Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 4
**Bab 4: Tukang Sayur dari Bogor dan Godaan yang Manis**
Aku, Andi, terbangun dengan tubuh masih lengket keringat dari malam penuh gairah bersama Rina. Desahan istrinya yang semakin lantang kemarin malam masih bergema di kepalaku, bercampur bayangan anak-anak kampung yang mengintip dari balik jendela. Kampung kumuh ini seperti menyulut sesuatu yang gelap di dalam diriku — cemburu yang membakar, tapi hasrat yang jauh lebih panas. Rina masih tertidur pulas di sampingku, tubuh telanjangnya yang sempurna terpapar selimut tipis. Payudaranya yang montok naik-turun pelan, puting cokelat mudanya masih agak merah bekas gigitanku semalam. Aku mencium keningnya pelan sebelum bangun, sudah merencanakan untuk pulang lebih awal lagi hari ini. Aku ingin melihat bagaimana “keakraban” Rina dengan lingkungan baru ini terus berkembang.
Pagi itu, sekitar jam sembilan, suara klakson khas tukang sayur keliling terdengar nyaring di gang sempit. “Sayur… sayur segar… kangkung, bayam, terong…!” teriak suaranya yang khas orang Sunda. Rina, yang baru selesai mandi dan masih memakai daster rumah tipis berwarna kuning muda tanpa bra, langsung bersemangat. “Mas, aku beli sayur dulu ya. Biar hemat,” katanya sambil tersenyum manis, rambut hitam panjangnya masih basah menempel di punggung. Aku mengangguk dari dalam kamar, tapi begitu dia keluar, aku cepat menyelinap ke jendela depan, mengintip dari balik tirai seperti detektif mesum.
Tukang sayur itu turun dari sepeda motornya yang penuh keranjang. Pria paruh baya, mungkin 45 tahun, bertubuh kekar dengan kulit sawo matang khas pekerja lapangan. Rambutnya agak gondrong dan berantakan, tapi senyumnya lebar saat melihat Rina mendekat. “Wah, mbaknya baru ya di sini? Sayur hari ini fresh banget loh!” katanya ramah. Rina mendekat ke keranjang, membungkuk sedikit untuk memilih sayuran. Daster tipisnya langsung menempel ketat di tubuhnya karena gerakan itu, memperjelas lekuk payudaranya yang besar dan pinggul lebarnya. Aku melihat tukang sayur itu langsung melirik lama, matanya melebar sejenak.
“Eh, suaranya kok familiar? Bapak orang Bogor ya?” tanya Rina tiba-tiba, suaranya ceria seperti bertemu saudara. Pria itu tertawa keras. “Iya nih, Mbak! Asli Citeureup. Mbaknya juga? Wah, seneng banget ketemu orang kampung halaman di sini.” Mereka langsung akrab. Rina tertawa renyah, bercerita tentang kampungnya dulu, makanan kesukaan, bahkan pasar tradisional yang sama. Tukang sayur itu — namanya Pak Ujang — balas dengan candaan khas Sunda yang ringan tapi cepat berubah arah.
“Wah, Mbak Rina cantik banget sih. Kayak bidadari Bogor turun ke Jakarta. Suami Mbak pasti bangga punya istri secantik ini,” kata Pak Ujang sambil memilihkan sayur untuk Rina. Matanya tak lepas dari dada Rina yang bergoyang pelan saat dia tertawa. Rina pipinya merona, tapi dia tak marah. “Ah, Bapak bisa aja. Cuma biasa aja kok.” Pak Ujang mendekat lebih, pura-pura menunjukkan terong segar. “Ini terongnya montok-montok kayak… eh, maaf ya Mbak, tapi beneran mirip bentuknya sama yang enak-enak.” Candaannya langsung mengarah ke godaan, suaranya rendah dengan nada nakal.
Rina tertawa lagi, tapi kali ini agak malu-malu. “Bapak genit deh. Di Bogor tukang sayurnya juga suka begitu ya?” Pak Ujang mengedipkan mata. “Cuma kalau yang secantik Mbak aja. Kalau Mbak sering beli di sini, Bapak kasih bonus spesial. Sayur gratis, atau… yang lain juga boleh.” Tangannya sengaja menyentuh tangan Rina saat menyerahkan plastik sayur, jarinya mengelus pelan punggung tangan istriku. Dari persembunyianku, aku merasa ereksiku langsung mengeras. Melihat pria tua kasar dari Bogor ini berani menggoda Rina secara terang-terangan di depan rumah kami, sementara anak-anak kampung mulai berkumpul di ujung gang untuk “nonton”, membuat darahku mendidih campur birahi.
