Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 1
**Bab 1: Pindahan ke Sarang yang Tak Terduga**
Aku, Andi, seorang pria biasa berusia 32 tahun yang bekerja sebagai supervisor di sebuah perusahaan logistik di Jakarta, tak pernah menyangka hidup kami akan berubah drastis seperti ini. Istriku, Rina, adalah segalanya bagiku. Wanita cantik asal Bogor itu berusia 28 tahun, dengan kulit putih mulus seperti susu, rambut hitam panjang yang bergelombang lembut hingga pinggang, dan tubuh yang... Tuhan, tubuh yang selalu membuatku gila. Payudaranya yang montok ukuran 36D, pinggang ramping, dan bokong yang bulat sempurna selalu jadi pusat perhatianku setiap malam. Kami menikah tiga tahun lalu, dan pindah ke Jakarta karena pekerjaanku yang mengharuskan kami tinggal lebih dekat dengan kantor.
Awalnya, aku mencari apartemen murah di pinggiran, tapi biaya hidup di ibu kota ini gila. Akhirnya, dengan gaji yang pas-pasan, kami terpaksa menyewa sebuah rumah kecil di sebuah kampung kumuh di pinggiran Jakarta Utara. Daerah itu... ya, kumuh adalah kata yang tepat. Gang-gang sempit penuh genangan air, rumah-rumah semi permanen berdempetan, dan penduduknya campur aduk – buruh harian, pedagang kaki lima, hingga preman kecil yang suka berkeliaran. Bau got dan asap knalpot selalu menusuk hidung, tapi Rina, dengan senyum manisnya yang khas Bogor, bilang, "Kita sabar ya, Mas. Nanti juga kita bisa pindah ke yang lebih baik."
Hari pertama pindah, aku sudah merasa ada yang aneh. Saat kami membongkar kardus di teras depan yang sempit, aku melihat beberapa pria dari rumah sebelah melirik Rina. Mereka berdiri di pinggir gang, pura-pura merokok, tapi mata mereka jelas-jelas menelanjangi tubuh istriku yang memakai kaos ketat dan celana pendek rumah. Rina tak sadar, dia sibuk menyeka keringat di lehernya yang jenjang, membuat payudaranya naik-turun pelan. Aku merasa campur aduk – cemburu, tapi juga ada gelenyar aneh di selangkanganku.
Malam itu, setelah mandi, Rina keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk yang melilit longgar di tubuhnya. "Mas, airnya dingin banget di sini," katanya sambil tertawa. Aku menariknya ke pangkuan, tanganku langsung merayap ke bawah handuk, meremas bokongnya yang kenyal. "Kamu terlalu cantik, Rin. Di kampung ini, mereka pasti pada ngiler liat kamu." Kami bercinta dengan liar di kasur yang baru, suaranya yang mendesah memenuhi ruangan tipis. Aku tak tahu saat itu, dinding rumah kami yang tipis dan jendela yang tak ada gordyn tebal membuat segalanya terdengar dan terlihat.
Keesokan paginya, saat aku bersiap ke kantor, aku melihat sekelompok anak-anak kampung – mungkin usia 12 sampai 16 tahun – bermain di gang depan. Mereka berhenti bermain bola saat Rina keluar untuk menyapu teras. Istriku memakai daster tipis yang biasa dipakai ibu-ibu rumah tangga, tanpa bra di bawahnya karena cuaca panas. Putingnya samar-samar terlihat menonjol saat angin meniup kain. Anak-anak itu saling sikut, mata mereka melebar, bisik-bisik sambil menatap tanpa malu. Salah satu yang paling besar, mungkin 15 tahun, bahkan mengeluarkan ponsel murahannya seolah mau foto.
Aku merasa jantungku berdegup kencang. Sebagai suami, aku seharusnya marah, keluar dan mengusir mereka. Tapi ada sesuatu yang aneh dalam diriku – kegembiraan terlarang. Melihat istriku yang suci dan cantik itu menjadi objek pandangan lapar dari lelaki-lelaki kasar dan bahkan anak-anak kampung membuat darahku mendidih dengan cara yang tak biasa. Aku berpura-pura tak melihat dan berangkat kerja, tapi sepanjang hari di kantor, pikiranku penuh dengan bayangan itu.
