Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 3

**Bab 3: Bisik-Bisik di Balik Tembok dan Sentuhan yang Tak Terlihat**

Aku, Andi, berdiri di balik tirai kamar yang tipis itu dengan napas tertahan. Hari ketiga di kampung kumuh ini terasa seperti mimpi yang semakin liar, semakin tak terkendali. Pagi itu, setelah sarapan cepat, aku sengaja tak langsung berangkat kerja. Aku bilang pada Rina ada meeting siang, tapi sebenarnya aku ingin melihat sendiri bagaimana “pertemanan” baru istriku dengan anak-anak kampung itu berkembang. Rina, dengan kepolosannya yang khas Bogor, memang selalu seperti itu — ramah, mudah tersenyum, dan suka menganggap anak remaja sebagai adik-adik kecil yang perlu diajak bermain.

Suara bola karet kembali memantul di gang depan. Kali ini bukan hanya lima orang, tapi tujuh atau delapan anak remaja, usia 13 hingga 17 tahun. Mereka sudah tak pura-pura lagi. Bola sengaja dilempar ke arah teras rumah kami berulang kali, membuat mereka harus mendekat, bahkan beberapa berani berdiri tepat di depan pagar rendah yang hanya setinggi pinggang. Rina keluar dengan daster rumah yang lebih tipis dari kemarin, motif bunga-bunga pudar yang menempel basah di kulitnya karena keringat pagi. Tanpa bra, putingnya yang kecil tapi sensitif itu jelas menonjol di balik kain katun tipis. Bokongnya yang bulat sempurna bergoyang pelan saat dia menyiram tanaman kecil di teras.

“Wah, pagi-pagi sudah ramai ya, Dek!” seru Rina dengan tawa renyahnya. Dia menyapa mereka satu per satu, bahkan mengingat nama-nama yang dia tanyakan kemarin. “Budi, Dodi, Andi kecil… eh, jangan sampai bola kalian pecahin pot Mbak ya.” Anak-anak itu tertawa, mata mereka lapar menelusuri setiap inci tubuh istriku. Budi, yang paling besar dan paling berani, mendekat sampai tangannya bisa menyentuh pagar. “Mbak Rina baik banget sih. Di kampung sini jarang ada yang secantik Mbak. Dari Bogor ya? Cerita dong, Mbak.”

Rina duduk di bangku teras, kakinya menyilang santai. Daster-nya naik sedikit, memperlihatkan paha dalam yang putih mulus. Aku mengintip dari celah tirai, tanganku tanpa sadar meremas celana kerja yang sudah mengetat. Cemburu membakar dada, tapi hasrat gelap ini lebih kuat. Melihat Rina yang dulu hanya milikku kini menjadi pusat perhatian anak-anak haus itu membuat darahku berdesir. Mereka bertanya macam-macam — tentang makanan Bogor, lagu kesukaan, bahkan bagaimana rasanya punya suami yang jarang di rumah.

Aku melihat salah satu anak yang lebih kecil, mungkin baru 14 tahun, berdiri di samping sambil menggenggam bola, tapi matanya tak berkedip menatap dada Rina yang naik-turun saat tertawa. Daster tipis itu hampir transparan saat terkena sinar matahari pagi. Puting Rina mengeras karena angin sejuk, dan anak-anak itu saling berbisik, tersenyum nakal. Rina tak curiga. Baginya, ini seperti kampung halamannya dulu, di mana dia sering bermain dengan anak-anak remaja tetangga, memberi mereka camilan, mengobrol sampai sore.

“Masuk aja deh ke teras, minum es teh dulu. Panas banget main bolanya,” kata Rina tiba-tiba. Hatiku berdegup kencang. Mereka tak menolak. Empat anak langsung naik ke teras kecil kami, duduk mengelilingi Rina yang kini berdiri untuk mengambil minuman dari dalam. Saat dia membungkuk di depan lemari es yang terlihat dari teras, daster-nya naik tinggi, hampir memperlihatkan garis celana dalam hitam tipis yang membungkus bokong montoknya. Aku mendengar bisik-bisik mereka: “Gila, Mbaknya hot banget… liat pantatnya…” “Sst, nanti kedengeran suaminya.”

Aku tak tahan. Aku menyelinap ke dapur dari belakang, memeluk Rina dari samping saat dia menuang es teh. “Mereka di teras sekarang,” bisikku serak di telinganya. Tangan kananku langsung merayap ke bawah daster, menemukan celana dalamnya yang sudah agak lembab. Rina tersentak, wajahnya merona. “Mas… mereka ada di luar. Nanti diliat.” Tapi suaranya tak menolak. Malah, pinggulnya sedikit bergoyang saat jariku menyentuh klitorisnya yang membengkak.

