Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 2

**Bab 2: Bola di Gang dan Tatapan yang Semakin Berani**

Aku, Andi, bangun pagi itu dengan perasaan campur aduk yang semakin kuat. Malam sebelumnya, mimpi-mimpiku dipenuhi bayangan Rina yang dikelilingi mata-mata lapar dari kampung ini. Tubuhnya yang montok, kulit putih mulusnya yang berkilau keringat, dan desahan pelan yang biasanya hanya untukku kini mulai terasa seperti milik bersama. Aku mencium kening Rina yang masih tertidur lelap, rambut hitamnya tergerai di bantal. "Kamu terlalu cantik untuk tempat seperti ini," gumamku pelan sebelum berangkat kerja.

Siang itu, aku pulang lebih awal karena rapat dibatalkan. Begitu memasuki gang sempit menuju rumah kami, aku sudah mendengar suara bola karet memantul-mantul di aspal retak. Sekelompok anak-anak kampung – lima atau enam orang, usia remaja antara 13 sampai 16 tahun – sedang bermain bola di depan teras rumah kami. Mereka berpura-pura asyik, tapi aku langsung tahu. Mata mereka sesekali melirik ke arah jendela dan pintu depan yang setengah terbuka.

Rina sedang menyapu halaman kecil depan rumah dengan daster rumah tipis yang biasa dipakainya. Kain itu menempel di tubuhnya karena udara panas Jakarta yang lembab, memperjelas lekuk payudaranya yang besar dan pinggulnya yang lebar. Dia tersenyum ramah saat melihat anak-anak itu. "Eh, main bola di sini aja, Dek? Hati-hati ya, jangan sampai kena genteng," katanya dengan suara lembut khas Bogor-nya. Aku berhenti di ujung gang, bersembunyi di balik tembok tetangga, mengamati dari kejauhan.

Di Bogor dulu, Rina memang selalu mudah akrab dengan anak-anak remaja kampung. Dia suka mengajak mereka bermain, memberi makanan kecil, atau sekadar mengobrol. Baginya, itu hal biasa. Tapi di sini, di kampung kumuh Jakarta ini, akrab itu terasa berbeda. Anak-anak itu semakin berani. Bola mereka sengaja "melenceng" ke arah teras, membuat mereka harus mendekat untuk mengambilnya. Setiap kali mendekat, mata mereka menjelajah tanpa malu – dari kaki jenjang Rina yang putih, naik ke paha yang terlihat saat daster tersingkap sedikit, sampai ke dada yang bergoyang pelan saat dia menyapu.

Salah satu anak yang paling besar, namanya mungkin Budi atau semacamnya, berhenti di depan pagar rendah. "Mbak Rina baru ya di sini? Cantik banget, Mbak. Kayak artis sinetron," katanya sambil tersenyum lebar, mata tak lepas dari lekuk tubuh istriku. Rina tertawa ringan, pipinya merona sedikit. "Ah, kamu bisa aja. Mbak biasa aja kok. Kalian pada sering main di sini ya?" Dia bahkan berhenti menyapu, bersandar di sapu, berbincang santai seolah mereka teman lama dari kampung Bogor-nya.

Aku merasa dada sesak. Cemburu yang membara, tapi di bawah itu ada gelombang panas yang aneh. Ereksiku mulai mengeras hanya dengan melihat pemandangan itu. Rina tak curiga, atau mungkin dia pura-pura tak tahu. Dia membungkuk untuk mengambil bola yang menggelinding ke kakinya, dan daster-nya naik cukup tinggi hingga hampir memperlihatkan celana dalam tipisnya. Anak-anak itu langsung diam, saling sikut, beberapa menggigit bibir. Aku bisa bayangkan apa yang ada di pikiran mereka – fantasi kasar anak remaja yang baru belajar hasrat.

Aku tak keluar dari persembunyian. Malah, aku mundur ke gang samping dan menyelinap masuk rumah dari belakang. Dari jendela kamar yang sedikit terbuka, aku mengintip sendiri. Rina kini duduk di bangku teras kecil, mengobrol lebih lama dengan mereka. Angin sesekali meniup daster-nya, membuat kain tipis itu menempel ketat di putingnya yang tanpa bra. Anak-anak itu semakin dekat, berpura-pura istirahat dari main bola, duduk di pinggir jalan sambil bertanya macam-macam – tentang Bogor, makanan kesukaan Rina, bahkan pekerjaan suaminya.

