Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 5
**Bab 5: Godaan Pak Ujang yang Semakin Panas dan Jahilnya Anak Kampung**
Aku, Andi, duduk di kursi kantor dengan pikiran yang tak bisa tenang sepanjang pagi. Gambaran tubuh Rina yang digoda Pak Ujang kemarin terus berputar di kepalaku seperti film panas yang tak ada habisnya. Payudaranya yang montok bergoyang saat tertawa, bokong bulatnya yang hampir terpapar saat membungkuk, dan senyum malu-malu Rina yang justru membuat segalanya semakin menggoda. Aku pulang lebih awal lagi hari ini, tak peduli bos bertanya. Kampung kumuh ini telah mengubahku menjadi suami yang haus akan pemandangan terlarang: istriku yang cantik dari Bogor menjadi pusat nafsu para lelaki di sini, termasuk anak-anak remaja yang mulai berani.
Begitu memasuki gang, suara klakson tukang sayur sudah terdengar. Pak Ujang datang lebih pagi dari biasanya. Rina sudah berdiri di depan rumah dengan daster rumah tipis berwarna merah muda yang sangat pendek, bagian bawahnya hanya sebatas paha. Rambut hitamnya diikat ponytail sederhana, membuat leher jenjangnya terlihat semakin menggoda. Aku bersembunyi di balik tembok tetangga, mengamati seperti biasa.
“Wah, Mbak Rina! Hari ini semakin cantik saja. Daster merahnya bikin Bapak pengen langsung gigit,” kata Pak Ujang langsung dengan tawa besar, matanya menelanjangi tubuh Rina tanpa malu. Dia turun dari motor, mendekat sampai jaraknya hanya satu langkah. Rina tertawa ringan, pipinya merona, tapi tak mundur. “Bapak ini, semakin genit saja. Kemarin sudah kasih sayur gratis, hari ini mau apa lagi?”
Pak Ujang mendekat lebih lagi, tangannya pura-pura merapikan keranjang sayur tapi jelas sengaja menyenggol lengan Rina. “Mau apa lagi? Mau Mbak Rina yang montok ini lah. Di Bogor dulu, cewek secantik Mbak biasanya suka dikasih ‘bonus’ spesial. Ini terongnya besar-besar, Mbak. Cocok buat… latihan malam sama suami. Tapi kalau suami nggak kuat, Bapak siap gantiin. Pijit Bogor asli, dari ujung kaki sampai ujung rambut… termasuk yang di tengah-tengah.” Candaannya sudah sangat berani, suaranya rendah dan penuh nafsu. Matanya tertuju ke payudara Rina yang tanpa bra, putingnya menonjol jelas di balik kain tipis karena angin pagi.
Rina tertawa malu, tangannya menutup dada tapi justru membuat payudaranya terdorong naik. “Bapak… sudah tua kok mesum. Tapi sayurnya bagus-bagus sih. Gratis lagi hari ini?” Pak Ujang mengangguk sambil mengedipkan mata. “Gratis dong, asal Mbak izinin Bapak pegang ini sebentar.” Dia pura-pura mengambil timun dari keranjang dan menyentuh pinggang Rina, jarinya mengelus pelan di atas daster. Rina hanya menggeleng sambil tersenyum, tapi tak menepis tangan itu langsung. “Bapak nakal. Nanti Mas Andi marah.”
Sementara itu, anak-anak kampung mulai berdatangan. Budi dan kelompoknya, kali ini lebih banyak dan lebih berani. Mereka tak lagi pura-pura main bola jauh. Mereka mendekat ke tukang sayur, berpura-pura ikut memilih sayur tapi mata mereka lapar menatap Rina. Salah satu anak, Dodi yang berusia sekitar 15 tahun, sengaja melempar bola kecil ke arah kaki Rina. “Eh Mbak, bola jatuh!” katanya sambil membungkuk cepat, tangannya sengaja menyapu paha Rina saat mengambil bola. Sentuhan itu jelas tak sengaja, jari-jarinya menggesek kulit putih mulus Rina cukup lama.
Rina tersentak kecil tapi tertawa. “Kamu ini, Dodi. Jahil ya seperti adik Mbak di Bogor.” Dia membungkuk ikut membantu, dan daster-nya naik tinggi. Bokongnya hampir terlihat utuh, celana dalam putih tipisnya ketat membungkus garis vagina yang samar. Anak-anak langsung diam, saling sikut. Budi yang paling berani maju, “Mbak Rina, punggung Mbak ada kotoran nih.” Tangannya menyentuh punggung Rina, pura-pura membersihkan, tapi turun pelan ke pinggang dan hampir ke bokong.