Aku menariknya ke sudut dapur yang masih terlihat samar dari teras jika mereka mengintip. “Biarkan mereka denger, Rin. Kamu suka kan diajak akrab sama mereka?” Aku menurunkan celana dalamnya hingga lutut, lalu memasukinya dari belakang sambil berdiri. Rina menggigit bibirnya kuat-kuat, tapi desahan kecil lolos saat batangku yang keras menusuk dalam. Aku menggenjot pelan tapi dalam, tangan kiriku meremas payudaranya dari balik daster, memilin putingnya yang keras. Suara plok-plok pelan terdengar, bercampur dengan obrolan anak-anak di teras yang pura-pura santai.

Dari celah pintu dapur, aku melihat Budi dan yang lain melirik ke arah dapur. Mereka tahu. Mereka mendengar. Rina mencoba menahan, tapi tubuhnya berkhianat. Vaginanya semakin basah, meremasku setiap dorongan. “Mas… ahh… pelan…” bisiknya. Aku malah mempercepat sedikit, membayangkan anak-anak itu sedang membayangkan tubuh Rina telanjang, membayangkan bagaimana rasanya memegang payudara besar itu, mencium leher jenjangnya.

Klimaks datang cepat bagi Rina. Tubuhnya kejang, cairan hangatnya membasahi pahaku. Aku menyusul, menyemburkan sperma panas di dalamnya sambil menekan mulutnya pelan agar tak berteriak. Kami cepat rapi, dan Rina keluar membawa nampan es teh dengan wajah masih merah. Anak-anak itu tersenyum lebar, mata mereka penuh arti. “Makasih Mbak. Mbak baik banget,” kata Budi sambil menatap dada Rina yang naik-turun karena napas masih tersengal.

Sepanjang siang, aku tak bisa fokus kerja. Pikiranku penuh dengan pemandangan itu. Pulang sore, aku menemukan Rina lagi mengobrol di teras dengan dua anak yang tersisa. Kali ini mereka lebih berani — salah satunya memegang sapu bantu Rina menyapu, tangannya sengaja menyenggol lengan Rina. Rina tertawa saja, “Kamu lucu deh, kayak adik Mbak di Bogor.”

Malamnya, setelah mandi, Rina memakai hanya kaos oversize longgar tanpa celana dalam. Aku menariknya ke kamar, jendela sengaja kubiarkan terbuka lebar sedikit. “Mereka mungkin masih nongkrong di gang,” bisikku. Rina mengangguk malu, tapi matanya berkilau. Aku membaringkannya di kasur, membuka kakinya lebar menghadap jendela. Lidahku menjilat vaginanya yang masih sensitif dari siang tadi, mengecap campuran cairan kami. Rina mendesah keras, tangannya meremas rambutku.

Aku naik, memasukinya dalam posisi missionary, pelan dulu agar bayangan di luar bisa melihat gerakan payudaranya yang bergoyang. “Bayangin mereka lagi ngintip sekarang, Rin. Liat istriku yang cantik lagi dientot,” kataku serak. Rina mengerang, kakinya melingkar di punggungku. “Mas… mereka anak kecil… tapi… ahh… enak banget…” Tubuhnya semakin liar, pinggulnya mendongak menyambut setiap hantaman.

Aku membaliknya ke cowgirl, membiarkan Rina naik turun di atas batangku. Payudaranya yang montok bergoyang liar, putingnya menari di udara. Dari jendela, aku yakin melihat gerakan bayangan — kepala anak-anak yang nekat mendekat ke jendela. Suara Rina semakin keras, desahan “Mas… dalam… lebih dalam…” memenuhi malam kampung yang sepi. Aku menampar bokongnya pelan, meremasnya kuat, membayangkan tangan-tangan kasar anak kampung itu yang ingin menyentuh.

Klimaks kami datang hampir bersamaan, hebat dan panjang. Rina ambruk di dadaku, tubuhnya berkeringat. “Mereka… semakin berani ya, Mas,” katanya pelan, suara lelah tapi ada nada aneh — campur malu dan sesuatu yang lebih. Aku mengelus rambutnya. “Biarkan saja. Kamu tetap milikku. Tapi aku suka liat kamu begini… diinginkan banyak orang.”

Malam itu, aku tak bisa tidur lama. Suara bisik-bisik samar dari gang luar terdengar — anak-anak itu pasti membahas apa yang mereka lihat. Besok, aku tahu intensitasnya akan naik lagi. Rina dengan kepolosannya dari Bogor justru menjadi magnet di kampung kumuh ini. Dan aku, suaminya, semakin terjerat dalam fantasi gelap yang membuat hubungan kami semakin panas, semakin basah, semakin tak terkendali.

Aku mencium bahu Rina yang telanjang, tanganku merayap lagi ke antara pahanya yang masih lengket. Malam ini belum selesai. Dan cerita kami di Jakarta baru saja dimulai.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 7

Perjalanan Neraka Kenikmatan Bab 7

Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 10