oleh gairah yang membakar. Hani turun perlahan, membungkuk, dan mencium mulutku yang penuh rasanya sendiri. Lidahnya menjilat bibirku, membersihkan sisa yang tertinggal.
“Kita bersih-bersih dulu sebelum orang tua bangun,” bisiknya manja, tangannya turun meremas kontolku yang sudah basah di ujung. “Tapi ingat, Di… perjalanan pulang nanti, aku mungkin minta duduk di pangkuan mereka lagi.”
Dia bangkit, tubuh telanjangnya berjalan ke arah kamar mandi kecil dengan langkah pongah. Aku duduk di tepi tempat tidur, wajah basah, pikiran kacau. Konfrontasi yang kucoba justru berubah menjadi penyerahan total. Hani yang dulu malu-malu sudah lenyap. Yang tersisa adalah wanita baru yang haus, liar, dan tahu persis bagaimana mengendalikan suaminya.
Di luar, matahari mulai terbit. Natal besok akan tiba dengan damai di kampung ini, tapi di balik dinding rumah ini, badai dosa baru saja dimulai lagi. Aku menyeka wajahku dengan tangan, merasakan lengketnya cairan itu, dan tahu — aku tak akan bisa melupakan, apalagi menghentikan.
Komentar
Posting Komentar