Pak Ujang ikut tertawa. “Lihat tuh, Mbak. Anak-anak ini sudah pada ngiler. Kalau Mbak mau, Bapak kasih sayur sebulan gratis asal boleh liat Mbak masak tanpa daster.” Candaannya semakin vulgar. Rina hanya menggeleng sambil tertawa, wajahnya merah padam tapi ada kilau aneh di matanya. “Bapak dan anak-anak ini… Mbak cuma ramah kok.”
Aku merasa napasku tersengal. Ereksiku sudah keras sekali di balik celana. Melihat istriku dikelilingi pria tua genit dan anak remaja jahil membuat hasrat gelapku meledak. Aku menyelinap masuk rumah dari belakang, menunggu Rina masuk dengan plastik sayur penuh.
Begitu pintu tertutup, aku langsung menyerbu. “Aku liat semuanya, Rin. Pak Ujang berani pegang pinggangmu. Anak-anak mulai sentuh-sentuh.” Suaraku serak penuh nafsu. Rina menggigit bibir, meletakkan plastik sayur. “Mas… mereka cuma bercanda. Tapi… aku agak… geli sendiri.” Aku menarik daster-nya kasar hingga robek sedikit di bahu, payudaranya yang besar langsung melompat keluar. Aku meremasnya kuat, menjepit putingnya sambil mencium lehernya. “Kamu basah ya? Suka digodain mereka?”
Rina mendesah, tangannya meraih batangku yang sudah tegang. “Mas… aneh. Tapi iya… basah.” Aku mendorongnya ke meja dapur lagi, membuka kakinya lebar. Celana dalamnya sudah banjir. Aku menjilatnya rakus, lidahku menari di klitoris yang membengkak sambil membayangkan tangan Pak Ujang dan anak-anak di situ. Rina mengerang keras, pinggulnya mendongak. “Mas… ahh… mereka di luar masih…”
Aku berdiri, memasukinya dengan hantaman ganas. Tubuh Rina bergoyang liar, payudaranya menari-nari di depanku. Aku menggenjotnya dalam-dalam, tanganku menampar bokongnya. “Bayangin Pak Ujang ngecengin kamu dengan terongnya. Bayangin Budi pegang payudaramu dari belakang,” bisikku. Rina semakin liar, kakinya melingkar, vaginanya meremas kuat. “Mas… enak… mereka jahil… ahh!”
Kami pindah ke sofa ruang tamu yang dekat jendela depan. Aku duduk, Rina naik ke pangkuanku dalam posisi cowgirl. Dia naik turun dengan ganas, bokong montoknya memukul paha ku setiap turun. Payudaranya bergoyang liar tepat di depan wajahku. Aku menggigit putingnya, meremasnya sambil melihat ke jendela. Bayangan anak-anak terlihat samar di luar, pasti mengintip. Suara desahan Rina yang “Mas… lebih dalam…!” pasti terdengar.
Anak-anak semakin berani. Dari celah jendela, aku melihat Budi dan Dodi mendekat, pura-pura mengambil bola tapi mata mereka menatap langsung ke arah kami. Rina tak sadar, atau mungkin sudah tak peduli. Dia klimaks hebat, tubuhnya kejang, cairannya membasahi pahaku. Aku menyusul, menyemburkan panas dalam-dalam sambil mendekapnya erat.
Setelahnya, Rina ambruk di pelukanku, napasnya tersengal. “Mas… mereka semakin jahil. Pak Ujang juga. Besok… aku takut tapi… penasaran.” Aku mengelus rambutnya, tersenyum gelap. “Biarkan saja, Sayang. Kamu tetap istriku. Tapi aku suka lihat kamu begini. Besok aku mau lihat lebih banyak lagi.”
Malam itu, suara bola dan bisik-bisik anak kampung terdengar lebih dekat. Pak Ujang pasti akan datang lagi besok dengan candaan yang lebih mesum. Anak-anak dengan jahilnya akan semakin berani menyentuh. Dan aku, suami yang terjerat fantasi ini, semakin ingin melihat Rina larut dalam godaan kampung kumuh Jakarta ini.
Rina tertidur di pelukanku, tubuhnya masih lengket cairan kami. Tapi pikiranku sudah melayang ke esok pagi, di mana panggung erotis kami akan semakin panas.
Komentar
Posting Komentar