Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 11
**Bab 11: Kerumunan di Dapur dan Terong yang Tak Berhenti**
Aku, Andi, lagi-lagi duduk di kursi kantor dengan pintu terkunci rapat. Hari ini aku bahkan tak berpura-pura bekerja. Laptop terbuka tapi layarnya hanya menampilkan aplikasi CCTV. Empat sudut kamera semuanya aktif, audio jernih. Jantungku berdegup kencang sejak pagi. Setelah melihat rekaman kemarin di mana Pak Ujang benar-benar memasuki Rina di dapur, hasrat gelapku sudah tak terbendung. Rina-ku, istri cantik asal Bogor yang dulu polos itu, kini sedang berubah menjadi mainan kampung kumuh ini. Dan aku hanya bisa menonton dari jauh, tanganku gemetar memegang ponsel.
Pagi itu lebih panas dari biasanya. Jam sembilan tepat, Pak Ujang datang dengan motornya. Kali ini dia tak repot-repot melayani ibu-ibu lain yang kebetulan tak ada. Langsung turun, mengambil keranjang sayur berisi terong-terong besar, dan melangkah masuk ke teras tanpa mengetuk. Rina keluar dengan daster tipis warna kuning yang sangat pendek dan longgar, tanpa celana dalam di bawahnya — aku bisa lihat jelas dari kamera luar. Payudaranya bergoyang bebas, putingnya sudah menonjol karena angin.
Rina berdiri di pintu, matanya melebar tapi tak ada kata penolakan. “Bapak… lagi?” hanya itu yang keluar dari mulutnya dengan suara lembut. Pak Ujang tersenyum mesum, langsung mendorong pintu hingga tertutup di belakangnya dan menggandeng tangan Rina ke dalam rumah, menuju dapur. “Hari ini Bapak nggak mau lama-lama di luar, Mbak. Terlalu banyak mata. Di dapur lebih enak, lebih privat.”
Di dapur, kamera menangkap semuanya dengan detail tajam. Pak Ujang meletakkan keranjang di meja, lalu langsung menarik Rina ke pelukannya dari belakang. Tubuh kekarnya menempel rapat, tangan kasarnya naik ke depan meremas kedua payudara Rina dengan rakus. “Payudara Mbak ini yang Bapak kangenin semalaman. Besar, berat, empuk.” Dia meremas kuat, memilin putingnya hingga Rina mendesah panjang, tubuhnya meleleh.
Rina tak mengatakan apa-apa, hanya menggigit bibir dan membiarkan. Pak Ujang menarik daster kuning itu ke atas hingga pinggang, memperlihatkan bokong montok putih mulus Rina yang telanjang. Jarinya langsung menyelinap ke celah vagina yang sudah basah. “Basah banget lagi, Mbak. Kemarin sperma Bapak masih di dalam ya?” Dua jarinya masuk mudah, mengaduk-aduk sambil ibu jarinya menggosok klitoris. Rina mengerang, pinggulnya bergoyang mengikuti.
Pak Ujang mengeluarkan terong paling besar hari ini — panjang, tebal, berurat jelas. Dia menggesekkannya di paha Rina, lalu menekankan ujungnya ke bibir vagina. “Hari ini kita coba yang ini dulu sebelum yang asli.” Dengan pelan tapi pasti, dia mendorong terong itu masuk. Rina melengkungkan tubuh, mengerang keras, “Ahh… Bapak… besar sekali…” Terong itu masuk hampir setengah, memenuhi vagina Rina. Pak Ujang memutar dan mendorong keluar masuk, menikmati pemandangan bokong Rina yang bergoyang.
Tak lama, dia menarik terong keluar, lalu mengeluarkan batangnya sendiri yang sudah keras tegak. Dengan satu hantaman kuat, Pak Ujang memasuki Rina dari belakang. “Enak… vagina Mbak panas dan licin…” erangnya. Dia menggenjot dengan ritme ganas, tangannya tak lepas dari payudara Rina, menampar bokongnya sesekali hingga merah. Suara plok-plok basah memenuhi dapur, bercampur desahan Rina yang semakin liar, “Bapak… ah… dalam… enak…”
Mereka berganti posisi. Pak Ujang mendudukkan Rina di meja dapur, membuka kakinya lebar, lalu memasukinya lagi sambil berdiri. Payudaranya bergoyang hebat setiap hantaman. Pak Ujang menunduk, mengisap putingnya rakus, menggigit pelan sambil pinggulnya terus menghantam. Rina memeluk lehernya, mendesah di telinga pria itu, tubuhnya bergetar mendekati klimaks.