Anak-anak itu — Budi dan kelompoknya — sudah berpura-pura main bola lagi di dekat situ, tapi mata mereka tertuju ke Rina dan Pak Ujang. Rina membungkuk lebih dalam untuk memilih kangkung, daster-nya naik hingga batas paha, memperlihatkan celana dalam tipis berwarna putih yang sudah agak basah di garis belakang. Pak Ujang terang-terangan menatap, lalu berbisik cukup keras, “Mbak, pantatnya montok banget. Suami Mbak pasti tiap malam bahagia ya. Kalau butuh sayur ekstra atau… pijit khas Bogor, Bapak siap anytime.”
Rina tersipu, tapi dia tak langsung menjauh. “Bapak ini… sudah tua tapi genitnya minta ampun. Tapi makasih sayurnya, gratis katanya?” Pak Ujang tertawa puas, mengisi plastik Rina dengan banyak sayur tanpa menghitung harga. “Gratis untuk mbak cantik dari Bogor. Besok datang lagi ya, biar Bapak kasih yang lebih segar.” Dia bahkan membantu mengangkat plastik ke teras, tangannya sengaja menyenggol pinggul Rina saat melewati. Rina hanya tertawa kecil, seolah candaan itu biasa di kampung halamannya dulu.
Aku tak tahan lagi. Begitu Rina masuk rumah dengan plastik sayur, aku langsung menyambutnya di dapur. “Aku liat semuanya, Rin,” bisikku serak sambil memeluknya dari belakang. Tangan kananku langsung meremas payudaranya yang montok dari balik daster, memilin putingnya yang sudah keras. Rina mendesah, tubuhnya meleleh di pelukanku. “Mas… dia cuma bercanda. Tapi… ya, dari Bogor jadi enak ngobrol. Dikasih sayur banyak gratis.”
Aku menurunkan daster-nya hingga pinggang, membiarkan payudaranya yang besar terbebas. Aku meremasnya kasar, menjepit putingnya sambil menggigit leher jenjangnya. “Dia ngeliatin kamu kayak mau telanjangin kamu di situ, Rin. Anak-anak juga pada ngintip. Kamu suka ya, digodain gitu?” Rina menggeleng pelan tapi pinggulnya bergoyang ke belakang, menggesek batangku yang sudah tegang di balik celana. “Mas… aku cuma ramah. Tapi… basah sih denger candaannya.”
Aku tak buang waktu. Aku membalik tubuh Rina, mendudukkannya di meja dapur yang menghadap jendela samping. Aku membuka kakinya lebar, menurunkan celana dalamnya, dan langsung menjilat vaginanya yang sudah banjir. Rasa manis cairannya bercampur keringat pagi membuatku semakin liar. Rina mengerang keras, tangannya meremas rambutku. “Mas… ahh… mereka mungkin masih di luar…” Aku sengaja tak menutup jendela. Suara desahannya pasti terdengar ke gang.
Aku berdiri, membuka celanaku, dan memasukinya dengan satu hantaman kuat. Tubuh Rina melengkung, payudaranya bergoyang liar di depan wajahku. Aku menggenjotnya dalam-dalam, ritmis dan keras, sambil membayangkan Pak Ujang dan anak-anak kampung mengintip dari celah pagar atau jendela. “Bayangin Pak Ujang lagi bayangin ini, Rin. Bayangin dia pengen gantikan aku ngecengin kamu,” bisikku serak. Rina mengerang lebih keras, kakinya melingkar di pinggangku. “Mas… enak… lebih keras…”
Kami berganti posisi. Aku membungkukannya di meja, doggy style menghadap jendela. Bokong montoknya yang putih bergoyang setiap hantamanku, suara plok-plok daging basah memenuhi dapur. Aku menampar bokongnya pelan hingga merah, meremasnya kuat sambil terus menusuk titik G-nya. Rina hampir menjerit kenikmatan, tubuhnya kejang-kejang klimaks pertama. Aku tak berhenti, terus menggenjot hingga klimaks keduanya datang, vaginanya meremas batangku kuat-kuat.
Aku menyemburkan sperma panas di dalamnya sambil mendekap tubuhnya dari belakang. “Kamu milikku, tapi aku suka liat kamu digodain orang lain,” bisikku di telinganya. Rina tersengal, tersenyum lemah. “Mas… aneh ya kita. Tapi… enak.”
Sepanjang siang, Rina memasak sayur gratis dari Pak Ujang dengan wajah masih merona. Aku tahu besok tukang sayur itu akan datang lagi, dan anak-anak kampung semakin berani. Kampung kumuh ini semakin menjadi panggung erotis bagi kami. Malam harinya, saat Rina tertidur, aku tersenyum dalam gelap. Cerita kami baru saja semakin panas.
Komentar
Posting Komentar