"Suami Mbak kerja di mana? Kok jarang keliatan?" tanya salah satu yang lebih kecil, mata licik. Rina tertawa lagi. "Mas Andi sibuk banget. Tapi dia baik kok." Dia berdiri untuk mengambil minum dari dalam rumah, dan saat melewati pintu, bokongnya yang bulat bergoyang menggoda. Aku melihat salah satu anak mengeluarkan ponsel, pura-pura main game tapi kameranya mengarah ke arah Rina.

Hasratku meledak. Saat Rina masuk rumah, aku langsung menyambutnya di dapur. "Mereka lagi di depan, ya?" bisikku sambil memeluknya dari belakang, tanganku langsung meremas payudaranya yang montok. Rina tersentak tapi mendesah pelan. "Iya, Mas. Anak-anaknya ramah-ramah. Mirip temen-temen di Bogor dulu. Mereka cuma main bola kok." Aku tak bilang apa yang aku lihat. Malah, aku menariknya ke kamar, meninggalkan jendela yang menghadap gang sedikit terbuka.

Aku mendorong Rina ke kasur, menelanjangi daster-nya dengan cepat. Tubuh telanjangnya yang sempurna terpapar – payudara besar dengan puting cokelat muda yang mengeras, perut rata, dan vagina yang sudah mulai basah. "Mereka mungkin masih di luar," bisikku serak sambil membuka kakinya lebar. Rina menggigit bibir, matanya berkaca-kaca campur malu dan excited. "Mas... jangan keras-keras. Nanti kedengeran."

Tapi aku sengaja. Aku menjilat klitorisnya dengan rakus, membuatnya mendesah keras. Bayanganku penuh dengan anak-anak di luar yang mungkin mendengar atau bahkan mengintip dari celah. Aku naik ke atasnya, memasuki Rina dengan satu dorongan kuat. Tubuhnya melengkung, payudaranya bergoyang liar saat aku menggenjotnya dalam-dalam. "Bayangin mereka liat kamu sekarang, Rin. Liat istriku yang cantik lagi dientot suaminya," bisikku di telinganya.

Rina mengerang lebih keras, kakinya melingkar di pinggangku. "Mas... ahh... mereka cuma anak-anak..." Tapi tubuhnya berkhianat, semakin basah dan menyambut setiap thrust-ku. Aku membalik posisinya ke doggy style, menghadap jendela. Dari sudut mataku, aku yakin melihat bayangan gerak di luar – kepala kecil yang nekat mengintip. Itu membuatku semakin ganas. Tanganku meremas bokongnya, menampar pelan hingga merah, sambil terus menusuk ritmis.

Suara plok-plok daging kami bertemu memenuhi kamar. Rina mencoba menahan desahannya dengan bantal, tapi gagal. Klimaksnya datang lebih dulu, tubuhnya kejang, vagina-nya meremas batangku kuat-kuat. Aku menyusul tak lama kemudian, menyemburkan panas di dalamnya sambil membayangkan tatapan haus anak-anak kampung itu.

Setelahnya, saat kami berbaring kelelahan, Rina bersandar di dadaku. "Mereka sering main di depan sekarang, Mas. Aku kasih mereka es teh tadi. Biar nggak nakal-nakal." Aku tersenyum dalam hati. Besok, aku tahu mereka akan semakin berani. Dan aku, sebagai suami yang semakin terjerat fantasi gelap ini, tak ingin menghentikannya.

Malam semakin larut. Suara bola masih terdengar samar dari luar, diselingi bisik-bisik anak remaja. Rina tertidur, tapi aku terjaga, pikiran penuh rencana untuk hari esok. Kampung kumuh ini mulai menjadi panggung pribadi bagi kami, dan Rina, tanpa sadar sepenuhnya, mulai memainkan perannya dengan sangat alami.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 7

Perjalanan Neraka Kenikmatan Bab 7

Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 10