Saat itulah anak-anak kampung muncul. Budi dan kelompoknya yang sudah sepuluh orang, penasaran karena gerobak sayur lagi-lagi ditinggal. Mereka menyelinap ke gang samping dan langsung mengintip dari jendela dapur yang terbuka sedikit. “Gila! Pak Ujang lagi ngentot Mbak Rina di meja!” bisik Budi excited. Mereka berdesak-desakan, mata melebar, ponsel di tangan merekam diam-diam.
Dari kamera, aku bisa lihat jelas wajah-wajah mereka yang penuh nafsu. Rina sedang dibuka kakinya lebar, batang Pak Ujang keluar masuk cepat di vaginanya yang basah. Payudaranya digoyang-goyang, putingnya basah liur Pak Ujang. Anak-anak mulai berani. Dua orang nekat membuka pintu belakang pelan dan masuk ke dapur tanpa suara.
Rina tersentak saat melihat mereka, tapi Pak Ujang tak berhenti menggenjot. “Biarkan saja, Mbak. Mereka juga mau belajar,” katanya sambil tertawa serak. Anak-anak langsung mendekat. Budi berdiri di samping, tangannya langsung meremas payudara kanan Rina. Dodi di sisi lain mengisap puting kiri. Yang lain menyentuh paha Rina, mengelus kulit putihnya, bahkan ada yang berani menyentuh klitoris Rina saat batang Pak Ujang keluar masuk.
Rina mengerang semakin keras, tubuhnya dikelilingi tangan-tangan remaja yang lapar. “Dek… ahh… kalian… jangan…” tapi suaranya penuh kenikmatan. Pak Ujang terus menggenjot lebih ganas, “Lihat tuh, Mbak. Anak-anak pada ngiler. Besok mereka gantian ya?”
Anak-anak semakin berani. Satu anak mencium leher Rina, yang lain menjilat payudaranya. Budi berani memasukkan jari ke mulut Rina yang langsung mengisapnya. Suasana dapur penuh desahan, suara plok-plok, dan bisik-bisik mesum anak-anak. Rina klimaks hebat, tubuhnya kejang-kejang, cairannya menyembur membasahi batang Pak Ujang dan meja.
Pak Ujang menyusul, menyemburkan sperma panas di dalam Rina sambil mengerang. Dia menarik keluar, sperma menetes dari vagina Rina yang masih terbuka. Anak-anak langsung mendekat, mata mereka lapar melihat cairan itu. Budi berani menyentuh vagina Rina dengan jari, mengaduk sperma Pak Ujang yang keluar.
Rina duduk goyah di meja, napas tersengal, wajah merah padam tapi matanya masih berkabut nafsu. Pak Ujang tertawa puas, menepuk bokongnya. “Besok Bapak datang lebih pagi. Anak-anak juga boleh ikut masuk. Mbak Rina gula kami semua.” Dia lalu rapi-rapi dan keluar, diikuti anak-anak yang masih menyentuh Rina sebentar sebelum pergi.
Sepanjang siang, kamera menangkap Rina yang membersihkan diri dengan tangan gemetar. Dia duduk di sofa ruang tengah, kakinya terbuka, jarinya menyentuh vaginanya yang masih penuh sisa sperma sambil mendesah pelan, klimaks lagi sendirian di depan kamera.
Aku di kantor hanya menonton tanpa kata, hasratku memuncak tapi aku tahan. Malam nanti aku pulang seperti biasa, memeluk Rina sebentar, mendengar ceritanya yang singkat dengan suara lelah, lalu diam-diam memutar rekaman ini berulang-ulang di kamar mandi.
Kampung kumuh ini semakin menjadi sarang nafsu. Rina semakin tenggelam, dikelilingi Pak Ujang dan anak-anak yang semakin tak terkendali. Dan aku, suaminya, semakin dalam terjerat voyeurisme yang membuat segalanya semakin panas.
Komentar
Posting Komentar