Pulang sore hari, aku menemukan Rina sedang menjemur pakaian di belakang rumah. Pagar belakang kami rendah, dan dari gang sempit di belakang, beberapa pria dewasa sedang berdiri di sana, merokok sambil mengobrol. Mereka tak berusaha menyembunyikan tatapan mereka. Rina membungkuk untuk mengambil keranjang, daster-nya naik hingga memperlihatkan paha mulusnya yang putih. Aku berdiri di pintu belakang, diam-diam mengamati. Salah satu pria, bertubuh kekar dengan kaos kumal, berbisik keras, "Wah, mbaknya baru ya? Montok banget, bro."
Rina mendengar, wajahnya merah, tapi dia hanya buru-buru masuk. Malamnya, saat kami berbaring, aku bertanya, "Kamu ngerasa ada yang aneh nggak hari ini?" Dia menggeleng, tapi suaranya ragu. "Mereka... suka ngeliatin aku, Mas. Tapi mungkin biasa aja di sini." Aku tak bilang apa-apa, malah tanganku merayap ke pahanya, membuka kakinya lebar. Aku membayangkan mata-mata itu sedang mengintip dari celah dinding atau jendela, melihat istriku telanjang di bawahku.
Aku menjepit putingnya yang mengeras, menggigit lehernya sambil berbisik, "Biarkan mereka liat, Rin. Kamu milikku, tapi biar mereka tahu betapa hot-nya istriku." Rina mengerang, tubuhnya basah lebih cepat dari biasanya. Kami bercinta dengan posisi doggy, aku menabrak bokongnya keras-keras, suara plok-plok memenuhi ruangan. Aku sengaja tak menutup jendela sepenuhnya. Di luar, bayangan samar terlihat – mungkin salah satu tetangga atau anak kampung yang nekat mengintip.
Keesokan harinya, intensitasnya meningkat. Saat Rina mencuci piring di dapur yang jendelanya menghadap gang, aku pulang lebih awal dan bersembunyi di kamar, mengamati dari balik tirai. Seorang pria paruh baya dari rumah sebelah berdiri di dekat pagar, tangannya di saku celana, jelas-jelas mengocok sambil menatap Rina yang membungkuk. Anak-anak kampung itu juga ada, tiga orang, berpura-pura bermain tapi mata mereka tertuju ke jendela. Rina tak sadar, atau mungkin mulai sadar tapi tak mau ribut.
Aku merasa ereksiku keras sekali. Dari sudut pandangku sebagai suami, ini seperti mimpi buruk yang erotis. Rina-ku, gadis polos dari Bogor yang dulu hanya aku yang boleh sentuh, sekarang menjadi tontonan gratis bagi para lelaki haus di kampung kumuh ini. Aku keluar kamar, mendekati Rina dari belakang, tanganku langsung meremas payudaranya dari balik daster. "Mereka lagi ngintip kamu, Sayang," bisikku di telinganya. Rina tersentak, tapi tak menolak saat jariku menemukan klitorisnya yang sudah basah.
"Kamu suka ya, Mas?" tanyanya dengan suara gemetar. Aku mengangguk, menurunkan celananya dan memasukinya dari belakang sambil berdiri di dapur. Aku sengaja pelan, agar bayangan di luar bisa melihat gerakan kami. Rina mendesah pelan, payudaranya bergoyang setiap doronganku. Aku bayangkan anak-anak itu sedang mengintip, tangan mereka sendiri di dalam celana, belajar bagaimana tubuh wanita dewasa yang sempurna digenjot suaminya.
Malam itu, setelah klimaks bersama yang hebat, Rina tertidur lelap di pelukanku. Aku tak bisa tidur, pikiranku berputar. Besok, aku akan sengaja meninggalkan jendela lebih terbuka. Aku akan biarkan mereka semakin berani. Karena entah kenapa, melihat Rina diintip, diinginkan oleh banyak mata – termasuk yang masih muda di kampung ini – membuat hasratku sebagai suami meledak-ledak. Ini dunia baru kami di Jakarta, dan aku mulai menikmati sisi gelapnya.
Komentar
Posting Komentar